
Sebuah mobil mewah sejenis Rolls-Royce warna hitam metalik yang mereka naiki, membawa Bo Li dan Ivander Liam yang ada di dalam mobil menjauh pergi meninggalkan rumah beraksitektur Napoleon tersebut.
Mobil melaju cepat beriringan dengan beberapa mobil pengawal pribadi Ivander Liam, melewati jalanan landai di kawasan area perumahan mewah yang sangat terkenal di Kota B-One.
Bo Li menyandarkan tubuhnya di badan kursi penumpang di dalam mobil sedan mewah dengan sedikit gugup.
Pandangannya tidak sepenuhnya tertuju pada pemandangan di luar jendela kaca mobil, pikirannya terpecah belah, hal itu dikarenakan tangan Ivander Liam tengah menggenggam tangan Bo Li erat-erat.
Tentu saja, membuat hati perempuan cantik itu berdebar-debar dengan kencangnya.
Wajahnya yang putih bersih dan cantik terlihat merona merah karena menahan rasa malu yang menghinggapi perasaannya atas perhatian yang diberikan oleh Ivander Liam kepadanya.
Bo Li berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Ivander Liam tetapi usahanya sia-sia karena pria tampan itu kembali menarik tangan Bo Li ke dalam genggamannya.
"Mmm...", gumam lembut Bo Li.
"Bisakah kamu sedikit membuka hatimu untukku, Bo Li, setidaknya buat malam ini karena aku membutuhkannya untuk aku tunjukkan kepada semua relasi bisnisku pada acara pesta nanti", kata Ivander Liam.
Bo Li yang mendengarkan kalimat tersebut dari Ivander Liam agak sedikit terkejut.
Perempuan cantik itu lalu menolehkan kepalanya ke arah pria tampan yang sedang duduk disampingnya sembari menggenggam tangannya.
"Bagaimana bisa kamu menempatkan suatu hubungan ke dalam urusan bisnis, apakah kamu sedang memanfaatkan hubungan pertunangan ini, Ivander Liam ?", tanya Bo Li.
"Tidak, aku tidak pernah memanfaatkan mu atau hubungan pertunangan ini, Bo Li", sahut Ivander Liam. "Aku bukan laki-laki yang sepicik itu, cantik."
"Tidak picik !? Tetapi barusan kamu mengatakannya kepadaku bahwa aku harus menunjukkan perasaanku sedikit saja untuk kamu tunjukkan kepada rekan bisnismu malam ini, Ivander Liam !?", kata Bo Li sedikit kesal dengan sikap pria berambut pirang itu.
"Yeah...", sahut pria tampan itu acuh seraya mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil mewahnya.
"Lihatlah, kamu hanya bersikap cuek dan menghindari ku, kamu selalu bersikap seperti itu kepadaku, Ivander Liam", kata Bo Li putus asa.
"Terus, aku harus bersikap seperti apa, haruskah aku bersikap mesra kepadamu dan apakah itu yang kamu inginkan dariku !?", sahut Ivander Liam.
"A--a--pa maksudmu dari perkataan mu itu ? Siapa yang menyuruh kamu bersikap mesra kepadaku !? Itu sikap bodoh, aku rasa !", kata Bo Li gugup.
"Bodoh ? Kamu bilang sikapku bodoh ? Astaga... Tuhanku..., tidak bisakah kamu bersikap lebih sedikit lembut seperti seorang wanita pada umumnya !?", kata Ivander Liam terperangah kaget.
"Aku memang tidak bisa bersikap lembut seperti wanita-wanita yang kamu kencani itu, dan memang aku tidak sehebat mereka yang bisa kamu andalkan, Ivander Liam !", kata Bo Li dengan jengkelnya.
"Puft !? Bhua... Ha... Ha... Ha... Ha... Kamu cemburu rupanya...!?", ucap Ivander Liam seraya tergelak tertawa.
"Cemburu ? Bisa-bisanya kamu mengatakan aku cemburu kepadamu, alasan apa yang mendasari aku harus cemburu kepadamu ?", tanya Bo Li dengan wajah cemberut.
"Ya Tuhan, nyonya muda, aku tidak mengira kalau kamu akan benar-benar menaruh hati kepadaku dan cemburu kepada wanita ghaib yang tidak pernah aku kencani itu", sahut Ivander Liam dengan kedua mata penuh air mata karena tertawa.
"Apa yang sebenarnya kamu katakan itu, aku tidak mengerti !?", kata Bo Li bertambah kesal dengan sikap Ivander Liam yang tengah menertawakannya.
"Aku tidak pernah berkencan dengan siapapun dan seumur hidupku baru satu perempuan aneh yang aku temukan dan langsung aku lamar dan bertunangan denganku, nyonya, oh, nyonya...", sahut Ivander Liam seraya mengusap keningnya.
"Jangan panggil aku nyonya ! Aku bukan nyonya tapi namaku Bo Li !", kata Bo Li sebal.
"Bukan nyonya lalu aku harus memanggil mu dengan sebutan apa, nona !? Sedangkan kamu telah bertunangan denganku, tidakkah kamu menyadarinya, Bo Li !? Kamu calon isteri ku dan calon Nyonya Ivander Liam sekarang", kata-kata pria berambut pirang membuat Bo Li tersentak kaget.
Bo Li hanya terdiam tertegun memandangi pria berwajah sangat tampan itu yang tengah duduk di sampingnya di jok belakang pada kursi penumpang di dalam mobil Rolls Royce hitam.
__ADS_1
Namun, ucapan yang dikatakan oleh Ivander Liam ada benarnya juga karena kini status Bo Li bukan lagi seorang nona dan ia tidak sendirian sekarang melainkan telah menjadi tunangan dari pria bernama Ivander Liam.
"Aku tahu itu...", gumam Bo Li pelan.
Perempuan cantik itu hanya menundukkan pandangannya dari pria berambut pirang itu dan ia tidak berani untuk menatapnya lagi.
Ivander Liam melirik ke arah Bo Li yang tengah tertunduk diam lalu dia menghela nafas pelan.
"Maaf..., jika ucapan ku membuat mu kesal, tapi aku tahu tidaklah mudah untuk bersikap berpura-pura...apalagi tanpa perasaan cinta...", ucap Ivander Liam.
"Emm, bukan, bukan seperti itu, aku tidak merasa berpura-pura atau keberatan untuk datang ke acara ini", kata Bo Li.
"Lalu...", kata Ivander Liam.
"Maksudmu, lalu... lalu seperti apa yang ingin kamu katakan, Ivander Liam.
Tiba-tiba Ivander Liam mendekatkan wajahnya ke arah Bo Li dan menatapnya lekat-lekat serta tidak memalingkan pandangannya sedikitpun dari perempuan cantik itu.
"Hmmm... Lalu... Apakah kamu benar-benar sedang jatuh cinta kepadaku... Bo Li... ?", tanya Ivander Liam.
"Ehk !? Apa...", sahut Bo Li lirih.
Bo Li memundurkan kepalanya dari Ivander Liam yang begitu dekat dengan dirinya dan hampir membuat kedua muka mereka bersentuhan.
Sayangnya sikap yang dilakukan oleh Bo Li justru membuat kepalanya terbentur kaca jendela mobil karena ia merasa salah tingkah dengan sikap Ivander Liam.
"DUK !!!", terdengar suara cukup keras saat kepala Bo Li membentur kaca jendela mobil.
"Aduh ! Sakit !", jerit kecil Bo Li seraya memegangi kepalanya.
"Maaf, aku membuatmu terkejut dan aku tidak bermaksud seperti itu, maafkan aku", ucap Ivander Liam panik.
Keduanya terdiam dan masing-masing dari mereka berdua tidak bergerak sedangkan suasana di dalam mobil yang terasa mulai dingin karena pendingin mobil berubah menjadi hangat. Dan tampak hening sekali tanpa suara yang terdengar biasanya dari keduanya.
Bo Li berusaha menarik dirinya dari pelukan Ivander Liam, tetapi pria itu langsung menahannya dan semakin mempererat dekapannya.
Ivander Liam lalu berkata kepada Bo Li dengan suara lirih.
"Tolong... Biarkan aku memelukmu seperti ini malam ini... Bo Li... Aku mohon...", ucap Ivander Liam pelan.
"I--ivander Liam...", sahut Bo Li gelagapan dan mulai gelisah.
"Bo Li...", gumam Ivander Liam.
Pria tampan itu mendekap tubuh Bo Li begitu kencangnya dan tanpa sadar ia mendaratkan ciumannya di atas kening Bo Li.
Ivander Liam juga menarik dagu perempuan cantik itu dan berusaha memaksa wajah Bo Li lebih dekat ke wajahnya.
Bo Li tersentak kaget dan tersadar dengan sangat cepat ia memalingkan mukanya dari Ivander Liam.
"Apa yang kamu lakukan Ivander Liam !? Lepaskan aku !", kata Bo Li lalu mendorong keras tubuh Ivander Liam ke belakang dan menjauh darinya.
Bo Li berusaha melepaskan pelukan pria tersebut dari dirinya tetapi Ivander Liam menarik kembali tubuh Bo Li ke dalam dekapannya.
"Bo Li... Beri aku kesempatan untuk lebih dekat denganmu...", ucap Ivander Liam setengah memohon dengan memelas.
__ADS_1
Bo Li tidak dapat berbuat banyak dengan sikap yang dilakukan oleh Ivander Liam kepadanya, dan dia hanya menerima perlakuan Ivander Liam yang memeluk tubuhnya dengan sangat erat sekali.
Pasrah, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sikap Bo Li saat ini dan kini yang Bo Li bisa lakukan sekarang adalah menerima perlakuan pria tampan itu. Tidak hanya pasrah tetapi ia tidak berkutik sama sekali dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ivander Liam kepadanya.
Keduanya kembali berpelukan di dalam mobil mewah itu dan perlahan-lahan Ivander Liam menyandarkan tubuh mereka ke jok kursi di belakang mobil Rolls Royce.
Memeluk erat tunangannya dan memperlakukan Bo Li dengan lembutnya terkadang Ivander Liam mencium kepala perempuan cantik bernama Bo Li penuh kasih sayang.
Tidak banyak kata yang terucap yang keluar dari mulut keduanya, hanya saling terdiam membisu seraya menikmati perjalanan menuju ke acara pesta malam itu.
"Ehem... Bolehkah aku bersikap lebih kepadamu dari ini, Bo Li ?", tanya Ivander Liam.
"Maksudmu...", tanya Bo Li polos sambil memandang ke arah Ivander Liam.
"Seperti ini... !?", sahut Ivander Liam lalu mencium pipi Bo Li.
Bo Li langsung melepaskan pelukannya dari Ivander Liam dan berusaha menjauh dari pria tersebut. Tetapi lagi-lagi Ivander Liam menahan tubuh Bo Li dengan kedua tangannya dan memegangi erat lengan Bo Li.
"Maafkan aku, Ivander Liam, aku tidak dapat melakukannya karena aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri kepadamu", kata Bo Li.
"Kamu tidak perlu untuk membuktikan perasaan kamu kepadaku, cukup aku yang memiliki perasaan khusus itu kepadamu, Bo Li", kata Ivander Liam.
Ivanderi Liam lalu menunjukkan cincin pertunangannya yang melingkar di jari manisnya kepada Bo Li dan mendekatkan erat kedua cincin yang mereka kenakan.
Cincin pertunangan yang dibuat secara spesial dan dipesan langsung dari luar negeri oleh Ivander Liam memiliki keunikan tertentu, apabila kedua pasang cincin itu jika saling sama-sama didekatkan maka akan saling melekat satu sama lainnya.
"Lihat, Bo Li ! Kita sudah bertunangan dan sebentar lagi kita akan menikah ! Tidak dapatkah kamu memahaminya, Bo Li ! Mengertilah !", kata Ivander Liam sambil menatap sendu wajah Bo Li yang ia tahan dengan kedua tangannya.
"Ivander Liam...", sahut Bo Li dengan mata berkaca-kaca.
"Bahkan kedua cincin pertunangan kita jika didekatkan akan saling menempel satu dengan lainnya, tidakkah kamu menyadarinya maksud aku memesan cincin ini, Bo Li !?", kata Ivander Liam.
"Ivander Liam..., aku mohon...", ucap Bo Li hampir menangis.
"Oh Tuhan ! Kamu hampir membuatku gila dan kehilangan akal sehatku, aku benar-benar tidak dapat mengendalikan perasaanku jika di dekatmu, Bo Li ! Kamu berhasil membuatku putus asa !", kata Ivander Liam.
"Ma--maafkan..., maafkan aku... Ivander Liam... Maafkanlah aku...", sahut Bo Li dengan pandangan tertunduk.
"Lihatlah aku, tataplah aku dan rasakanlah jika aku berada di sisimu, Bo Li ! Aku adalah tunanganmu, Bo Li !", kata Ivander Liam.
"Aku mohon..., jangan bersikap seperti itu, Ivander Liam !", kata Bo Li.
"Bo Li !?", kata Ivander Liam.
Ivander Liam mengangkat paksa wajah Bo Li untuk mendekat ke wajahnya dan pria tampan itu berusaha memaksa perempuan cantik itu untuk menerimanya tetapi Bo Li langsung menjauhkan tubuh Ivander Liam dari dirinya dan menutupi kedua wajahnya dengan kedua tangannya rapat-rapat.
Bo Li memundurkan tubuhnya dari jangkauan tangan Ivander Liam tetapi tenaga pria berambut pirang itu lebih besar dari Bo Li. Dan ia kembali mendekap tubuh Bo Li ke dalam pelukannya sedangkan Bo Li yang sangat panik berusaha menjaga konsentrasinya supaya ia tidak dapat berubah menjadi berwarna ungu.
Perempuan cantik dan menggemaskan itu terlihat memberontak dengan perlakuan dari Ivander Liam yang terus memaksanya sedangkan dirinya kewalahan dengan sikap pria itu dan ia harus tetap menjaga konsentrasi pikirannya agar tidak menjadi makhluk ungu, Bo Li mati-matian menghindari kontak fisik dengan Ivander Liam yang terus mendesaknya seraya mempererat pelukannya terhadap Bo Li.
"Ivander Liam ! Tolong bersikaplah lebih dewasa !", kata Bo Li memohon.
"Bukankah aku kini sedang bersikap lebih dewasa dan belajar menjadi pria dewasa !? Lalu dimana letak kesalahanku itu !?", sahut Ivander Liam bingung.
"Menjauhlah dariku, aku tidak dapat bernafas dengan baik, Ivander Liam ! Dan berhentilah menggodaku seperti itu !", kata Bo Li dengan wajah semburat memerah karena malu dan melepaskan pelukannya.
"Bagaimana bisa aku menjauh, sedangkan kursi mobil begitu sempitnya, dan lihatlah gaun pestamu yang mekar bagaikan bunga mawar telah memenuhi ruangan mobil ini, cantik !", sahut Ivander Liam sambil mendekap tubuh Bo Li.
__ADS_1
Akhirnya mobil mewah Rolls Royce berwarna hitam metalik itu berhenti melaju dan terparkir di depan sebuah gedung bertingkat yang sangat megahnya dan sopir turun sambil mengetuk pintu kaca jendela mobil.
Ivander Liam hanya menggerutu pelan ketika mobil Rolls Royce yang membawa mereka berdua telah sampai di tempat tujuan dan dengan terpaksa ia melepaskan dekapannya dari tubuh Bo Li.