Bocil Simpanan Om Om

Bocil Simpanan Om Om
BAB 13 PERTUNANGAN


__ADS_3

Hendra langsung masuk beserta keluarga nya, sedangkan pak Ben masih mematung di depan pintu. Tiba tiba Bu Arum datang dan menarik tangan pak Ben.


"Ngapain masih berdiri di sini, ayok masuk, jangan seperti orang bodoh dan mempermalukan ku", ucap Bu Arum mendelik kesal.


pak Ben akhir nya mengikuti perkataan istri nya, dan mereka masuk ke dalam bersama.


Hendra dan keluarga nya sudah duduk di sofa sambil mengobrol ringan.


"Akhir nya kamu datang juga Nak hendra, ibu kira kamu hanya bercanda waktu itu" ujar Bu Arum sambil tersenyum ramah.


"Saya tidak akan mengingkari janji saya Bu, karena saya memang serius ingin menikahi Nisa anak ibu" jawab Hendra mantap.


"Oya Bu pak, kenal kan ini keluarga saya, mereka sengaja datang kemari untuk bersilaturrahmi dan menjalin hubungan keluarga yang lebih dekat" Hendra mengenal kan keluarga nya kepada pak Ben dan Bu Arum.


Bu Arum tersenyum ramah sedangkan pak Ben hanya bersikap dingin.


"dimana Nisa Bu? kok dari tadi saya tidak melihat Nisa?" tanya Hendra.

__ADS_1


"saya di sini" jawab Nisa yang memang sudah turun dari tadi, tapi dia malas sekali untuk bertemu dengan Hendra.


Semua orang menolah ke arah sumber suara,


"Astaga... dia Cantik banget" kata salah seorang keluarga Hendra.


Hendra yang mendengar itu tersenyum bangga.


"Nisa, kemari nak" ujar Bu Arum.


Nisa terlihat sangat cantik walaupun hanya mengenakan baju tidur lengan panjang dan celana pendek selutut.


kaki Nisa yang jenjang itu terlihat sangat putih dan bersih sekali.


Hendra menelan ludah nya kasar. "SHITTT dia cantik sekali, ingin sekali aku menerkam nya dan melayang ke alam kenikmatan". Hendra membathin. Dia mengusir semua pikiran kotor nya itu karena teringat tujuan awal nya datang kesini.


" jadi begini pak Ben dan Bu Arum , kami datang kesini bukan hanya tujuan ingin bersilaturrahmi tapi tujuan kami datang kesini adalah ingin melamar Nisa untuk Hendra" ujar orang yang paling tua di antara keluarga Hendra.

__ADS_1


Pak Ben sebenar nya tidak setuju dan sangat muak dengan orang orang ini, tapi Bu Arum selalu memaksa nya untuk bersikap manis dan menerima lamaran nya.


"jadi bagaimana pak buk? apa kah saya di terima menjadi menantu di keluarga ini" gumam Hendra dengan percaya diri sambil melirik Nisa yang dari tadi sama sekali tidak menatap nya.


"tentu saja nak Hendra, kami dengan senang hati tentu akan menerima lamaran ini, dan Nisa juga pasti akan sangat bahagia sekali" ujar Bu Arum bersemangat.


Nisa yang mendengar jawaban ibu nya itu mendengus kesal, dan Hendra dapat mengerti itu. "Nisa pasti kesal karena sudah di jodohkan dengan ku, tapi aku tidak peduli dengan semua itu, aku harus mendapatkan bibir ranum yang merah merekah itu" ujar Hendra di dalam hati sambil tersenyum licik.


Nisa tidak banyak bicara, Nisa bahkan menurut saja semua apa yang di suruh ibu nya, bukan berarti Nisa menerima perjodohan ini, Nisa hanya lelah terus berdebat dengan ibu nya karena sudah pasti akhir nya dia selalu kalah.


Hendra tersenyum saat memasang kan cincin ke jari manis nya Nisa. Tangan itu terlihat sangat bersih dan terawat.


Nisa semakin jengkel karena Hendra sengaja berlama lama memasang kan cincin nya dan mencari cari kesempatan untuk terus memegang tangan Nisa.


"bisa tidak memasang cincin nya, kalau tidak bisa aku bisa memakai nya sendiri" ujar Nisa jengkel sambil menarik tangan nya.


Cincin nya sebenar nya sudah terpasang, tapi Hendra sengaja memperlambat biar bisa terus mengelus dan memegang tangan Nisa.

__ADS_1


__ADS_2