BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Danau Sunyi


__ADS_3


Bo Li berjalan menembus ke dalam hutan yang dipenuhi pepohonan nan rindang.


Hutan itu tampak tenang dengan hamparan air yang menggenang disekitarnya, Bo Li terus memasuki area hutan yang merupakan tempat danau sunyi berada.


Bo Li meminta ijin kepada Ivander Liam untuk pergi bertamasya selama dua hari di Helsinki beralasan hendak jalan-jalan ke hutan yang ada di Helsinki, selama Ivander Liam masih sibuk mengurus bisnisnya, Bo Li ingin menghabiskan waktunya dengan berekreasi.


Masih terngiang percakapan di kamar hotel semalam dengan Ivander Liam saat mereka menghabiskan waktu malam hari mereka.


Kamar Hotel GLO Kluvii Helsinki...


"Kamu akan pergi ke hutan yang ada di Helsinki ini, apakah tidak ada tempat yang lainnya yang lebih menarik ?", ucap Ivander Liam kala itu.


"Tidak ada tempat semenarik hutan-hutan yang ditumbuhi pohon hijau yang alami, dan aku sangat suka tempat seperti itu", sahut Bo Li.


"Bukankah mall atau salon lebih tampak menarik dari hutan, sayangku ? Coba kamu pikirkan kembali niatmu itu !", kata Ivander Liam.


"Aku sudah bosan pergi mengunjungi tempat-tempat itu dan aku ingin mencoba suasana baru untuk rekreasi", sahut Bo Li.


"Aku harus bagaimana untuk menjawabnya sedangkan aku tidak ingin kamu pergi ke hutan, sayangku", kata Ivander Liam.


"Tolonglah ! Aku mohon sekali ini saja, kamu ijinkan aku pergi kesana ! Hanya kali ini kesempatanku untuk liburan ke hutan dan aku ingin melihat danau langka yang ada di media sosial itu", ucap Bo Li.


"Danau langka ?", tanya Ivander Liam.


"Benar, aku melihat berita yang ada di media sosial itu tentang sebuah danau langka di dalam hutan Helsinki", sahut Bo Li.


"Apa tidak ada tempat lain selain hutan !?", kata Ivander Liam.


"Aku mohon..., tolonglah, ijinkan aku sayangku...", bujuk rayu Bo Li.


"Apa !? Sayang ?", sahut Ivander Liam mencoba menggoda Bo Li. "Coba ulangi lagi, kata sayang itu lagi !", sambungnya.


"Sayang", ucap Bo Li.


"Coba ulangi lagi ! Dengan penuh perasaan !", kata Ivander Liam.


"Ssssayangku...", ulang Bo Li mendesah lembut di telinga Ivander Liam.


Ivander Liam langsung tercekat membisu sambil memandangi Bo Li yang ada dipelukannya.


Pria berambut pirang itu lalu memadamkan lampu di ruangan kamar tidur hotel tanpa banyak bicara.


Di hutan Helsinki...


Bo Li menghentikan langkah kakinya saat dia mengingat pembicaraan antara dirinya dengan Ivander Liam malam itu.


"Akh !", pekik Bo Li sambil memegangi topi dikepalanya. "Seharusnya aku tidak mengucapkan kata seperti itu dan itu sungguh memalukan sekali !", sambungnya.


Wajah Bo Li berubah merah padam ketika mengenang kejadian malam itu.


"Ada apa Bo Li ?", tanya peri Dryada yang muncul disamping Bo Li.


Peri kecil daun hijau terbang dengan sayap kelap-kelipnya lalu mengitari Bo Li yang duduk berjongkok.


"Tidak ! Tidak apa-apa !", sahut Bo Li.


Bo Li menggelengkan kepalanya cepat sambil memegangi topi.


"Lalu kenapa kamu seperti itu ?", tanya peri Dryada.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya merasa kepanasan saja", jawab Bo Li.


Bo Li berdiri sembari memperbaiki letak topinya lalu melangkah kembali.


"Tetapi wajahmu memerah seperti itu dan aku sangat mencemaskan mu", kata peri Dryada cemas.


"Benar, aku baik-baik saja dan aku rasa karena belum terbiasa dengan suasana hutan jadi wajahku berubah merah", sahut Bo Li.


Peri Dryada terdiam dan bergerak terbang mengikuti langkah kaki Bo Li yang terus berjalan ke dalam hutan.


"Apakah kita akan mencari danau sunyi itu di hutan ini ?", tanya peri Dryada sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Dari petunjuk yang ada, letak danau sunyi itu memang berada di hutan ini dan aku harus segera mendapatkan selendang pelangi milik ibuku itu", sahut Bo Li.


"Hutan ini terasa menyeramkan sekali dan aku merasa tidak nyaman disini, Bo Li", ucap peri Dryada.


"Bertahanlah, peri !", sahut Bo Li.


Bo Li terus melangkahkan kakinya dengan langkah cepat memasuki area hutan paling dalam.


Terlihat kedua sayap peri daun hijau yang bercahaya kelip-kelip menerangi jalan mereka saat berada di dalam hutan.


"Bukankah kamu adalah peri hutan dan sudah terbiasa dengan kehidupan hutan lalu kenapa kamu tidak suka dengan hutan ini, peri !?", kata Bo Li.


"Bukan karena aku tidak suka tetapi aku merasa hutan ini menyimpan misteri", sahut peri Dryada.


"Aku tahu karena kamu hanya terbiasa dengan habitat hutan para peri dan tidak terbiasa dengan hutan yang ada di dunia manusia", sahut Bo Li.


"Mungkin...", jawab peri Dryada pelan.


Terdengar suara alunan musik dari arah semak-semak hutan yang lebat dan hijau.


Bo Li mempercepat langkah kakinya menuju datangnya suara alunan musik itu sedangkan peri kecil daun hijau langsung duduk di atas pundak Bo Li.


"Aku tidak tahu pastinya dan lebih baik kita mendekat untuk melihatnya", jawab Bo Li sambil berlari cepat.


Bo Li mempercepat larinya menuju ke arah balik semak-semak hutan dan mengintip.


Sebuah danau terhampar di area hutan dengan seorang pria bertopi caping duduk di tengah-tengah danau.


Pria itu tengah memainkan sebuah alat musik erhu yang suaranya terdengar indah.


"Apakah itu yang disebut danau sunyi ?", bisik peri Dryada dari atas pundak Bo Li.


"Mungkin saja, itu danau sunyi yang aku cari dan benar tentang kabar bahwa danau sunyi itu sangat langka dan misterius bahkan keramat", sahut Bo Li.


"Kita akan ke danau sunyi itu atau kita tunggu orang aneh itu pergi dari danau, Bo Li", kata peri Dryada.


"Kita lihat perkembangannya, apakah orang itu akan pergi dari danau atau memang dia adalah penunggu danau itu", sahut Bo Li.


"KLIK... KLIK... KLIK..."


Suara kecil terdengar kembali dari arah peri Dryada.


"Apakah kamu takut, peri ?", tanya Bo Li seraya menoleh ke arah peri Dryada yang duduk di pundaknya.


"KLIK... KLIK... KLIK..."


"Aku tidak takut hanya sedikit cemas...", sahut peri Dryada.


Bo Li tertawa pelan melihat tubuh peri Dryada yang bergetar hebat terlihat kedua kakinya yang mungil dan mengenakan sepatu dari daun hijau tampak gemetaran.

__ADS_1


"Tenanglah, selama kita tidak membuat masalah dengan orang itu maka kita akan baik-baik saja", kata Bo Li.


"Tapi..., suasana di danau ini benar-benar sangat sunyi dan aku tidak dapat merasa tenang, Bo Li", sahut peri Dryada.


"Kita temui orang bertopi caping itu sekarang, peri", kata Bo Li.


Bo Li lalu beranjak berdiri dan terus melangkah cepat menuju ke arah danau yang ada dihadapan mereka.


Perempuan cantik yang tidak pernah lupa membawa senjata api SVLK-14S Sumraknya itu lalu berhenti tepat di depan danau.


Seorang pria bertopi caping terlihat tertunduk dalam seraya memainkan alat musik erhunya yang mengalun merdu.


"Selamat pagi !", sapa Bo Li kepada pria bertopi caping itu.


Pria yang mengenakan topi caping dikepalanya lalu menghentikan permainan alat musik erhunya dan terdiam.


Suasana danau berubah menjadi sunyi dan sangat menegangkan.


Bo Li lalu mengulangi ucapannya kepada pria bertopi caping yang tengah duduk melayang di atas danau.


"Bolehkah aku bertanya padamu mengenai danau sunyi serta selendang pelangi ? Apakah kamu tahu hal itu ?", tanya Bo Li.


Pria bertopi caping itu tidak menjawab pertanyaan Bo Li dan dia kembali memainkan alat musik erhunya.


Terdengar suara alunan musik yang merdu dari alat musik erhu yang dimainkan oleh pria itu.


Tiba-tiba semburan air keluar dari dalam danau ketika musik mengalun dari alat musik erhu milik pria bercaping dan semburan air itu langsung berubah menjadi serpihan es tajam yang mengarah ke Bo Li.


"Ya Tuhanku...", ucap Bo Li yang langsung menyadari bahaya datang ke arahnya.


Bo Li dengan sigap melambung tinggi menghindari semburan air yang berubah menjadi serpihan es tajam.


Dia melirik sekilas ke arah datangnya serpihan es itu lalu mengeluarkan senjata revolvernya.


Bo Li membidik secara akurat kemudian melesakkan peluru Amethyst ungunya ke arah serpihan-serpihan es yang berhamburan ke arahnya yang bergerak sangat cepat.


DOR... DOR... DOR...


Suara pistol revolver miliknya terdengar meletus berulangkali. Dan serpihan-serpihan es tajam langsung berubah mencair sebelum mengenai tubuhnya.


"Pria itu menyerangku !?'', bisik Bo Li kepada peri Dryada.


"Apakah dia jahat ?", tanya peri kecil daun hijau.


"Entahlah, aku tidak tahu, apakah pria bercaping itu merupakan lawan atau bukan, peri !?", sahut Bo Li.


Bo Li memasukan peluru Amethyst ungunya ke dalam tabung silinder pistol revolver miliknya kemudian bergerak cepat mendekati pria bercaping.


Ketika Bo Li mendekat pria bertopi caping, tiba-tiba waktu berhenti bergerak.


Seketika itu juga, tubuh Bo Li langsung berhenti mematung dan terdiam, perempuan cantik itu tidak dapat menggerakkan tubuhnya dan hanya mampu menatap ke arah pria bercaping dihadapannya dengan menggerakkan kedua bola matanya.


Tidak sampai hitungan detik, tubuh Bo Li terhempas jauh dan terjatuh ke tanah.


BRUK...


Bo Li terbaring diam tanpa mampu menggerakkan tubuhnya.


Tubuh Bo Li terasa kaku dan nyeri ketika orang di atas danau itu menggerakkan alat musik erhunya dengan sangat cepat.


"Apa yang sedang terjadi padaku ? Tubuhku tidak dapat bergerak sama sekali !?"

__ADS_1


Bo Li bergumam pelan dalam hatinya dan berusaha menggerakkan kedua tangannya yang kaku.


Terlihat pria bertopi caping itu terus menerus memainkan alat musik erhunya yang terdengar semakin keras bunyinya.


__ADS_2