BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Pembicaraan Di Api Unggun


__ADS_3

Bo Li duduk di depan api unggun yang berada di ruangan tengah sambil memegang segelas susu cokelat panas.


Malam begitu dinginnya dan terasa menusuk tulang, malam semakin larut dan hampir menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Bo Li terdiam tanpa suara, memandangi api yang membakar habis kayu di tempat perapian pemanas ruangan.


Bayangan api terlihat di atas permukaan lantai, membuat siluet yang membayang di atas lantai.


"Mengapa kamu kembali ke rumah ? Apakah kalian bertengkar ?", tanya kakek.


"Tidak... Kami tidak bertengkar...", sahut Bo Li sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Lantas kenapa pulang ?", tanya kakek berdiri di samping Bo Li duduk.


"Mmm...", gumam Bo Li sambil menatap kosong perapian yang ada di depannya.


"Apa ?", tanya kakek.


"Kakek...", ucap Bo Li.


"Iya...", sahut kakek.


"Kenapa papa meninggal jika ia memiliki ilmu itu ? Kenapa ia memilih mati ?", tanya Bo Li.


"Hmm...!?", hela nafas kakek.


"Apa ia mencoba lari dari kenyataan ? Dan takut menerima kenyataan ?", tanya Bo Li sambil memutar gelas di tangannya.


"Itu mungkin jalan terbaik, nak...", sahut kakek.


Pria tua bernama Li Sanders itu memejamkan kedua matanya dan menghela nafas lagi.


"Papamu sangat mencintai kamu, nak, sehingga ia lebih memilih untuk menyelamatkan kamu ketimbang memilih melawan Elmar dan menyelamatkan dirinya", jawab kakek.


"Bukankah jika ia melawan Elmar maka kami semua terselamatkan dan mama tidak meninggal !?", kata Bo Li.


Perempuan cantik itu lalu menolehkan kepalanya ke arah pria tua yang berdiri di sampingnya.


"Karena papa kamu lebih memilih untuk memberikan pancasona itu kepada kamu dan kedua orangtuamu telah menyepakatinya bersama-sama untuk memberikannya kepadamu dan menyelamatkanmu sebagai keturunan mereka", kata kakek.


"Mama...? Apakah ia juga memilih mati di tangan Elmar ?", tanya Bo Li.


Dia berdiri dengan kebingungan saat kakeknya mengatakan perihal tentang mamanya.


"Jika mereka melawan Elmar maka sama saja mereka juga mengorbankanmu, papamu akan kehilangan kekuatannya jika ia terlalu banyak bertarung melawan Elmar karena di saat papa kamu memberikan pancasona itu kepadamu, dia harus menggunakan kekuatan yang sangat besar untuk menyalurkan pancasona itu !", kata kakek.


"Itu artinya mama juga mengetahui rencana papa maka ia menyetujuinya ?", kata Bo Li berkaca-kaca.


"Mama kamu membantu papa kamu dengan menyalurkan kekuatan langitnya saat papa kamu mengalirkan pancasona itu kepada kamu...", jawab kakek menahan sedihnya.


"Kekuatan langit ?", kata Bo Li.


"Benar, karena mama kamu adalah seorang bidadari yang turun ke bumi untuk mencari selendangnya yang jatuh dan bertemu papa kamu yang sedang menyalurkan tenaganya saat ia mendalami pancasona di sebuah danau sunyi dengan tujuh mata air yang berbeda warnanya di sebuah pulau terpencil", kata kakek lalu duduk di kursi.


Bo Li semakin terkejut dan melangkah maju mendekat ke arah kakek.


"Apakah mama aku adalah jelmaan bidadari ? Dia bukan manusia ? Lalu aku, bagaimana dengan aku, kakek ?'', tanya Bo Li gemetaran.


"Kamu manusia, hanya saja kamu adalah anak keturunan bidadari dan manusia tetapi kamu manusia seperti papa kamu, yang juga manusia !", jawab kakek.


"Apakah karena itu aku tidak dapat mati ?", tanya Bo Li bergetar.


Kakek Li hanya meundukkan kepalanya dan terdiam.

__ADS_1


"Apakah kakek juga tahu jika aku dapat hidup kembali ? Kakek tahu jika aku memiliki kekuatan pancasona itu ?", tanya Bo Li.


"Maafkan kakek, nak... Maafkan kakek...", jawab kakek.


"Kenapa semua orang menyembunyikan semua itu padaku dan tidak seorangpun mengatakannya padaku !?", kata Bo Li.


"Jalan terbaik terkadang sangat menyakitkan, nak dan harus di sembunyikan untuk sebuah tujuan terbaik. Pilihan yang telah dipilih oleh kedua orang tuamu untuk menyelamatkan kamu dari kematian !?", kata kakek.


T--tapi kenapa mama tidak memilih untuk hidup ? Dan memilih meninggal bersama papa ? Bukankah dia seorang bidadari ?", tanya Bo Li lalu jatuh terduduk.


"Karena kekuatan mama kamu terbatas tanpa adanya selendang miliknya dan ia sengaja tidak menggunakan seluruh kekuatannya untuk melawan Elmar tetapi memilih menyalurkan kekuatannya untuk membantu papa kamu mengalirkan pancasona itu dan papa kamu membutuhkan kekuatan dan tenaga besar untuk melakukannya", kata kakek.


"Haruskah mereka berkorban demi diriku, kakek ? Kenapa kakek tidak menyalahkanku atas kematian puteramu ? Dan tidak membuangku saja saat umurku sepuluh tahun ?", tanya Bo Li berkaca-kaca.


"Bo Li...!?", kata kakek tertegun.


"Kenapa kakek ? Seharusnya kamu tidak membiarkanku bersama mu karena akan sangat membahayakan diri kakek !", kata Bo Li.


"Kamu adalah keturunan puteraku, nak, cucuku dan darah dagingku... Bagaimana aku dapat membuang kamu ? Dan membiarkan kamu sendirian waktu kamu sekecil itu !?", kata kakek lalu berdiri membantu Bo Li brrdiri.


Kakek menuntun Bo Li untuk duduk di kursi dekat perapian yang tadi ia tempati.


Dia menyelimuti tubuh Bo Li dengan kain yang dirajut oleh benang emas yang hangat dan tebal, saat perempuan cantik itu duduk kembali di kursi.


"Semua telah terjadi dan aku meminta maaf atas kesalahan kerabatku yang telah menyengsarakan hidup keluarga kalian, aku juga tidak datang untuk mencegahnya karena ketidaktahuanku akan kejadian yang menimpa kedua orang tuamu", kata kakek.


***


Bo Li terdiam dan melamun, ingatannya yang perlahan telah kembali setelah memakan buah surga Amethyst itu, datang silih bergantian dalam pikirannya.


Tidak seorangpun dapat mengetahui perasaannya yang hancur lebur dan semangat hidupnya yang telah hilang.


Ketika dia mulai mengingat peristiwa itu satu demi satu, Bo Li semakin tidak dapat mengingat lagi semangat hidupnya dan ia tidak dapat kembali lagi.


Memiliki kehidupan layaknya manusia pada umumnya, pergi bekerja dan berteman serta berinteraksi dengan lainnya.


Namun, semua telah berakhir dan telah berubah sejak ia memakan Buah Amethyst ungu dari surga para peri yang bertuah sakti dan sarat keajaiban serta penuh misteri.


Ingatan Bo Li yang hilang itu semuanya kembali ke dalam kepalanya, berjalan bergatian dari awal hingga akhir dan seperti layaknya alur cerita yang maju dan mundur secara bergantian dan tiba-tiba datangnya.


Berdentuman di dalam kepala Bo Li, yang hampir membuatnya kehilangan akal sehatnya dan nyaris membuatnya tidak waras.


Terkadang selalu menyebabkan mimpi buruk yang setiap malam datang dalam tidurnya serta membuatnya bermimpi buruk.


"Bo Li... Kenapa kamu pulang kemari, nak, apabila kamu tidak bertengkar dengan tunangan kamu ?", tanya kakek.


"Ehk...?", ucap Bo Li tersentak dari lamunannya.


Bo Li lalu meminum segelas susu cokelat yang ada digenggaman tangannya untuk menenangkan hatinya yang mulai berkecamuk hebat lagi.


Dia terdiam seraya menatap api unggun yang menyala di tempat perapian rumah.


"Bo Li... Kenapa kamu tidak menjawabnya... katakanlah, apa yang menjadi permasalahanmu pada kakek ? Mungkin kakek dapat membantumu !?", kata kakek.


"Seandainya musuh kakek muncul di hadapan kakek, apa yang akan kakek lakukan untuk menghadapinya ?", kata Bo Li.


Kakek Li Sanders langsung terdiam dan kaku ketika mendengar perkataan cucu perempuan yang paling ia sayangi itu.


Wajahnya tiba-tiba berubah tegang dan seluruh tubuhnya terasa membatu.


"Apa yang kamu maksudkan, nak ?", tanya kakek dingin.


"Dia datang kakek...", kata Bo Li lalu memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Siapa yang kamu maksudkan, nak ?", tanya kakek mulai cemas.


"Kakek tidak akan pernah menyangkanya, dan tidak akan pernah mempercayainya dengan yang akan aku katakan nanti...", kata Bo Li dengan mata tertutup.


"Katakanlah Bo Li !?", kata kakek gusar.


"Cucu kakek yang lainnya... Abiyyu...Abiyyu Elmar Kuota...", jawab Bo Li lalu membuka matanya sambil mengatupkan mulutnya.


***


Kakek Li Sanders lalu melangkah mundur dan hampir terjatuh jika ia tidak berpegangan pada bahu kursi.


Bo Li menolehkan kepalanya dengan cepat dan menahan tubuh kakek, sebelum pria tua itu terjatuh karena kaget.


"Kakek !!!", teriak Bo Li.


Dia memapah tubuh kakek menuju ke arah sofa panjang yang tidak jauh dari tempat perapian ruangan.


"Kakek... Apa kakek tidak apa-apa ? Apa kakek baik-baik saja ?", tanya Bo Li gelisah.


Pria tua itu hanya memegangi kepalanya dan menyandarkan kepalanya di bahu sofa panjang, dan terdiam.


Kakek Li Sanders memejamkan matanya dengan tubuh lemas berbaring di sofa, ia berusaha untuk tetap tegar.


"Jika orang jahat-jahat itu datang dan menemukan keberadaan Bo Li di Kota B-One ini, aku tidak dapat lagi untuk tinggal di tempat ini dan aku harus membawa cucu perempuanku itu pergi menjauh secepatnya dari sini... Tetapi bagaimana caranya aku memberitahukan hal itu pada Bo Li dan juga Ivander Liam... Dan bagaimana aku membawa keduanya pergi dari tempat ini...", kata kakek dalam hatinya gelisah.


"Kakek... Apa kakek sudah enakkan...!?", tanya Bo Li seraya memperhatikan kakeknya.


"Hmm..., aku tidak apa-apa, nak, mungkin hanya kaget saja, tapi semuanya baik-baik, nak", sahut kakek masih memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Kalau begitu kakek tidur saja karena hari sudah sangat larut dan sebentar lagi menjelang pagi !", kata Bo Li.


"Tidak ! Tidak ! Aku tidak apa-apa, percayalah !", kata kakek lalu berusaha bangun tetapi di cegah oleh Bo Li.


"Istirahatlah, kakek ! Tidurlah, besok kita bicarakan lagi masalah ini dan mencari solusinya untuk mengahadapi mereka nanti !", kata Bo Li.


"Tidak, nak ! Jangan menunggu hingga esok hari ! Karena akan sangat berbahaya bagi keselamatan dirimu, Bo Li !", kata kakek.


"Tetapi, aku masih bisa menghindarinya selama aku tidak bertemu dengannya dan ia tidak mengenaliku !", sahut Bo Li.


"B--bagaimana ia tidak dapat mengenalimu, nak ?", tanya kakek terkejut.


"Karena ia tidak tahu kalau ini aku dan ia tidak mengenalku, ditambah lagi aku memalsukan namaku, kakek", jawab Bo Li.


"Bagaimana mungkin kamu memalsukan identitas pribadimu ?", tanya kakek. "Dimana kalian bertemu ?"


"Aku mengubah namaku menjadi Amanda dan aku bertemu dengan Abiyyu di kantor saat mengantarkan bekal makan siang untuk Ivander Liam", kata Bo Li.


"Ini tidak benar, nak, dan ini sangat berbahaya sekali, Bo Li !", kata kakek seraya mengusap wajahnya.


"Kamu harus segera pergi meninggalkan tempat ini karena sehebat apapun pancasona yang ada di tubuhmu tidak dapat menanggulangi kehebatan Abiyyu yang ahli bela diri dan ahli pedang, kamu juga tidak dapat menghadapinya, nak karena kamu tidak bisa bertarung !?", kata kakek cemas.


"Kakek... Bagaimana aku bisa pergi dari sini tanpa kakek... Lantas apakah kakek akan menghadapi mereka seperti kedua orang tuaku ?", kata Bo Li lalu mengangkat dagunya serta menatap dingin.


"Bo Li... Tapi nak... Ini sungguh sangat berbahaya bagi kamu...", kata Kakek Li.


"Bukankah aku memiliki pancasona dan aku memiliki kakek serta Ivander Liam yang berdiri di sisiku selalu ? Lalu apa yang harus aku takutkan lagi ?", tanya Bo Li tak gentar.


"Ivander Liam... Bahkan pria itu tidak dapat berbuat apa-apa... Bagaimana kamu akan mengandalkannya, nak...!?", kata kakek semakin gusar.


"Dia dapat kita andalkan kakek, percayalah karena ia selalu berusaha melindungiku dan menjagaku dengan sangat baik selama aku berada di rumahnya", kata Bo Li.


"Aku tahu itu, nak...", kata kakek.

__ADS_1


"Apakah cucu perempuanku telah diam-diam menaruh hati pada tunangannya itu !? Lantas bagaimana caranya Bo Li nanti harus pergi dari pria itu dan meninggalkannya !? Lambat laun Bo Li akan berpisah dengan pria itu dan kembali untuk memimpin kerajaannya, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Bo Lk untuk mereka bersama dan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih jauh lagi... Semua telah berubah..." , kata Kakek Li Sanders dalam hati kecilnya.


__ADS_2