
Rumah dibetulkan dan dibersihkan dalam waktu singkat. Buwin menawari Baramun untuk makan malam bersama tapi tetap ditolak.
Fang mencari kesempatan ketika semua orang sibuk membenahi peralatan, mengapit lengan Baramun lalu menarik jendral iblis ke dalam rumah. Pintu di kunci, Fang mengendus. "Penyamaran kali ini tidak memakai bantuan alat sihir?"
"Rajaku memberi pil pengubah bentuk. Satu tablet dapat bertahan tiga bulan."
"Aku baru tahu kalau rajamu pintar menyuling obat. Bukankah dia jalur pendekar? masih dapat melakukan alkimia juga?"
Baramun tutup mulut. Ramuan pil bukan Kuro yang menyuling. Ada dua ahli penyuling pil yang diculik dari dunia atas dan dipaksa melakukan kontrak hidup mati dengan Kuro. Sudah sepuluh tahun, dua ahli yang diculik masih dalam list pencarian orang hilang.
Fang tidak terus mencari tahu. Entah darimana obat itu berasal, yang dia butuhkan sekarang adalah batu biru untuk ditemukan.
"Pernahkah kamu mendengar tentang empat batu rumion?"
"Rumion? kakek buyut ku pernah mengatakan satu atau dua hal tentang batu langka itu. Ditempat kami, baru merah menjadi salah satu dari ke empat seri batu rumion."
Tubuh Fang menggigil senang. "Kakek buyut mu, masih hidup?"
Baramun muram. "Sudah meninggal lima puluh tahun lalu, terbunuh."
"Ouwh. Maafkan aku."
Baramun tidak merasakan apapun. Ras Iblis tidak terlalu memandang hubungan keluarga. Kepentingan kelompok adalah yang utama.
"Jadi ini alasanmu mengunci pintu?"
"Tidak. Aku ingin kamu membawaku ke kota kabupaten besok. Bisa? Terimakasih." Fang tidak menunggu persetujuan Baramun dan bergegas ketika Gana memanggil namanya.
Malam hari. Desa sangat sepi. Baramun berdiri di pekarangan luas. Udara sejuk diikuti bau darah segar, sesekali menggodanya. Mata hitam Baramun berubah menjadi merah, berkedip lalu kembali seperti semula.
Duduk di dalam ruangan kosong. Baramun berencana segera tidur. Hanya saja, setiap kali usahanya ditingkatkan semakin sulit dia terlelap.
Ayam berkokok mengejutkan Baramun yang baru saja terlelap. Tidur tanpa alas, tubuh Baramun kaku dan tiap persendian terasa sakit.
Merenggangkan tubuh, bunyi tulang terdengar renyah. Menguap lebar, Baramun linglung sesaat.
Membuka jendela rumah, Baramun bertatap wajah langsung dengan Fang yang menunggu.
"Astaga!"
__ADS_1
"Iblis bisa terkejut?" Fang mencibir penuh penghinaan. "Cepatlah."
Sakit kepala dengan kemunculan Fang di pagi hari, membanting jendela untuk ditutup, Baramun mengeluarkan semua barang yang disimpan pada cincin penyimpanan.
Ruang penyimpanan pada cincin tidak terlalu besar. Kebanyakan apa yang dibawa oleh Baramun merupakan senjata dan juga obat-obatan. Berganti pakaian yang lebih bagus dari yang kemarin, Baramun keluar dari rumah berukuran satu kamar tanpa sekat.
"Ayahmu tahu kamu kemari?"
Fang mengangguk. Dia sudah minta izin untuk menemani Baramun setelah memakan sarapan. "Cuci muka dan bersihkan mulut mu. Kamu punya sikat gigi kan?"
"Sikat gigi?"
Ck,ck. Peradaban yang tertinggal nampak dari bagaimana cara suatu kelompok hidup. "Kamu tunggu."
Fang kembali ke rumah dan mengambil sikat gigi bekas milik Gana yang sedikit botak pada bagian bulunya. "Kamu pakai ini. Beli yang baru saat di kota kabupaten nanti."
***
Fang memaksa Baramun membiarkan dirinya duduk di atas bahu iblis itu. Menjambak sejumput rambut, Fang juga tanpa sengaja memukul kepala Baramun ketika melihat sekitar.
"Kamu lihat!! Ayam yang dipotong di rumah jagal itu selalu berukuran besar. Dijual di kota kabupaten dengan harga tinggi!"
"Hey, kenapa kamu diam? Kamu bisu sekarang? hey, Baramun???"
Baramun yang tidak pernah membaca puisi, melafalkan sebait puisi penenang hati yang dia hafal. Kalau tidak salah ingat, bait puisi ini dia dengar ketika bermain di rumah bordil. Seorang penghibur menuangkan teh lalu mengatakan banyak hal yang sebagian tidak dirinya pahami.
"Ayam enak, daging enak, buah enak, sayur..aku tidak terlalu suka. Susu enak, makanan gratis enak, apapun itu yang enak akan ku makan." Fang berceloteh seperti orang idiot.
"Ayah, ibumu tidak ada niatan membuang mu?" Bocah ini banyak makan sampai gendut dan berat, bicaranya juga agak menyebalkan, jika terlahir di dalam ras Iblis di detik bocah ini dilahirkan pasti sudah dibuang!
Memutar bola mata, Fang yang sedari tadi berakting menyebalkan jadi malas sendiri. Tidak usah kekanak-kanakan, cukup menjadi apa adanya saja kalau bersama Baramun.
"Sekarang kamu diam?"
Baramun mendongak, anak ini tidak marah kan? "Fang, jujur padaku. Kamu masih anak-anak atau menyamar? Usiamu sebenarnya sama seperti aku kan? Kamu kurcaci yang mengambil sarang orang kan?"
Fang mengambil segumpal kapas yang sering dia bawa dan simpan di dalam dompet. "Menurutmu?"
Kali ini Baramun lah yang bicara banyak hal tapi Fang yang sudah menyumpal telinga dengan kapas memandangi jalanan yang dilewati.
__ADS_1
***
Pedagang senang ketika tamu belanja. Baramun yang kekurangan furnitur, mendatangi toko dan membeli ranjang, lemari pakaian, laci, rak dah masih banyak lainnya.
Tidak punya gerobak untuk membawa barang belanjaannya, Baramun membayar untuk biaya pengantaran dan semua akan dikirim sebelum sore.
"Tuan tenang saja. Semua akan diantar sebelum malam."
Keluar dari toko, Fang yang berjalan di depan mencium aroma manis. Berdiri di depan penjaja makanan ringan, Fang menunjuk permen. "Belikan aku dua."
"Bayar sendiri."
Fang menyipitkan mata. Mengeluarkan dompet lalu membayar dengan uangnya sendiri. "Pelit."
Penjual tertawa. "Ini ayahmu? Nak, bibi akan memberi satu sebagai bonus. Jangan marah karena ayahmu pelit."
Wajah Baramun gelap. "Aku bukan..."
"Bibi cantik, kamu sebaik ibuku." Ucap Fang memotong Baramun.
Berdiri di pinggir jalan, Satu kecil dan satu besar menonton orang-orang yang lewat. "Makannya sudah selesai? ayo kembali." Baramun tidak betah. Semakin lama tinggal semakin banyak orang yang berkumpul.
Fang terus melihat sekitar. "Kamu pikir hanya ras mu saja yang berpikir untuk mengambil alih wilayah bawah? Kamu meremehkan banyak hal, huh?"
Alarm dinyalakan. Baramun setengah berjongkok, "Ada ras lain yang menginginkan wilayah bawah juga?"
Tentu saja ada.
Ras elf. Populasi mereka tidak banyak, hanya sekitar ratusan ribu. Tapi kekuatan sihir mereka sangat mumpuni.
Pertempuran perebutan wilayah bawah terjadi antara ras iblis dan elf saat bangsa iblis baru menempati wilayah bawah selama dua tahun. Seorang elf cacat adalah pemimpin yang membawa pasukan terkuat untuk merebut kekuasaan.
Dalam dua hari pertempuran, Elf kalah. Bukan karena tidak terlalu kuat. Tapi karena pemimpin mereka tidak sengaja terluka untuk melindungi adiknya yang diam-diam bergabung dalam pertempuran.
Elf cacat harus mendapatkan luka panah dan tebasan pedang. Kepala elf cacat diambil dari tubuhnya dan dijadikan pertunjukan di depan pintu masuk wilayah bawah. Kehilangan pemimpin dalam peperangan membuat mental prajurit jatuh.
Sisa yang selamat melarikan diri sedang adik dari elf cacat menjadi elf buangan.
"Fang? Fang?"
__ADS_1