
Rumah kecil Juan menjadi lebih sempit. Saat makan malam, Juan memasak sepanci sup kerang yang dikumpulkan oleh kakaknya yang bodoh. Tidak ada nasi ataupun sayur, Fang menghela nafas.
Baramun juga menjadi tidak enak. Berkata akan kembali untuk mengambil gerobak sapi dan kembali besok pagi, tersisa Fang, Juan dan kakak bodoh di meja makan.
"Ayahmu sudah makan?" Fang ragu mengambil sendok, khawatir makanan yang disajikan di depannya adalah satu-satunya makanan di rumah Juan.
"Ayahku sudah makan. Makanlah"
Fang melirik pemuda awal dua puluhan yang ngiler pada panci sup kerang berwarna bening. Mendorong panci lebih dekat untuk diambil kakak laki-laki Juan, tapi kakak bodoh malah menatapnya dengan mata polos.
Aduh.
Fang malu.
"Kakakmu, siapa namanya?"
Juan mengetuk lembut lengan kakaknya. "Grant. Tahun ini akan berumur dua puluh dua tahun"
Fang hampir tersedak oleh ludahnya sendiri. "Namanya cukup menarik."
Juan tersenyum. "Ibu dan ayahku bukan orang berpendidikan. Namaku diberikan oleh kakak ku yang sudah membaca di sekolah"
Tiba-tiba suasana berubah melow. Perut Fang yang lapar keroncong. Juan mengambil mangkuk dan menuangkan banyak kerang ke dalam mangkuk Fang dan menyisakan masing-masing lima untuknya dan Grant.
"Cukup. Kerang ini kakakmu yang mengambilnya, berikan dia lebih banyak."
Juan mengerti dan mengambil tiga kerang milik Fang ke dalam mangkuk Grant.
"Aku belum pernah makan makanan seperti ini, ajarkan cara makannya."
Kerang berukuran kecil dibuka satu persatu dan dimakan bersama kuah sup bening tanpa sayuran. Fang yang kembung oleh air sup setengah berbaring di meja, "tidak usah berikan aku air minum. Aku tidak terlalu haus."
__ADS_1
Suara batuk dari dalam kamar terdengar, Grant yang mengelap meja melempar kain lap dan masuk ke kamar. "Kakakmu sangat perhatian. Dia berlari ketika ayahmu batuk."
Juan mengiyakan. "Kakak sakit tapi dia protektif. Kalau ada anak di desa yang mengganggu aku, dia akan memukul mereka semua. Takut dipukuli, aku tidak punya teman bermain"
"Saat ayah sakit parah dan tahu ada dokter pengembara yang lewat dan tinggal sebentar di rumah kepala desa tahun lalu, kakak menggendong ayah dan membayar dokter dengan dua ikan besar"
Teman sekelas berbaring bersama di ruang depan. Juan memiringkan tubuh untuk terus menatap Fang. "Ini pengalaman pertamaku ketika seseorang teman datang dan menginap."
"Kamu pikir aku tidak? Ini juga kali pertama aku menginap di rumah yang bukan rumahku sendiri."
Senyum Juan makin lebar. "Fang, jadilah teman ku sampai seratus tahun ke depan ya?"
"Kamu idiot? Seratus tahun cukup untukmu dan aku menjadi teman?"
"Bukankah umur kita pendek? Sekarang kamu delapan tahun dan aku sembilan tahun. seratus tahun ke depan, mungkin saja aku atau kamu sudah meninggal"
Fang memejamkan mata. "Aku mengantuk. Selamat malam"
Sebenarnya Fang lupa. Dia lupa kalau tubuhnya dan milik Juan berbeda. Selama dia membangkitkan akar ilahi pada tubuhnya, umurnya akan lebih dari seratus tahun. Lupa bahwa ayah dan ibunya juga akan meninggal, sekarang Fang merasakan sesak namun dia tidak akan berbuat apapun. Obat peremajaan usia yang diberitahu oleh Elf buangan tidak mungkin diberikan pada Aira, Gana ataupun Juan.
Juan tidak melihat keanehan dan mengucapkan selamat malam. "Mimpi indah Fang."
***
Gerobak sapi di tuntun oleh Baramun. Di dalam Gerobak, setengah tempat dipakai untuk ayah Juan berbaring dan sisi lain digunakan oleh tiga orang duduk.
Membenarkan selimut agar ayah tidak kedinginan, Grant mencium wajah tua ayahnya lembut. Baramun yang tidak sengaja melihat itu merasakan kerumitan. Kasih sayang yang tulus, bagi ras iblis tidak mungkin pernah ada. Saling menguntungkan adalah cara bagi mereka untuk menikah dan mempunyai keturunan.
Aula dokter sepi. Tidak perlu mengantri, ayah Juan segera diperiksa denyut nadinya. Dokter tua menghitung lalu menggeleng. "Ayahmu mungkin sudah tiba di batasnya. Obat apapun yang diminum tidak punya efek penyembuhan, pulang dan tunggu saja"
Mata Juan memerah. Bibirnya bergetar dan satu persatu manik air mata jatuh. Grant yang tidak mengerti masih membujuk ayahnya untuk terus berbaring. Ayah Juan melihat kosong pada dua putranya, yang satu adalah anak sulung yang menjadi bodoh dan satu lagi anak bungsu yang harus menderita dan tidak bahagia karena keluarga mereka yang miskin.
__ADS_1
Fang memeluk bahu Juan.
Ketika pulang dokter menolak pembayaran. "Gratis. Aku tidak memberikan obat ataupun menyembuhkan penyakit ayahmu. Belikan saja makanan enak untuk kalian sekeluarga makan"
***
Satu bulan berlalu. Juan kembali masuk sekolah tapi tubuhnya lebih kurus dari kali terakhir mereka bertemu.
"Fang, ayahku meninggal seminggu lalu."
Juan memberitahu seolah itu bukan berita penting. Wajahnya terlihat kuat namun Fang merasa sedih.
"Kakakmu, dia bagaimana?"
Juan menceritakan setelah pemakaman ayahnya selesai. Ibunya yang kawin lari ternyata tidak dapat mempunyai anak dari suaminya. Pria itu mandul.
Kabar kematian ayah Juan terdengar sampai telinga suami baru ibunya. Cemas dua anak yang tidak tahu cara bertahan hidup, duda tua membujuk istrinya untuk mengambil alih hak asuh. Mereka tidak dapat punya anak, bawa saja dua anak yang telah kehilangan ayah mereka.
"Ayah tiriku adalah pria baik hati. Kami berdua dibawa untuk tinggal di kota kabupaten. Sekarang aku dan kakak ku tinggal disini!"
Alis Fang berkerut menjadi satu. "Betulkah? Pria itu tidak menggertak kalian atau merencanakan suatu yang buruk?"
Juan awalnya juga berpikir seperti itu akan tetapi beberapa hari terakhir Grant dibawa ke sana kemari untuk mencari dokter hebat. Penyakit bodoh bukan bawaan lahir, kemungkinan sembuh pasti ada asalkan menemukan dokter yang tepat.
Dari situ pula Juan baru tahu alasan pertengkaran orangtuanya sampai akhirnya mereka berpisah. Ibu awalnya ingin memanfaatkan kekayaan duda tua untuk mengambil keuntungan dan mengobati putra sulung.
Ibu menangis ketika menjelaskan. Juan merasa tertekan. Baik ayah ataupun ibu, mereka berdua selalu berusaha agar kakaknya dapat sembuh dan dia bisa bersekolah. Uang yang dikirim oleh ibu ditolak oleh ayah selama ini, harga diri ayahlah yang membuatnya bertahan sampai akhir.
"Ayahmu benar untuk berpisah dari ibumu. Walaupun itu semua dilakukan demi anak-anaknya, ibumu agak ekstrim dalam memanipulasi kebaikan ayah tirimu."
Juan juga tahu. "Kabar kematian ayah, ibuku lah yang menyuruh kenalan di desa Tui untuk menyampaikan nya pada ayah tiriku. Menurutmu, apakah aku sama jahat nya seperti ibuku?"
__ADS_1
"Ibumu ya ibumu. Apa yang dia kerjakan bukanlah urusan mu, toh itu jalan yang dia pilih. Kamu masih dibawah umur, ketika dewasa, balas kebaikan ayah tiri dengan berbakti."
"Oke!" Juan kembali ke mejanya yang sebulan kosong. Wali kelas menyapa Juan, dan menyuruhnya mengejar ketinggalan.