
Anak setengah tanggung berbisik-bisik bicara dengan teman yang dikenal. Penerimaan murid baru sama seperti tahun-tahun lalu, tidak ada orang tua yang ikut mendampingi, hanya anak yang ingin belajar yang mendaftarkan diri sendiri.
Meja pendaftaran sekolah berjumlah lima. Fang yang datang terlambat antri dibarisan belakang dan menunggu lama hingga gilirannya. Kakek tua menerima berkas pendaftaran Fang.
"Tiga tahun lalu kamu berhenti sekolah. Kenapa melanjutkan kembali?" Akademi sihir grade S sangat teliti dalam memilih bakat siswa. Jika diterima murid pemalas, walaupun awalnya diterima pada semester kedua akan dikeluarkan tanpa hormat.
"Aku punya sakit serius yang membuat aku koma. Sekarang tubuh ku sudah pulih sepenuhnya dan ingin kembali belajar. Harap guru menerima"
Kakek tua mengelus janggut. Menatap Fang dengan mata menyidik. Lalu berkata, "pada kartu keluarga hanya ada kamu seorang. Tidak punya orang tua, bagaimana kamu membayar uang semester?"
Menjawab dengan tenang, "ayahku meninggalkan warisan yang cukup untuk aku gunakan hingga lulus sekolah. Guru tidak perlu khawatir, aku tidak akan menunggak."
Sebenarnya warisan yang dimaksud adalah uang yang dikumpulkan Fang ketika menjual pil obat pada bangsa Iblis. Karena sifat sombong, meski obat pil terbuat dari bahan obat-obatan murah, para iblis masih membayar dengan harga tinggi dan memberi tip juga.
"Kalau benar, tempelkan cap jarimu." Kakek tua mengeluarkan form pendaftaran atas nama Fang. Menyimpan berkas pada tumpukan siswa yang diterima, Fang juga diberi satu tas berisi seragam sekolah, buku, dan juga plakat kecil sebagai tanda pengenal.
"Akademi punya kafetaria gratis untuk murid. Ini hari pertama, koki sengaja memasak untuk mengetahui makanan apa yang disukai oleh murid baru. Kamu pergi dan cobalah."
__ADS_1
Berterima kasih setelah menerima tas penyimpanan, Fang menuju kafetaria yang ditunjuk. Ruang makan akademi luas sekali. Meja dan kursi makan ditata rapi dan enak dipandang. Kembali berbaris, Fang mengambil nampan makanan dan mengikuti alur.
Asisten dapur menyapa murid yang datang. Fang diberi satu mangkuk nasi, tiga makanan utama, dua jenis sayuran berbeda dan satu sup bening. Terlihat mewah tapi kurang dalam bumbu.
Seorang yang duduk di meja yang sama mengeluh. "Tampilannya saja yang luar biasa tapi rasanya kebanyakan hambar."
"Habiskan jangan disisakan. Kita akan menulis di kotak saran untuk makanan yang lebih enak nanti" Teman kecil lain membujuk dan meja kembali tenang.
Makan lahap, Fang meninggalkan kafetaria lebih cepat. Tidak lupa juga berkomentar kalau makanannya terlalu berminyak dan kurang garam!
***
Teman seangkatan Fang dua tahun lebih muda darinya. Kebingungan tidak berhasil menarik ujung seprai.
"Maru kubantu" Fang mengambil alih.
Anak itu malu-malu, "Terimakasih. Oh ya, perkenalkan namaku Zuya"
__ADS_1
"Fang"
"Kalian sudah tiba?" Salah satu senior tersenyum. "Selamat datang. Sudah berkeliling akademi?"
Fang menggeleng. Zuya yang malu bersembunyi dibalik tubuh Fang.
"Nah, aku berbaik hati menawarkan diri. Mari ikut aku."
Senior bernama Pawin mengajak Fang dan Zuya untuk mengenali lingkungan akademi. "Kelas terbagi menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama untuk murid tahun ajaran baru, setelah setahun baru naik tingkat dua dan seterusnya."
Bergeser dari ruang kelas, Pawin membawa mereka melihat perpustakaan. Fang yang pernah melihat perpustakaan ini di kehidupan sebelumnya tidak seantusias Zuya.
"Kamu tidak tertarik?" Pawin yang melihat keanehan Fang bingung. "Unik sekali. Biasanya anak baru akan berbinar. Lihat Zuya. Nah seperti itu seharusnya."
Cuek, Fang masuk ke dalam perpustakaan. Tanpa diberitahu, dia bertemu penjaga perpustakaan dan mendaftarkan nama untuk membuat kartu anggota.
"Keluarga mu pernah bersekolah disini ya?"
__ADS_1
"Begitulah" Jawab Fang asal.