Broken Sword

Broken Sword
Ch. 37: Membujuk


__ADS_3

Pemurnian pil terakhir terbang keluar dari tungku. Menangkap pil berwarna keemasan, Fang yang kelelahan mental lega.


Pil ini menghabiskan waktu yang lama untuk berhasil diekstraksi. Mencium baunya, samar wangi mint menusuk panca penciuman.


Ragu sebentar, Fang memakan pil. Sedetik berlalu. Menyentuh bagian tubuh, tidak merasakan sakit atau ngilu. Baru saja lega, Fang yang tadi tenang malah terbanting ke tanah. Otaknya sakit banget. Rasa membakar membuat wajah Fang merah hingga ke leher. Gigi Fang berkali-kali saling menabrak, suara gemeretak gigi dijadikan alasan agar tidak mengigit lidah.


Tubuh kejang Fang terus menerus. Matanya berguling keatas memperlihatkan warna putih saja. Sesaat, suara robekan pada pakaian Fang. Rupanya rasa sakit berpindah kebagian dada.


Semburat merah timbul bagai bintik-bintik. Kuku Fang menggores kulit. Tidak tahan akan rasa sakit yang terus menerus, Fang memukul kepalanya sendiri sampai pingsan.


***


Baramun yang belum pergi melihat ada gerakan samar pada jemari Fang. Berjalan mendekat, pada kelopak mata yang terpejam, bola mata Fang bergerak memutar seolah ingin bangun.


Mau bangun sekarang?!


"Panggil dokter kemari!" Suruh Baramun pada pelayan yang dekat disana.


***


Membuka mata secara tiba-tiba, manik mata Fang yang semula gelap berubah menjadi abu-abu. Pada bagian tengah pupil warna ungu yang mirip aurora terbentuk dan tinggal.


Fang duduk dari berbaring. Memegang kepala, seolah telah melupakan banyak hal.


Memegang letak hati, kekosongan hampa membuat Fang tidak nyaman. Apa yang hilang?


Meditasi dilakukan. Fang memeriksa akar ilahinya yang terbentuk sempurna. Senyum puas terpatri pada wajahnya yang tirus.


Pesona warna akar ilahinya tidak mirip seperti yang dimiliki tubuhnya dulu. Akar ilahinya sekarang transendental.


Tidak tahu jenis apa akar ilahi yang dia dapatkan sekarang, Fang tahu ini lebih kuat daripada akar ilahi orang berbakat yang pernah dia temui!


Dia, dia mungkin akan menjadi manusia tidak terkalahkan!


Langkah kakinya pun sangat ringan. Berjalan menyentuh dinding batas dimensi mimpi, retakan timbul dan hancur. Fang melayang di ruang hampa. Melayang memutar dan berjalan di udara, akhirnya dia bisa bangkit.


***


Dokter yang dipanggil adalah Elf yang bersikeras ingin tinggal dan tidak ikut pergi bersama dua dokter manusia yang diculik atas perintah Kuro sebelumnya.


Menyentuh nadi. Dokter Elf mengernyit, lonjakan terlalu kuat.

__ADS_1


"Apakah ada masalah?" Baramun bertanya dengan cemas.


Pedang kesayangan Kuro terbang dan memilih tuannya hari ini! Pedang ini tidak menyakiti anak itu kan?


Dokter Elf tidak menanggapi. Terus membaca lonjakan nadi Fang selama waktu satu dupa.


"Mengapa begitu lama?" Tidak puas diacuhkan, Baramun terus mendesak.


Dokter Elf melepaskan. Menarik pakaian untuk menutupi lengan Fang yang terbuka. "Aku juga masih.."belum tahu apa yang salah.


Lima kata terakhir tidak keluar. Fang yang tadi masih koma sudah setengah beranjak dengan menahan dua tangan sebagai sanggahan tubuh.


"Aku lapar." Katanya pelan lalu kembali tidur.


Baramun tercengang.


Dokter Elf yang kembali kehilangan atas ketidaktahuan mulai bertanya-tanya apakah perlu kembali masuk akademi kedokteran untuk mengulang belajar? Dia dua kali tidak berhasil menganalisa penyakit Fang!


***


Pelayan membawa baki makanan baru. Fang yang diberi makan bubur tiga tahun terakhir seperti ingin mengembalikan jatah makanan yang tidak dia makan selama koma.


Meletakkan mangkok yang kosong, Fang memberi kedipan. Ini bukan rumahnya. Gana tidak akan membeli budak untuk berkerja dirumah mereka.


Menundukkan mata, Fang yang fokus makan mangkuk baru menangis sambil mengunyah makanannya.


Baramun yang mendengar isakan Fang tidak tahu harus apa. Mengulurkan tangan lalu menariknya, jendral iblis serba salah.


"Orang tua ku, kapan mereka pergi?" Fang yang sudah menata emosinya bertanya.


Pelayan yang membersihkan meja bekerja cepat dan pergi satu persatu dari lingkungan kamar Fang.


"Ibumu meninggal setengah tahun setelah kamu koma. Malaria terjadi di desa sebelah dan ibumu tertular."


Selanjutnya Baramun kesulitan untuk berkata. Kematian Gana sepenuhnya adalah pengorbanan. Pria itu keras kepala melindungi tubuh Fang dari jilatan api. Pilar yang menghantam tubuhnya seolah hanya pukulan ringan asalkan Fang tidak terluka sama sekali.


Fang yang mengira dia telah tenang mengepalkan tangan. Cengkraman kuat pada lutut tidak mengurangi rasa sakit pada hatinya. Bibirnya tertarik lurus. Kilatan sedih pada manit mata abu-abu Fang membuat Baramun makin sulit untuk menjelaskan.


"Lanjutkan." Suara Fang bergetar.


"Ayahmu meninggal dalam kebakaran hebat di rumah kalian. Api pada kompor tidak sepenuhnya mati, angin membawa percikan api membakar dapur rumah dan merembet kemana-mana."

__ADS_1


Baramun menarik nafas untuk melegakan dadanya. "Ayahmu bekerja di sawah. Mendengar teriakan kebakaran dari arah rumah, dia berlari cepat dan tanpa takut masuk ke dalam rumah yang sepenuhnya terbakar."


Tubuh Fang gemetar. Dia tidak sanggup melanjutkan. "Cukup!"


Baramun tidak menghiraukan, iblis itu terus bicara. "Saat aku masuk untuk menyusul, tubuh ayahmu tertindih pilar rumah. Jika aku geser, semua akan ambruk. Ayahmu memeluk kamu erat. Tidak membiarkan kamu terluka."


"JANGAN LANJUTKAN." Teriak Fang emosional.


"Dia melihat aku datang. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Abu dan asap merusak pita suara ayahmu. Gana mengeluarkan kamu dari pelukannya..."


Fang yang tidak tahan menerjang Baramun. Tangannya mencekik leher Baramun bengis. "KUBILANG CUKUP!"


Baramun meraih tangan Fang. Sedikit melonggarkan dia masih keras kepala. "Matanya memberi isyarat padaku. Lindungi kamu."


Fang histeria. Teriakannya menggema kencang sampai terdengar ke aula pertemuan penting yang diadakan Kuro dan beberapa pejabat.


Tangis Fang pecah. Fang memukul dada Fang. "Kamu sialan! Kukatakan kamu untuk diam. Kukatakan kamu untuk tidak melanjutkan!"


Pukulan Fang tidak ringan. Baramun tahu beberapa tulang rusuknya retak. Pelayan yang mendengar ribut di dalam mencari pengawal dan memisahkan Fang dari atas tubuh Baramun.


"Kalian pergi." Baramun mengusir. Fang yang menangis sedih belum pernah dilihat Baramun.


Iblis tidak menangis namun menonton Fang membuat Baramun ingin menangis juga. Ingatan tentang Aira yang baik hati. Gana yang pekerja keras terus lewat.


Baramun merasakan perih pada matanya.


Menarik Fang yang terus menangis dengan pilunya, Baramun sang jendral kejam hari ini menumbuhkan rasa empati yang hanya dimiliki manusia dan bangsa Elf.


Menepuk ringan punggung Fang yang berguncang. Tangis Fang semakin parau, Baramun tidak pintar membujuk.


"Apakah ayahku sedih ketika ibuku pergi?"


Suara Fang pelan. Seperti bisikan kalau saja telinga Baramun tidak peka.


"Iya."


Mata Fang makin berair. "Ayahku pasti membenci ku. Karena aku tiba-tiba koma, ibuku jadi sakit"


Baramun menggeleng. "Tidak. Gana tidak membencimu."


"Lagipula malaria adalah wabah. Siapapun bisa terkena."

__ADS_1


__ADS_2