Broken Sword

Broken Sword
Ch. 36: Tiga Tahun Berlalu


__ADS_3

Baramun yang memastikan Fang diurus dengan benar kembali ke kamarnya sendiri yang tepat disebelah kamar Fang. Menyentuh tanduk yang tumbuh menjadi enam atau tujuh centimeter, Baramun jadi tidak yakin tentang Fang yang berjanji dapat menumbuhkan tanduknya itu.


Minggu pertama dibawanya Fang ke wilayah iblis, beberapa tetua sedikit menolak namun Kuro adalah pemimpin nyata. Walaupun ada suara penolakan selama Kuro setuju, semua suara negatif akan hilang .


Satu tahun empat bulan. Fang koma selama itu dan tidak ada yang tahu kapan anak itu bangun. Kuro juga tidak semata-mata memberi pertolongan cuma-cuma. Hutang akan tetap dihitung.


Semakin lama Fang tinggal di sini semakin tinggi jumlah hutang yang harus dibayarkan Fang.


Baramun tidak tahu apa yang diinginkan Kuro dari Fang. Anak berumur sebelas atau dua belas tahun, apa yang bisa dia berikan? Fang juga tidak punya bakat bertempur atau sihir.


Tidak mau berpikir terlalu lama dan dalam, Baramun memilih untuk melakukan meditasi dan mempercepat menaikkan tingkat levelnya.


Padahal Baramun lupa satu hal. Dia tidak tahu alasan empat batu yang dikumpulkan Fang!


***


Senang karena warna akar ilahinya pada dentian yang dulu hijau kini berwarna merah setelah melatih dan melakukan banyak pemurnian pil, Fang yang juga turut mencoba hasil pil itu sendiri sekarang sangat berterimakasih pada kekuasaan empat batu!


Semua pil yang gagal dibuat tidak mencederainya tapi makin memperkuat pondasi latihan. Dari kegagalan itu, pil yang dimurnikan ulang akan dihasilkan dari proses yang paling sempurna.

__ADS_1


Tidak ada efek samping sama sekali! Padahal penyihir yang melakukan pekerjaan sebagai pemurni pil tidak mungkin bisa menghasilkan pil sempurna. Masih akan ada persentase kekurangan.


Misalnya pil penguat tulang yang pertama Fang buat. Toko obat paling terkenal saja hanya punya pil penguat tulang yang berpotensi 80%. Tersisa 20% efek samping yang memungkinkan pengguna mengalami kerusakan pada tubuh.


Efek samping dari pil yang digunakan juga beragam. Ada yang sekedar lemas dan terparah menghancurkan pembuluh darah otak dan membuat meninggal dalam waktu dekat. Tergantung dari level pil itu sendiri. Semakin tinggi levelnya, semakin berbahaya efek sampingnya.


Dalam jumlah tidak terhitung, Fang tidak ingat sudah menelan berapa banyak pil. Dia tidak mengalami gejala efek samping, maka diasumsikan semua latihan di dunia dimensi telah membuatnya menghasilkan pil terbaik!


Sekarang setelah dia memiliki akar ilahi merah, Fang mampu mengakses kesadaran atau memori dari pendahulu yang menciptakan dimensi mimpi dari empat batu.


Telah ada dua orang sebelum Fang yang sukses menyelesaikan semua latihan disini. Ribuan tahun lalu, seorang manusia tanpa ilmu pengetahuan yang terlalu bodoh dan tidak dapat membedakan benda keras dan makanan nyata terjebak di dunia mimpi. Mungkin benar kata pepatah, orang bodoh selalu terhindar dari petaka. Manusia pertama yang hanya berputar-putar tanpa bosan malah lebih cepat merubah warna akar ilahi dari kuning ke hijau daripada Fang.


Fang yang mengira sudah banyak orang yang berhasil merubah takdir dengan menelan empat batu berkeringat dingin. Kalau dia sempat putus asa, bukankah dia akan menjadi orang gagal dan terjebak untuk mati?!


***


Tahun ke tiga sejak Fang koma.


Baramun yang masih mengharapkan tanduknya cepat tumbuh akan mengukur menggunakan tali.

__ADS_1


Pelayan yang membawa air di lorong menjerit kaget. Pedang hitam milik Kuro entah mengapa melesat dan hampir menembus tubuhnya.


"Astaga!"


Baramun keluar dari kamar ketika mendengar suara ribut dan refleks menunduk. Pedang hitam milik Kuro hampir menancap ke lehernya!


Kuro yang berlatih pedang, awalnya menunggangi kuda dan menebas papan sasaran. Tapi pedang yang dia ciptakan dari baru hitam hasil membunuh binatang surgawi terlepas dari tangan.


Bukannya jatuh ke tanah, pedang itu malah melesat ke satu arah. Kuro mengejar tapi masih kalah cepat.


Memasuki kediaman Baramun, Kuro yang ingin mengingatkan Baramun untuk waspada melihat pedangnya sendiri menembus pintu kamar Fang.


"My king." Baramun menyapa Kuro.


"Pedang itu mungkin punya kesadaran dan memilih tuannya." Kuro yang menghabiskan sumber daya dan tenaga mendapati pedang yang dia ciptakan berbaring di samping tubuh Fang.


Baramun berwajah canggung. "Ini.."


Kuro melambai. "Anak itu berhutang padaku, tambahkan saja lagi." Tidak mungkin memaksa pedang yang punya kesadaran untuk tunduk setelah memilih tuannya, Kuro melenggang pergi.

__ADS_1


__ADS_2