
Tengah malam Baramun secara sembunyi-sembunyi membuka jendela kamar Fang. "Nak, kamu masih terjaga?"
Menguap, Fang mengucek mata. Setelah makan malam dia mengantuk dan hampir tertidur. Untung tekatnya sangat kuat. "Hmm."
Mengeluarkan Fang dari rumah dan membantu bocah itu memanjat tembok, Baramun menahan nafas ketika wajahnya dijadikan sanggahan pijak kaki.
Duduk di atas tembok pagar, Fang melihat bulan purnama berwarna merah. "Nampaknya tuanmu semakin kuat."
Baramun tidak mengerti.
Jari Fang menunjuk ke arah bulan yang penuh, "Kamu lihat warna bulan sekarang? Itu merah."
"Jadi apa hubungannya?"
Iblis bodoh!
Fang malas untuk menjelaskan panjang lebar. Sepertinya perlu membelikan buku sejarah iblis untuk dibaca oleh iblis itu sendiri agar tahu tentang nenek moyangnya!
"Kamu loncat dulu, aku akan turun."
Baramun menunggu di sisi lain lalu kembali wajahnya diinjak.
***
Arai pelindung makin terlihat ketika malam. Fang menyentuh arai dan perasaan kesemutan pada telapak tangan membuat Fang menarik kembali tangannya. "Kamu yakin tubuhmu mampu melewati arai pelindung? Yang kutahu, jika tidak berhati-hati dan sembarangan, tubuh yang melewati arai akan terbakar hangus."
Baramun mencibir, "aku salah satu jendral terkuat. Tidak akan mudah mati!"
Ya, ya, ya. Terserah saja.
Kalaupun hangus, paling hanya harus membersihkan abu dan menunggu orang kepercayaan Kuro datang untuk mengambil pulang kotak abu Baramun. "Terserah. Aku hanya akan menunggu disini."
Mengeluarkan potongan kertas berwarna putih dan kuning, Baramun telah mempersiapkan tinta merah untuk pengganti darah. Menggambar dan menulis di atas kertas kuning dan putih, Fang sedikit tidak puas.
"Tulisannya bengkok. Ini dapat menyebabkan menguranginya potensi kerja kertas jimat."
"Lalu aku menggambar ulang?" Baramun dan kegigihannya seperti batu karang.
Termenung selama satu jam. Baramun menggaruk kepala malu. Tulisannya tetap bengkok dan tidak berubah menjadi lebih bagus. "Kalau begitu, kamu saja yang menggambar nya?"
"HAH!!" Fang yang geram telah membuang buang waktu menarik nafas kuat-kuat.
Merampas dua lembar terakhir kertas, Fang tidak memakai tinta merah tapi memakai darahnya sendiri. Meneteskan dara dari ibu jari pada cawan kecil, Fang mulai menggambar di atas jimat.
"Ambil."
Sedikit membungkuk hormat, Baramun tidak bertanya mengapa Fang tahu cara menggambar jimat. Bocah ini sebuah misteri, semakin dikupas semakin dalam kebenaran yang hampir terkuak.
"Jimatnya akan berhasil?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Jimat ini tidak punya energi sihir, setelah kamu melewati arai, segera suntikan energi sihir pada kertas putih. Jika jimat ini berfungsi. Setelah terbakar, luka dalam mu tidak akan terlalu parah."
Baramun mengangguk paham dan menempelkan kertas jimat di bagian tubuh depan. "Aku akan lewat sekarang."
Baramun berdiri di depan arai pelindung lalu melewati pembatas.
Bau hangus tercium, Fang menutup hidung dan berdiri di sisi lain ketika Baramun berhasil melewati batas. "Kamu. Apakah organ mu terasa panas atau meleleh?"
"Organ dalam ku sedikit rusak." Baramun terengah-engah. Seperempat jam kemudian diposisi tepat dimana batu merah terkubur, Baramun menggali tanah sampai kotak yang di tanam beberapa tahun lalu terlihat.
"Aku melihat kotaknya."
"Bagus. Ambil saja batu merah dan tinggalkan kotaknya. Tempelkan jimat kuning lalu suntikan energi sihir sebelum kamu lewat."
Kembali menempelkan kertas mantra setelah memulihkan diri di luar arai pelindung dengan mantra sihir, Baramun kembali merasakan perasaan terbakar di sekujur tubuh.
Tersungkur, Baramun ditangkap oleh Fang dan mereka berdua jatuh bersama.
"Sialan." Fang yang terjepit dibawah kehabisan nafas.
***
Empat batu berukuran kelereng kini berada di atas telapak tangan Fang.
"Kemana Baramun? Tumben belum datang untuk makan siang bersama." Aira yang keluar dari dapur dengan piring terakhir yang selesai dimasak bertanya pada Fang.
"Katanya sakit. Setelah makan aku akan menengok sebentar, bawakan saja makan siang untuk dia maka sendiri." Kata Gana yang berbaring santai di depan teras rumah, mengipasi dirinya dan Fang dengan kipas bambu ringan.
Fang meraih kembali batu, "ayah, jangan sentuh barang ku tanpa izin."
"Ayah masih harus minta izin pada kamu?"
"Tentu saja. Aku sudah dewasa, aku perlu ruang sendiri dan privasi."
"Ckckck, membesarkan anak masa kini jauh sekali dari pada dulu. Kalau kamu anak ayahku, dijamin pantat mu bukan lagi pantat!"
"Ayah tidak boleh memukul aku juga!"
Fang kabur ke kamar, tapi keluar lagi setelah ingat dia belum makan.
"Bocah." Cibir Gana.
***
Demam tinggi baru turun dihari ke dua. Baramun yang mengira dirinya sekarat tidak takut mati dan memaksa minum semua ramuan pahit yang diberikan Juan untuk dia minum.
"Kukira lidahku akan terlepas. Pahit sekali."
"Memangnya ada obat yang terasa manis?"
__ADS_1
Fang duduk di pinggir ranjang, jemarinya masih memainkan empat batu.
"Batunya belum kamu gunakan?"
Fang mengantongi batu ke dalam dompet kain, "aku bimbang. Penggunaan batu ini sangat jarang dan catatan medis tidak menjabarkan efek samping atau kemungkinan terburuk yang akan terjadi setelah menggunakan empat batu."
"Kamu dapat mati? Maka jangan dipakai!"
"Hehe, kamu mengkhawatirkan aku? Tidak sia-sia dibudidayakan selama bertahun-tahun."
Baramun menyentil Fang, "Aku bukan anjing."
Kedatangan Fang mempunyai maksud. "Aku datang bukan sekedar menjenguk."
"Sesuai tebakan ku. Kenapa?"
Fang tersenyum santai, ekspresinya terlihat tenang. "Kalau aku mati, bilang pada ibu dan ayahku kalau aku tidak akan masuk akhirat."
bah,bah,bah.
"Apasih yang kamu katakan. Omong kosong."
Kemungkin gagal mungkin saja terjadi. Fang tidak mau Gana dan Aira sedih. "Aku tidak akan terlahir kembali. Mungkin saja aku terlempar ke dimensi dan waktu lain."
Terbelalak. Baramun seperti mengerti tapi juga tidak mengerti. "Ka, kamu hantu?"
"Pikirkan apa yang kamu suka."
***
Fang ditemukan koma.
Gana telah memanggil Juan dan dokter di sekitar desa tapi Fang tidak pernah bangun. Membawa ke kota kabupaten dan ibukota, semua dokter mengatakan putranya terkena kutukan yang membuatnya tidak akan bangun.
Aira menjadi depresi. Tubuh wanita itu semakin hari semakin kurus dan bungkuk. Setiap hari, Aira tidak mau beranjak jauh dari Fang, menggenggam tangan putranya dengan pandangan nanar.
Gana berulang kali mencoba menyemangati sang istri, tapi Aira tidak mau mendengar dan pada akhirnya jatuh sakit.
Berbaring lemah di kasur yang tidak jauh dari Fang, Aira menoleh melihat suaminya. Dalam kurun dari setengah tahun, rambut Gana memutih semua. Pria yang dulu sehat juga lebih kurus.
"Kamu tidak boleh sakit."
Gana tersenyum lembut. "Tidak akan. Ayo makan bubur dan minum obatmu."
***
Baramun memapah pulang Gana yang terlalu lemah untuk berdiri di kakinya sendiri. Hari ini adalah hari pemakaman Aira, wanita itu terkena malaria dan akhirnya meninggal.
"Bagaimana ini. Istriku telah pergi, jika Fang juga pergi, aku tidak mau hidup lagi."
__ADS_1
Tidak setuju atas perkataan Gana, Baramun menepuk Gana untuk lebih tegar.