Broken Sword

Broken Sword
Ch. 27: Cengeng


__ADS_3

Dikatakan sebagai makhluk gendut, Fang meratakan bibir. Gana yang tidak mendapat sanggahan atau keluhan putranya jadi canggung. Nampaknya dia telah menyinggung leluhur keluarga.


Benar saja kan. Fang mengabaikan Gana seolah tidak melihat atau mendengar suara sang ayah. Makan dalam diam dan berhentilah ketika semangkuk nasi habis. Tidak membalas sewaktu ditanya Aira dan kembali ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


"Kamu buat apalagi hah?!" Aira mencubit pinggang suaminya geram.


Gana juga tidak tahu kalau jadinya begini meringis perih. Mengintip ke dalam kamar, Fang tidak menoleh. Duduk di atas ranjang kecil putranya, Gana berusaha membuka topik tapi Fang tetap tidak mengatakan apapun.


Besoknya pun masih sama. Fang hanya bicara pada Aira saja, Gana yang mengempis mengancam tidak akan mengantar Fang sekolah dan putranya berbalik mengetuk pintu rumah Baramun.


"Antar aku ke sekolah."


Baramun melihat Gana yang menyusul lalu menggendong Fang untuk naik di atas pundaknya. "Baiklah."


Aira yang melihat suaminya kembali, "Fang mana?"


"Aku salah!! Fang tidak menginginkan aku lagi sebagai ayahnya." Gana sang ayah tua menangis.


Luhan yang akan memberi makan ayam di halaman rumahnya menguping. Ckck, tubuhnya saja yang besar tapi tetap cengeng.


Baramun berjalan dengan langkah lebar. Sampai di depan gerbang sekolah, Fang meneriaki Juan untuk menunggunya.


"Siapa yang mengantar mu tadi?" Juan telah bertemu Gana. "Saudaramu?"


"Aku dan dia, memangnya ada kemiripan? Aku lebih tampan!"


Tiba di kelas, anak-anak duduk di bangku dan membahas kejadian kemarin. Mendapati Fang telah tiba, tidak satupun dari mereka berani bicara. Cemas ditatap langsung, anak perempuan yang duduk di meja depan menggeser meja supaya tidak menghalangi jalan.


Juan yang terbiasa dijauhi tidak merasakan perbedaan hanya Fang, mendengus, dia duduk ditempatnya. Setengah membanting tas kain berisi buku dan kotak makan, Fang mengabaikan semua pasang mata.


Wali kelas datang. Wanita yang kemarin bicara lemah lembut hari ini berkata dengan nada tegas. Mengkritik tiap anak yang ikut mengejek teman sekelas, menyatakan apabila kejadian kemarin terjadi kembali di dalam kelasnya, segera laporkan pada guru atau guru piket dan tidak main hakim sendiri.


Fang akui bahwa wali kelasnya masih berhati lembut. Mengetahui bahwa dia yang membuat keributan, guru tidak marah padanya, malah mengingatkan anak-anak di kelas meningkatkan kesadaran untuk saling menjaga dan berteman.


Maya yang baru saja menggeser meja menoleh untuk bertatapan langsung dengan mata bulat Fang. Gadis cantik tersenyum minta maaf dan Fang tidak ambil pusing.


Anak-anak adalah selembar kertas polos. Selama orang dewasa mengingatkan dan memberi arahan ke jalan yang benar, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi baik. Ilmu itu penting, namun jika tidak disertai adab percuma saja.


Kelas pertama diisi untuk membahas karakter. Anak paling bandel pun akhirnya menyadari kalau kenakalannya bisa membawa masalah besar bagi dirinya dan orang tuanya. "Guru, aku akan berubah!"

__ADS_1


Wali kelas senang, tidak sia-sia bicara panjang lebar sampai tenggorokan terasa kering.


***


"Kamu tidak dijemput?" Juan mencari keberadaan gerobak sapi milik keluarga Fang dan tidak melihat sosok ayah Fang.


Fang menggeleng. Dia sedang perang dingin, tidak mau berduaan saja dengan Gana. "Aku pulang sendiri."


Gana yang akan mendatangi putranya ಥ⁠╭⁠╮⁠ಥ


"Fang.."


Melihat Gana berdiri sedikit tersembunyi di balik tembok pagar sekolah, Fang memutar dan masuk ke dalam sekolah.


Hamid yang membantu anak kecil yang tersesat ditabrak oleh Fang. Menyentuh hidung yang sakit, mata Fang berbinar.


Sekolahnya dengan sekolah Hamid berada di satu kompleks yang sama. Berencana mencari waktu untuk menemui Hamid, tanpa sengaja malah bertemu sekarang.


"Kakak!"


Hamid tersenyum, "Halo, kita bertemu lagi."


"Belum!! Kakak, mau temani aku sampai dijemput lagi?"


Juan yang berdiri di tengah menatap pada Gana lalu pada Fang yang bergandengan tangan dengan orang asing. "Paman, aku akan pulang dulu. Permisi."


***


Baramun yang dipanggil Gana keluar dan melihat ayah Fang itu bertampang layu.


"Maaf, bisakah kamu menjemput Fang? Dia, dia." putraku tidak mau ikut pulang.


Gana yang terengah-engah menghapus air mata dengan sia-sia.


Baramun terkejut saat orang dewasa seperti Gana malah menangis. Iblis yang tidak tahu tentang arti emosional mengangguk dan bergegas mengunci pintu rumahnya.


"Aku akan menjemput. Kamu berhenti menangis." Sudah tua begitu, mengapa mudah menitikkan air mata.


Gana menyerahkan tali kekang sapi dan berjalan pulang sebari menghapus air mata dan menarik ingus agar tidak mengalir.

__ADS_1


Sebelum mencapai rumah, Luhan meledek Gana. "Usiamu lewat dari empat puluhan, tidak malu menangis begitu hah?"


"Kamu tidak mengerti. Anak itu separuh dari darah dagingku. Dia membenciku, dia mungkin tidak mau punya ayah seperti aku."


Luhan jadi merasa bersalah. "Berhenti menangis. Fang masih kecil, wajar merajuk. Nanti dia akan lupa dan semua akan kembali seperti semula."


"Benarkah?"


"Benar. Semua yang kukatakan benar!"


***


Hamid dibuat senang. Fang terus menerus menceritakan masa kecilnya. Membayangkan kalau orangtuanya masih hidup mungkinkah dirinya akan sama seperti Fang?


Dua cakar Fang memeluk lengan kiri Hamid, mengintip wajah pemuda yang terus berekspresi lembut. "Kakak, apakah kamu akan melanjutkan pendidikan ke sekolah di wilayah menengah atas?"


"Kamu tahu?"


Fang memamerkan barisan gigi putih. "Ikat rambut kakak! Itu dari akademi sastra, satu-satu nya berada di wilayah menengah."


Sekolah sastra didirikan untuk anak berbakat yang kemampuannya tidak terlalu bagus dan dimasa depan bisa bekerja sebagai staf biasa. Orang kaya yang tinggal di wilayah bawah juga diberi kesempatan untuk mendaftar, menambah popularitas akademi sastra.


Fang berjinjit dan Hamid mengakomodasi, mendekatkan telinganya untuk mendengar bisikan Fang.


Semakin di dengar semakin aneh ekspresi pada wajah Hamid. Fang yang telah menanamkan benih kecurigaan mengubah topik dan bercerita hal lain.


Baramun yang duduk di atas gerobak sapi mengeluh atas hawa panas di atas kepalanya. Mengikat tali kekang pada penitipan khusus, Baramun bisa melihat sosok Fang yang bertingkah manja.


"Disini dia tertawa lebar tapi dirumah ayahnya dibuat menangis. Monster cilik."


"Bukankah itu saudaramu?" Hamid yang menjaga Fang supaya tidak jatuh menunjuk pada Baramun yang berdiri di depan gerbang sekolah.


Fang melepas Hamid, "kakak aku pulang. Setelah kamu pergi, mari bertemu lagi di wilayah menengah!"


Tidak ambil serius atas perkataan Fang, Hamid yang berencana melatih level lanjut sihirnya malah bertemu Fang sepuluh tahun kemudian. Kenangan singkat yang tidak lebih dari satu hari jika digabungkan merupakan salah satu kenangan hangat yang paling dirindukan Hamid.


Baramun menyentil wajah Fang. "Ayahmu dibuat menangis, kamu anak berhati dingin."


Fang menutupi bagian kening yang disentil. "Ayahku menangis?" Fang kira Gana hanya pura-pura! Ternyata ayahnya menangis sungguhan?!

__ADS_1


"Ayo, ayo, cepat pulang!"


__ADS_2