
Bo Li dan Ivander Liam berjalan bersama-sama ke dalam bandara setelah mereka sampai.
Tampak keduanya bergandengan tangan melangkah kaki di bandara.
''Kita tunggu di loby saja karena tinggal satu jam pesawat akan berangkat ke Kota B-One !'', kata Ivander Liam.
''Baiklah, kamu tidak berniat makan atau membeli camilan, sayang ?'', tanya Bo Li sambil memutar kepalanya ke arah kanan.
''Apa kamu merasa lapar ?'', kata Ivander Liam.
''Aku tidak lapar, hanya saja agak lemas mungkin terlalu banyak tenaga yang aku keluarkan tadi sebelum berangkat ke bandara'', sahut Bo Li.
''Baiklah, kita beli makanan ringan untukmu !'', kata Ivander Liam.
Pria tampan itu mengajak Bo Li ke sebuah toko makanan ringan yang ada di sekitar bandara.
''Kita beli kue manis ini dulu dan segeralah makan ! Penerbangan masih satu jam lagi !'', kata Ivander Liam.
''Iya, terimakasih telah mengkhawatirkanku'', sahut Bo Li.
Ivander Liam mengambil bungkusan plastik dari atas meja toko makanan ringan yang menjual bolu.
Diserahkannya bungkusan plastik itu kepada Bo Li.
''Ambillah ini ! Dan makanlah !'', kata Ivander Liam.
''Terimakasih...'', sahut Bo Li.
Ivander Liam mengajak Bo Li ke sebuah bangku yang ada di area bandara.
Keduanya duduk bersama-sama sedangkan Bo Li tampak membuka kotak kue berisi bolu strawberry lalu memakannya.
''Enak ?'', tanya Ivander Liam.
''Hmmm... Enak sekali ! Apakah kamu mau mencobanya ?'', sahut Bo Li.
''Boleh, satu suapan kue bolu, aku rasa cukup untukku'', kata Ivander Liam.
''Baiklah ! Makanlah ini !'', ucap Bo Li.
Bo Li menyuapkan sepotong kue bolu kepada Ivander Liam.
Tampak pria tampan itu tersenyum lembut ketika Bo Li menyuapinya.
''Hmmm, lezat sekali !'', gumam Ivander Liam.
''Kamu suka ?'', tanya Bo Li terkejut. ''Ini makanan dari luar, bukan berasal dari restoran !'', sambungnya.
''Kenapa tidak ?'', kata Ivander Liam.
''Aku takut pencernaanmu akan bermasalah jika memakan kue bolu strawberry sesederhana ini'', ucap Bo Li meringis.
__ADS_1
''Aku justru mencemaskan dirimu yang harus terpaksa memakan bolu dari toko kecil itu'', sahut Ivander Liam.
''Ha... Ha... Ha... !'', tawa Bo Li. ''Kamu cukup mencemaskanku, rupanya !'', sambungnya.
''Nakal !'', sahut Ivander Liam.
Ivander Liam mencolek kecil ujung hidung Bo Li yang duduk disampingnya seraya tertawa kecil.
''Bukankah kamu yang mengajarkanku agar aku lebih berani dan sedikit nakal !?'', kata Bo Li.
Keduanya tertawa bersama-sama sembari menikmati bolu strawberry yang baru mereka beli dari toko makanan ringan di bandara.
Tampak ekspresi wajah Bo Li dan Ivander Liam berseri-seri senang.
Satu jam kemudian...
Terdengar gema suara seorang wanita dari arah tata suara di bandara yang memberitahukan perihal waktu keberangkatan pesawat menuju Kota B-One yang sebentar lagi akan berangkat.
Ivander Liam dan Bo Li telah berjalan menuju area petugas penerima tiket pesawat.
Menyerahkan tiket pesawat serta menunjukkan paspor mereka kepada penjaga pintu masuk.
Tidak butuh waktu lama, keduanya telah menaiki tangga pesawat.
Rupanya Ivander Liam telah memesan kursi khusus untuk mereka selama di pesawat. Dan dia sengaja naik pesawat bukan jet pribadi selama perjalanan mereka ke Finlandia.
Sengaja Ivander Liam melewati jalur udara dengan pesawat penumpang pada umumnya bukan menaiki jet pribadinya.
Menurut Ivander Liam naik jet pribadi akan terasa seperti melakukan perjalanan bisnis bukan perjalanan rekreasi atau liburan musim panas.
''Perjalanan kali ini berbeda dari sebelumnya, kamu tahu itu ?'', kata Ivander Liam.
''Apa bedanya ?'', sahut Bo Li.
''Hmmm...'', gumam Ivander Liam.
Ivander Liam meraih tangan Bo Li seraya mengusapnya lembut kemudian mengecupnya pelan.
"Awal kita berangkat kemari hubungan antara kita tidak seakrab ini dan kita masih belum menjadi sepasang suami-istri", ucap Ivander Liam.
"Ya..., aku tahu itu..., dan kita tidak tahu harus kemana kita bawa hubungan ini sebenarnya, bukan !?'', jawab Bo Li.
''Bukan seperti itu karena pada dasarnya aku masih belum bisa menyentuh hatimu'', kata Ivander Liam.
Dipandangnya wajah suaminya dengan lembut lalu tersenyum.
''Apakah kamu takut ? Seandainya aku tidak mencintaimu, bukan ?'', sahut Bo Li.
''Hmmm...., aku hanya menunggu saat yang tepat kamu bisa menerima hubungan ini saja, aku tidak pernah takut itu'', ucap Ivander Liam.
''Benarkah ?'', sahut Bo Li.
__ADS_1
''Iya, meski kamu menolakku, aku pasti akan lebih berusaha terus mendapatkan cintamu sampai kamu benar-benar jatuh cinta padaku apapun itu hasilnya'', kata Ivander Liam.
''Meskipun aku menolakmu'', jawab Bo Li.
''Aku tahu kamu akan jatuh cinta padaku...'', ucap Ivander Liam.
''Bagaimana kamu bisa seyakin itu ?'', kata Bo Li.
''Seyakin itulah cintaku padamu maka seyakin itu pulalah diriku padamu bahwa kamu juga akan menyukaiku pada akhirnya'', sahut Ivander Liam.
''Jika saja aku tidak jatuh cinta padamu dan justru memilih pergi darimu lantas bagaimana ?'', kata Bo Li.
''Maka aku akan membuatmu mencintaiku...'', sahut Ivander Liam.
''Dan usahamu mampu membuatku jatuh cinta padamu, Ivander Liam'', kata Bo Li.
''Aku tahu itu...'', jawab Ivander Liam.
Pria berwajah tampan itu lalu tertawa pelan sembari mengusap lembut pipi Bo Li. Dan mencium mesra bibir perempuan cantik itu.
Perjalanan kembali ke Kota B-One penuh kenyamanan.
Ivander Liam tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bo Li selama mereka berada didalam pesawat.
Sesekali pria berambut pirang itu mengusap lembut kepala Bo Li yang bersandar manja dipundaknya.
''Ngomong-ngomong... Kenapa aku tidak melihat koper-koper milikmu serta milikku sejak tadi ?'', tanya Ivander Liam. ''Apakah kamu tahu itu ?'', sambungnya.
''Ehk !?'', gumam Bo Li tersentak kaget.
Mendadak raut wajah Bo Li menjadi pias saat Ivander Liam menanyakan perihal koper-koper bawaan mereka yang tidak ada bersama mereka.
Bo Li tertawa pelan seraya menyeringai, tidak tahu harus menjawab pertanyaan dari Ivander Liam.
"Bagaimana aku menjawabnya ? Sedangkan koper-koper itu telah pergi melalui pohon ajaib Amethyst ungu dan berubah menjadi labu kuning ?"
Batin Bo Li dalam hatinya kemudian menundukkan kepalanya dan berpura-pura jatuh tertidur.
''Hmmm... !? Dia tidur ?'', gumam Ivander Liam.
Saat dia melihat Bo Li yang memejamkan kedua matanya dengan kepala tertunduk.
Diraihnya kepala Bo Li kemudian disandarkannya ke dalam pelukannya sembari menciumnya penuh cinta.
Kedua sudut bibir Ivander Liam membentuk senyuman lembut serta tatapan teduh ketika dia memandangi Bo Li yang benar-benar jatuh tertidur lelap.
''Dia tertidur pulas..., dan perjalanan ini masih lama..., tapi sedikit berbeda dari sebelumnya...'', gumam Ivander Liam.
Pria tampan itu menoleh kembali ke arah Bo Li yang bersandar dalam pelukannya seraya menarik selimut yang tersedia di pesawat.
''Dia akan kedinginan jika tidur seperti itu sedangkan AC dalam pesawat lumayan dingin...'', ucap Ivander Liam sembari menyelimutkan selimut ke tubuh Bo Li.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Ivander Liam membuka laptop yang dia sengaja bawa karena dia berencana memeriksa pekerjaannya selama di perjalanan ke Kota B-One dari Finlandia.