
Bo Li beserta peri kecil daun hijau bergerak cepat menuju lokasi lomba menembak yang diadakan di kota Helsinki.
"Kamu sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk lomba menembak nanti, peri", kata Bo Li.
"Sudah, aku telah mempersiapkan segala sesuatu untuk lomba menembak dan kamu tinggal mengikuti lomba itu, Bo Li", sahut peri Dryada.
Mereka sampai di sebuah gedung bertingkat dengan cat tembok motif flora.
"Apa tidak salah tempat ?", tanya peri Dryada.
"Sepertinya tidak", sahut Bo Li yang menatap lurus ke arah gedung bertingkat yang ada di depannya.
"Gedung bertingkat ini tidak mirip sebuah area tembak", ucap peri Dryada.
"Haruskah ?", jawab Bo Li.
"Apakah kita akan masuk ke sana ?", tanya peri Dryada lagi
"Terserah pendapat mu saja, peri", sahut Bo Li.
Bo Li lantas mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling area gedung bertingkat sembari mempersiapkan pistol revolver miliknya.
"Kenapa ?", tanya peri kecil daun hijau itu.
Peri Dryada agak bingung melihat Bo Li tengah memasukkan peluru-peluru Amethyst ungunya ke dalam tabung pistolnya.
"Untuk bersiap-siap menghadapi tantangan", sahut Bo Li.
KLEK... KLEK... KLEK...
Bo Li memutar tabung pistolnya setelah selesai memasukkan peluru-peluru Amethyst itu.
Memeriksa pistol revolver di tangannya seperti gerakan menembak.
"Ayo, kita masuk, peri !", ucap Bo Li.
Bo Li lalu melangkah masuk kedalam gedung bertingkat di depannya dengan posisi sedang menembak.
"Tunggu... Tunggu...", teriak pelan peri kecil daun hijau itu
Keduanya memasuki area gedung bertingkat di depan mereka.
Pada saat mereka berada di dalam ruangan gedung bertingkat, tidak seorangpun yang mereka temui di sana.
Sepi...
Suasana di dalam gedung bertingkat terasa sunyi sepi, Bo Li terus melangkahkan kakinya ke dalam ruangan gedung bertingkat itu.
Tampak sikap waspada yang tengah Bo Li tunjukkan dengan sikap membidikkan pistol revolver sedangkan peri kecil daun hijau bergerak melayang disampingnya.
"Berhati-hatilah karena aku mencium tanda bahaya di gedung ini !", ucap Bo Li.
"Bukankah ini tempat yang ditunjukkan oleh sistem Bo Li 115 !?", kata peri kecil daun hijau.
''Iya, tetapi aku tidak mengerti kenapa aku merasakan aura kejahatan seperti yang aku rasakan saat berada di acara pesta waktu itu", sahut Bo Li.
"Aku tidak merasakan apa-apa di sini", ucap peri Dryada.
"Tetaplah waspada ! kamu mengerti", lanjut Bo Li.
Klik... Klik... Klik...
Terdengar suara kecil yang datangnya dari arah peri Dryada yang terbang di samping kiri Bo Li.
"Bau apa ini ?", tanya Bo Li.
"Seperti bau hangus...", sahut peri Dryada.
__ADS_1
"Tunggu !", ucap Bo Li.
"Ada apa ?", kata peri kecil daun hijau.
"Ini memang lokasi lomba menembak tetapi ada yang aneh di area tempat ini", lanjut Bo Li.
Bo Li mengedarkan pandangannya kemudian menunjuk ke arah papan bidik disebelah kanan mereka berdiri.
"Coba kamu lihat di sana !", pekik Bo Li. "Ada beberapa mendali untuk para pemenang lomba serta ada juga piagam penghargaan yang diletakkan tepat di sisi kiri mendali itu".
"Dan bau hangus itu datangnya dari arah pintu keluar yang mengarah ke halaman belakang", sahut peri Dryada.
"Ini tidak biasa...", ucap Bo Li.
Bo Li mengeluarkan senjata api jenis SVLK-14S Sumrak dari dalam tas pembungkus.
"Kenapa kamu mengeluarkan senjata api itu ?", tanya peri Dryada.
"Sepertinya musuh kita bukan lawan yang mudah untuk dihadapi dan aku rasa sebaiknya kamu segera bersembunyi, peri", sahut Bo Li.
"Bersembunyi !?", ucap peri Dryada kebingungan.
Bo Li lalu menatap serius peri kecil daun hijau dihadapannya.
"Karena musuh yang akan kita hadapi berukuran seperti monster dan paling suka menyantap peri sebagai hidangannya", jawab Bo Li.
"Aku tidak takut, Bo Li", ucap peri Dryada.
"Jika kamu tidak takut maka bersiap-siaplah menghadapi mereka yang aku perkirakan jumlahnya tidak banyak, peri", sahut Bo Li
Bo Li memutar tabung ganda yang ada di badan senjata api jenis SVLK-14S Sumrak kemudian memasukkan peluru-peluru Amethyst ungunya yang berukuran lebih besar dari peluru untuk pistol revolver.
KLEK... KLEK... KLEK...
Tabung ganda pada senjata SVLK-14S Sumrak terpasang dengan benar kemudian Bo Li bergerak cepat menuju keluar gedung bertingkat.
"Ya Tuhan !", gumam Bo Li.
Bo Li tersentak kaget ketika melihat banyak orang yang bergelimpangan di atas permukaan rumput hijau yang masih basah.
"Hmm..., iya...", sahut Bo Li.
Perempuan cantik itu berlari kecil ke arah salah satu orang yang tergeletak di rumput.
Bo Li segera memakai sarung tangan untuk memeriksa kondisi seorang perempuan dengan posisi tubuh telungkup.
"Ternyata dia masih hidup, hanya saja tubuhnya menghitam seperti terbakar", ucap Bo Li.
"Kita masih bisa menyelamatkan mereka, bukan !?", tanya peri Dryada.
"Entahlah, tetapi aku akan memberikan sedikit energi Amethyst ku kepadanya dan aku harap perempuan ini dapat terselamatkan", sahut Bo Li.
"Ini sungguh keterlaluan ! Bagaimana bisa ada orang sejahat ini dan beraninya menyerang orang-orang yang lemah !?", ucap peri Dryada murung.
Bo Li tidak menjawab perkataan peri kecil daun hijau karena dia tengah berkonsentrasi penuh untuk menyembuhkan perempuan yang terbaring tak berdaya dengan tubuh gosong.
Keluar energi berwarna ungu dari tangan Bo Li yang terus memancar terang dan mengaliri tubuh perempuan itu.
"Tubuhnya mulai berangsur-angsur membaik dan pulih seperti tubuh manusia pada umumnya", ucap peri kecil.
"Sebaiknya kita sembuhkan yang lainnya terlebih dahulu sebelum kita mencari penyebab ini semua", kata Bo Li.
"Baik, Bo Li", sahut peri kecil daun hijau.
Bo Li lalu berdiri dan bersiap-siap untuk mengalirkan energi Amethyst ungunya ke seluruh tubuh orang-orang yang tergeletak disekitar area rumput di halaman belakang gedung bertingkat.
Hal sama juga dilakukan oleh peri Dryada yang terbang di atas orang-orang yang tergeletak itu.
Mereka berdua bersama-sama mengalirkan energi Amethyst ungu mereka ke seluruh tubuh orang-orang yang ada di halaman itu.
Tak butuh waktu lama untuk mereka berdua menyembuhkan semua orang yang tergeletak di area halaman belakang gedung bertingkat.
__ADS_1
"Ayo, kita segera pergi dari sini sebelum mereka semuanya sadar, peri", kata Bo Li.
"Iya, Bo Li", jawab peri Dryada.
"Aku akan mengarahkan semua orang keluar dari gedung bertingkat ini dengan memberi mereka tanda di leher", lanjut Bo Li.
"Kamu bertujuan memasang tanda di leher mereka supaya semua orang terarah keluar dari gedung bertingkat ini", ucap peri kecil itu.
"Iya, karena saat aku memasangkan tanda pada leher mereka secara otomatis mereka terkontrol untuk pergi dari sini tanpa kita harus membimbingnya", sahut Bo Li.
"Aku rasa itu idea yang menarik", ucap peri kecil itu.
"Ayo, kita pergi dari sini, peri Dryada !", lanjut Bo Li.
Bo Li dan peri Dryada lalu pergi mencari penyebab terjadinya kejadian tersebut.
Sebelum orang-orang yang tergeletak di area halaman belakang gedung bertingkat itu semuanya sadar dan terbangun.
Bo Li berlarian ke arah tangga menuju lantai atas gedung bertingkat sedangkan peri Dryada terbang tepat di atas Bo Li.
Keduanya sama-sama mencari asal muasal dari kejadian yang cukup mencekam itu.
Hanya saja ketika mereka sampai di lantai atas gedung bertingkat, tidak ada seorangpun yang Bo Li jumpai di sana.
"Di lantai atas ternyata sangat sepi sekali dan tidak ada tanda-tanda apapun di area ini", kata Bo Li.
"Sangat sunyi senyap di atas sini", ucap peri Dryada.
"Mungkinkah aku salah !?", lanjut Bo Li.
"Tidak mungkin salah, karena kita lihat di bawah tadi, banyak orang-orang yang tergeletak tak berdaya seperti itu, Bo Li", sahut peri Dryada.
"Iya, jika aku salah, tidak mungkin kita menemukan orang-orang di area halaman belakang gedung bertingkat ini tergeletak seperti itu", kata Bo Li.
"Benar, karena hal seperti itu hanyalah seseorang yang memiliki kemampuan khusus untuk bertarung dengan level yang tinggi serta terampil", sahu peri Dryada.
Suasana di sekitar lantai atas gedung terlihat sangat sepi dan sunyi.
"Kita tetap bergerak melanjutkan pencarian masalah yang tadi terjadi, peri", ucap Bo Li.
"Iya, aku mengerti, Bo Li", sahut peri Dryada.
"Tetapi..., jika kita tidak dapat menemukan apapun di sini maka kita langsung pergi dari gedung bertingkat ini...", tegas Bo Li.
"Iya...", sahut peri kecil daun hijau itu.
"Aku sebenarnya tidak ingin berurusan dengan masalah ini tetapi jika ini ada hubungannya dengan iblis Elmar maka aku akan memburunya hingga tuntas", kata Bo Li.
"Kamu tidak akan melepaskannya", sahut peri Dryada.
"Tidak akan pernah, peri", lanjut Bo Li.
"Apa alasannya, Bo Li ?", tanya peri kecil daun hijau.
"Kesenangan...", jawab Bo Li.
"Kesenangan !?", tanya peri kecil daun hijau tercengang mendengar jawaban Bo Li.
"Aku hanya merasa senang memburu incaran ku itu dan bermain-main dengan mereka sampai semuanya jenuh lalu membalaskan penderitaan ku dengan merebut kembali kerajaan Kuota dari mereka", sahut Bo Li.
"Dan kamu akan merasa puas, Bo Li", ucap peri Dryada.
"Iya... Aku akan merasa sangat puas setelah memburu incaran ku itu, peri Dryada", sahut Bo Li menatap tajam.
Bo Li kembali mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling gedung bertingkat itu.
Memastikan apakah ada tanda-tanda yang berkaitan dengan penyebab kejadian di gedung bertingkat itu.
Sayangnya...,
Nyaris tidak ada tanda-tanda seorangpun di tempat itu, meski demikian Bo Li tetap bersikukuh mencari sumber masalah yang tadi terjadi di lantai bawah.
__ADS_1
Bo Li berniat mengusut tuntas perkara yang baru saja terjadi di dalam gedung bertingkat itu.
Namun, dia juga akan pergi meninggalkan gedung bertingkat itu seandainya dia tidak menemukan apa-apa di gedung itu.