
Nisa masih menatap Hendra dengan mata yang sayu, perasaan nya sudah tidak bisa di kendalikan lagi. Obat perangsang itu benar benar bekerja sangat bagus.
"Tolong aku Hendra" ulang Nisa.
"Pasti sayang, tapi apa yang kau inginkan?" goda Hendra seolah tidak mengerti.
"aku... Aku sudah tidak tahan lagi Hendra, aku menginginkan nya, tolong aku sekarang" pinta Nisa sambil memelas.
Hendra tersenyum penuh kemenangan.
Hendra lalu mencium bibir ranum itu, pelan dan sangat lembut. Nisa sangat menikmati nya sambil memejamkan mata.
Hendra melepaskan ciuman nya.
"Ken.. kenapa di lepas" protes Nisa kesal.
"Aku ingin kamu membalas ciuman ku sayang, pelan pelan saja, kamu pasti bisa" ujar Hendra.
Nisa pun mengangguk dan membalas ciuman Hendra, mereka berpagut mesra, saling bertukar Saliva.
"Uuummh... suara laknat itu keluar dari mulut Nisa. Sangat Sexy terdengar di telinga Hendra.
Nisa sudah seperti cacing kepanasan, Nisa sudah terbakar Gairah nya sendiri. Hendra menurunkan ciuman nya dan mendarat di buah pepaya yang cantik dan besar itu. Buah pepaya itu menggantung manja seolah meminta untuk segera di petik.
Hendra memegang buah pepaya itu, terasa sangat padat dan sangat empuk.
Nisa memejam kan mata nya, sambil menahan agar suara nya tidak terdengar ketika Hendra mengulum pucuk buah pepaya itu.
"yes honey, mendesah lah, tidak perlu kau tahan tahan suara mu, aku sangat menyukai suara laknat mu itu" ujar Hendra tanpa menghentikan aktivitas nya pada pucuk buah pepaya itu.
tangan Hendra terus menjelajahi setiap inci tubuh Nisa, hingga Akhir nya sampai lah tangan itu ke tempat yang paling sensitif dan indah itu.
Hendra memasuk kan satu jari nya ke dalam lembah itu, dan pelan namun pasti Hendra menggerak gerak kan tangan nya di dalam sana sehingga membuat Nisa melayang ke langit ke tujuh.
Tubuh Nisa menegang, dan kemudian Nisa menghentak hentak kan tubuh nya di sertai dengan suara ******* laknat.
Hendra puas melihat Nisa yang sudah mencapai *******.
"good honey" puji hendra.
Sementara di luar pintu sudah ada seseorang yang terlihat sangat marah dan kesal.
__ADS_1
Aira tidak sengaja lewat di depan kamar Hendra dan Nisa, Aira mendengar suara ******* Nisa yang terdengar sangat sexy dan menggoda.
"Dasar wanita ******, berani sekali dia menggoda Hendra dengan ******* laknat nya itu" geram Aira.
Aira semakin geram karena Hendra tidak juga mengangkat telpon nya.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku tidak akan membiarkan mereka bersenang senang di dalam sana, awas saja kau wanita ******!"
Aira berlari ke bawah menuju meja resepsionis nya, Aira mengambil kunci serep kamar Hendra, Aira bergegas pergi ke kamar Hendra dan segera membuka pintu kamar Hendra.
CEKLEK...
Pintu kamar Hendra terbuka, Aira segera masuk dan terkejut karena melihat Nisa dan Hendra sedang dalam keadaan polos.
Nisa tidak menyadari kedatangan Aira, Nisa terlalu lelah setelah menerima pelepasan pertama nya, padahal Hendra belum memasuk kan Joni nya ke dalam sana.
Nisa tertidur dalam keadaan polos.
Hendra terkejut melihat Aira yang sudah masuk ke dalam kamar nya.
"Tega sekali kau melakukan ini pada ku Hendra" ucap Aira dengan mata yang berkaca kaca.
Hendra segera mendekati Aira, "kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamar ini sayang?" tanya Hendra.
"kenapa? kamu marah karena aku sudah mengganggu aktivitas mu bersama wanita ****** itu" kecam Aira.
"sayang, jangan begitu, aku bahkan belum melakukan nya sayang, dia sudah tertidur karena kelelahan" bujuk Hendra.
Entah setan apa yang ada di dalam pikiran Aira, Aira malah tersenyum mendengar ucapan Hendra.
"Untung aku datang tepat waktu, jadi wanita ****** itu belum sempat merasakan Joni yang seharus nya hanya milik ku" bathin Aira.
Hendra yang melihat Aira tersenyum lalu langsung mengecup nya..
CUP...
Aira tersenyum senang, sedangkan Mata nya tidak pernah lepas dari si Joni yang menggantung tangguh di bawah sana.
Hendra menyadari hal itu. Hendra segera meraih pinggang Aira supaya lebih dekat lagi dengan nya.
Aira tentu saja kegirangan dan tidak menolak.
__ADS_1
Entah siapa yang memulai nya, mereka sudah saling berpagut dan bertukar Saliva.
Suara lenguhan dari mulut Aira menambah gairah Hendra semakin menyala.
Hendra menuntun Aira ke kamar mandi tanpa melepaskan pagutan nya.
Aira pasrah saja kemana Hendra akan membawa nya, Aira sudah terbakar Gairah.
Hendra membuka kancing kemeja pakaian Aira dan membuang nya ke sembarang tempat.
Kini mereka sudah sama sama polos tanpa sehelai benang pun.
Aira yang sudah tidak tahan lagi segera berjongkok di hadapan Hendra, Aira meraih Joni yang sudah tegak dengan gagah.
Aira menciumi nya dan kemudian melahap nya dengan rakus.
Aira semakin bersemangat melahap pisang Ambon itu sampai Hendra sudah benar benar tidak tahan lagi.
Aira menghentikan Aktivitas nya, Aira kemudian naik ke atas Hendra dan melakukan penyatuan.
Aira bergoyang layak nya penari jaipong, Hendra tidak tinggal diam, Hendra meremas buah pepaya itu sambil sesekali memilin pucuk nya. Aira semakin bergoyang lebih cepat lagi sambil terus mengeluarkan suara laknat nya.
"Aku akan segera sampai sayang" ucap Aira di sela nafas nya yang terputus putus.
Hendra membiarkan Aira untuk mendapat kan pelepasan pertama nya.
Setelah Aira mendapat kan pelepasan nya, Hendra segera membalik tubuh Aira, sehingga mereka bertukar posisi.
Hendra memacu tubuh Aira dengan intonasi pelan dan kemudian berubah menjadi cepat dan brutal.
Hendra menghentak kan Joni nya dengan sangat keras dan menyemburkan lahar panas ke dalam nya.
Tubuh Aira menegang karena menerima semburan lahar panas dan membuat nya mencapai pelepasan lagi.
Mereka sama sama terengah.
Hendra mencium kening Aira dengan lembut.
"terimakasih sayang, kau memang yang paling mengerti aku" puji Hendra.
Aira jadi tersipu mendengar pujian dari Hendra.
__ADS_1