BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Selendang Pelangi Yang Sangat Unik


__ADS_3

Bo Li hanya termangu ketika melihat selendang pelangi miliknya berubah menjadi berbagai bentuk.


Mulai dari pedang, busur panah, tombak serta perisai pelindung.


Selendang pelangi miliknya mampu berubah-ubah sesuai perintahnya.


"Apakah selendang pelangi ini dapat mengubah bentuknya menjadi senjata lainnya ?", tanya Bo Li.


"Iya, bahkan mampu membuatmu terbang", sahut bidadari roh Cǎihóng wéijīn.


"Hebat sekali selendang pelangi ini", kata Bo Li.


"Kamu bisa memakainya dengan cara dililitkan ke pinggangmu atau kamu selempangkan di bahumu", ucap Cǎihóng wéijīn.


"Oh iya !?", tanya Bo Li.


"Pakailah, Bo Li !", saran Cǎihóng wéijīn.


"Baiklah..., aku akan memakainya", sahut Bo Li.


Bo Li lalu melilitkan selendang pelangi di pinggangnya sedangkan peri Dryada yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka mulai angkat suara.


"Hai bidadari roh !", ucap peri Dryada.


"Ya", sahut bidadari roh. "Ada apa ?", sambungnya.


Bidadari roh yang berupa wanita cantik jelita itu lalu menolehkan kepalanya ke arah peri kecil daun hijau.


"Bisakah nama kamu diganti dengan nama panggilan ?", tanya peri Dryada.


"Nama panggilan ?", sahut Cǎihóng wéijīn.


"Iya..., karena namamu termasuk rumit dan artinya juga sama yaitu selendang pelangi", ucap peri Dryada.


"Bagaimana kamu tahu arti namaku ?", kata bidadari roh.


"Cǎihóng wéijīn artinya selendang pelangi ! Dan bisakah kami memanggilmu Cai atau Wei jin !?", tanya peri Dryada.


"Boleh, kalian silahkan memanggilku Cai atau Wei jika namaku dirasa sangat sulit untuk kalian", sahut Cǎihóng wéijīn.


"Cai saja, aku rasa lebih cocok untukmu", sahut peri Dryada.


"Peri Dryada, jangan memanggil nama orang secara sembarangan karena itu tidak sopan", ucap Bo Li.


"Harus memanggil dengan nama apa ?", tanya peri Dryada.


"Panggillah dengan weijin saja dan aku rasa itu panggilan yang baik untuknya !", saran Bo Li.


"Weijin !?", ucap peri Dryada.


"Iya ! Aku rasa itu nama yang tepat untuk bidadari roh, dan jangan memanggilnya lagi dengan Cai atau Wei !", kata Bo Li.


"Baik, baik, aku akan memanggilnya dengan weijin", sahut peri Dryada.


"Bagaimana bidadari roh ? Apakah kamu mau kami panggil dengan nama weijin saja ?", tanya Bo Li.


"Weijin..., aku kira cukup baik juga jika aku harus dipanggil weijin saja akan mempermudah kita untuk berkomunikasi", sahut bidadari roh.


"Aku juga berpikir bahwa nama weijin terdengar cantik", ucap peri Dryada.


"Masalah nama bidadari roh yang sulit sekarang sudah terselesaikan dan semuanya telah setuju", ucap Bo Li.


"Iya...", sahut peri Dryada dan bidadari roh kompak.


"Ayo, kita pulang sekarang ke rumah !", ucap Bo Li.

__ADS_1


Bo Li memperhatikan selendang pelangi yang dia lilitkan dipinggangnya.


"Kenapa kamu tidak mencoba selendang pelangi itu sekarang, Bo Li ?", tanya peri Dryada.


"Sekarang ? Disini ?", tanya Bo Li.


"Iya !", sahut peri Dryada.


"Aku memakainya karena ingin sekali mencoba selendang pelangi dipinggangku ini, apakah selendang pelangi ini dapat aku pakai untuk terbang", ucap Bo Li.


"Cobalah ! Dan buktikan sendiri kehebatan selendang pelangi milikmu itu, Bo Li !", kata peri Dryada.


Bo Li membentangkan selendang pelangi miliknya dengan kedua tangannya lalu mengibaskan selendang pelangi secara pelan.


Secercah cahaya mirip bintang-bintang muncul disekitar selendang pelangi.


Tubuh Bo Li terangkat secara perlahan-lahan ke atas dan mulai terbang ke atas langit.


Bo Li terbang melayang secepat kilat menembus awan-awan menuju kembali ke tempat Bo Li menginap.


Disusul oleh peri Dryada dan Weijin yang melesat cepat menyusul Bo Li.


Mereka saling terbang kejar-kejaran di atas langit.


Ketiganya pulang meninggalkan area hutan dimana danau sunyi berada dan berhasil membawa selendang pelangi yang mereka cari.


Hotel GLO Kluuvi...


Bo Li berjalan santai seraya melepas selendang pelanginya dan pergi menuju ke arah kamarnya menginap.


Ketika selendang pelangi dia lepas secara langsung selendang pelangi itu menghilang dari pandangan Bo Li.


"Benar bukan bahwa selendang pelangi ini memiliki sesuatu yang istimewa", ucap weijin.


"Dan kenapa selendang pelangi itu langsung menghilang ketika Bo Li melepasnya ?", tanya peri Dryada.


"Memang seperti itulah cara kerja selendang pelangi jika tidak digunakan lagi", sahut weijin.


"Sungguh ajaib !", ucap Bo Li.


"Benar, dan aku sendiri tidak tahu mengapa selendang pelangi itu dapat menghilang setelah tidak dipakai lagi", sahut weijin.


"Bukankah kamu bidadari roh dari selendang pelangi ini ? Dan bagaimana kamu tidak mengerti cara kerjanya ?", tanya Bo Li.


"Aku memang bidadari roh selendang pelangi tapi aku hanyalah roh dan tidak tahu bagaimana selendang pelangi itu dapat bekerja seperti itu", sahut Weijin.


"Mungkin selendang pelangi ini tercipta demikian oleh pemiliknya", ucap Bo Li.


"Dan bukankah pemiliknya adalah ibumu, Bo Li", kata Weijin.


"Iya...", jawab Bo Li.


"Tapi kamu belum mencobanya untuk bertarung dan sebaiknya kita tanyakan saja pada sistem Bo Li 115 bagaimana cara menggunakan selendang pelangi itu", ucap peri Dryada.


"Bertanya pada sistem Bo Li 115 ?", tanya Bo Li.


"Iya, karena hanya sistem Bo Li 115 yang memiliki akses informasi paling canggih", sahut peri Dryada.


"Hmmm...", gumam Bo Li.


Bo Li berdiri tepat di depan lift sambil berpikir tentang selendang pelangi itu dan teringat dengan buku harian miliknya.


"Aku akan menanyakannya pada sistem Bo Li 115 setelah kita sampai di kamar hotel", sahut Bo Li.


Pintu lift hotel lalu terbuka sendirinya dan Bo Li melangkah masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Lift mulai bergerak ke atas menuju kamar tempat Bo Li dan Ivander Liam menginap.


Bo Li terus melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya sedangkan Weijin yang berwujud perempuan cantik jelita tapi tidak dapat dilihat oleh orang pada umumnya bergerak melayang disamping Bo Li.


Bersama peri kecil daun hijau yang terbang melayang di depan mereka.


Sesampainya di kamar hotel...


Bo Li langsung masuk ke dalam kamar tanpa dia ketahui suaminya telah menunggunya di dalam kamar.


"Dari mana saja kamu sayang ?", tiba-tiba terdengar suara dari arah tempat tidur.


Bo Li tersentak kaget saat mengetahui bahwa Ivander Liam telah menunggunya di dalam kamar.


"Oh tidak...", ucap Bo Li lirih.


Terlihat Ivander Liam tengah duduk bersandar sambil memandanginya dengan sangat serius.


"Ivander Liam !", kata Bo Li setengah terpekik.


"Iya... Kenapa kamu terkejut seperti itu ?", sahut Ivander Liam.


"Oh... Tidak ! Tidak ada apa-apa ! Aku hanya kaget saja saat melihatmu di kamar karena biasanya kamu jam segini masih rapat", ucap Bo Li.


Bo Li cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan mereka agar Ivander Liam tidak terfokus padanya yang baru kembali dari danau sunyi.


"Aku sudah tidak ada rapat lagi karena mulai besok kita akan pulang ke rumah", sahut Ivander Liam.


"Pulang ?", tanya Bo Li.


"Iya... Memangnya kenapa kalau kita pulang ke rumah besok ?", sahut Ivander Liam.


"Tidak apa-apa, dan aku senang sekali mendengar kalau kita dapat kembali pulang secepatnya", kata Bo Li.


"Apa yang kamu bawa itu ?", tanya Ivander Liam.


Bo Li terkesiap kaget saat Ivander Liam menanyakan perihal tentang bungkusan kain berwarna kuning yang dia pegang sekarang.


"Maksudmu ? Ini ?", tanya balik Bo Li kepada Ivander Liam.


"Iya...", sahut pria tampan itu.


Ivander Liam memperhatikan istrinya yang baru saja kembali dari acara rekreasinya ke hutan tanpa dirinya.


Setelah kembali dari hutan, Bo Li membawa berbagai hal aneh.


Ivander Liam melihat Bo Li tengah berdiri bersama seorang perempuan berwajah cantik jelita yang melayang disampingnya dan ditambah lagi sesosok peri kecil dengan sayapnya yang kelip-kelip.


Bo Li juga membawa tas di belakang punggungnya dengan kedua tangan memegang bungkusan berwarna kuning.


Bagi Ivander Liam bahwa istrinya bukanlah wanita biasa saja dan pria itu sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh istrinya yang bernama Bo Li itu selama Ivander Liam tidak ada disampingnya.


"Astaga ! Apa yang Bo Li lakukan selama aku tidak bersama dengannya ? Membawa pulang seorang perempuan cantik jelita tanpa mengenalkannya padaku ?"


Ivander Liam hanya berbicara dalam hatinya seraya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan yang dilihatnya sekarang.


Dia melihat Bo Li langsung memasukkan tas panjang yang ada dibelakangnya ke dalam lemari serta meletakkan bungkusan kain yang dia pegang ke atas meja konsul hotel.


"Apa yang tengah Bo Li sembunyikan dariku ? Dan apa yang sebenarnya tujuan dia ?"


Ivander Liam mulai berpikir mengenai perempuan cantik yang merupakan istrinya itu yang tak kalah cantiknya dengan perempuan yang ada disampingnya saat ini dan istrinya itu seakan-akan menyimpan rahasia yang sengaja Bo Li sembunyikan dari pria berambut pirang itu.


Pria yang juga berwajah tampan itu hanya bisa menatap termangu ke arah Bo Li tanpa dia sendiri mampu berbuat apa-apa.


Hanya diam terpaku melihat semua gerak-gerik Bo Li, istrinya yang terlihat sibuk merapikan barang-barang miliknya untuk berkemas.

__ADS_1


__ADS_2