
"Bocah ini teriak begitu keras dan masih murung? Buka pintunya." Kuro memerintahkan penjaga setia untuk maju.
"Jangan.." Baramun baru akan memperingati, melihat penjaga yang terpental menjadi diam.
Bukan satu atau dua penjaga, Kuro sendiri dibuat mundur tiga langkah sebelum berhasil membuka pintu kamar Fang.
"Bocah itu penyihir?!"
Raja iblis tertawa. Matanya berkilat penuh perhitungan, dengan begitu akan mudah memilih imbalan yang dia inginkan.
Baramun yang terjangkit emosi Fang melirik tuannya sedikit tidak puas. Situasi ini tidak cocok untuk jadi picik.
***
Seharian mengurung diri, Fang keluar setelah menumpahkan seluruh rasa sesak di hati. Dua tangan Fang berdarah karena tidak berhenti memukul segala benda di dalam kamar. Pelayan yang bertugas membersihkan kamar membuat catatan di dalam hati, manusia ini tidak bisa diprovokasi.
"Boleh aku ikut berlatih?"
Menoleh ke arah suara, Kuro yang akan menarik panah menghentikan gerakannya. Baramun yang tidak jauh menyodorkan busur dan panah miliknya.
Kuro bergeser dan memberi tempat untuk Fang.
Berdiri menghadap sasaran sejauh dua ratus meter, Fang menutup sebelah matanya ketika menarik senar busur. Merenggangkan jemari, panah melesat lurus dan mengenai sasaran.
Bertepuk tangan, Kuro semakin menyukai manusia ini. Fang yang terlihat masih anak-anak tidak lebih buruk dari pengawal elit yang dia latih.
__ADS_1
"Poin bagus. Kamu mau pergi berburu?"
Terus mengambil panah dan menembaki sasaran, Fang berhenti setelah semua panah habis. "Tidak mau."
Penolakan Fang tidak menyinggung Kuro sama sekali. Raja iblis malah menyeringai, tangannya yang berkuku tajam terulur untuk memainkan untaian rambut yang terlepas dari ikat rambut Fang.
Menepis tangan yang tidak sopan, Fang berbalik untuk kembali ke kamarnya. Ditengah jalan dia berhenti, berbalik dan memberi syarat agar Baramun ikut pergi bersamanya.
Jendral iblis yang berdiri diantara raja dan temannya, melihat sebentar pada Kuro lalu mengejar Fang yang mulai menjauh.
"Cih, lupa siapa tuannya!"
***
Aula kediaman Baramun tidak punya banyak furnitur. Hanya ada satu meja teh dan empat kursi tanpa sandaran tangan di tiap sisi meja. Menarik kursi, Fang bertanya. "Dimana ibu dan ayahku dimakamkan?"
Kemarin bocah ini menangis sedih. Manusia memang suka mengungkit hal yang menyakitkan? Baramun menatap Fang untuk menunggu jawaban tapi Fang malah balik menatap.
"Makam ibu mu di desa. Tapi ayahmu tidak punya batu nisan." Baramun yang memastikan Fang tidak menangis, melanjutkan "Tapi pada aula leluhur ada plakat sebagai cara untuk dikenang. Kamu bisa berdoa di depan plakat"
Fang yang mengetahui segalanya memberi Baramun pil ramuan berwana merah. "Ambillah. Untukmu."
Pil berwarna merah di dalam botol kaca kecil diserahkan. Baramun membuka tutup botol, matanya memancar tidak percaya. "Ini yang kamu sempurnakan?"
"Sesuai apa yang aku katakan. Pil ramuan ini akan mengembalikan tanduk yang sudah lama tidak berkembang di atas kepalamu."
__ADS_1
Baramun yang percaya sepenuhnya kalau ramuan pil yang diberikan Fang adalah obat asli, tanpa ragu menelan pil. Berlari ke kamar, mengeluarkan cermin buram dari laci dan terkesiap. Tanduknya tumbuh!!!
Fang yang selesai menonton kebodohan Baramun mengganggu kesenangan iblis itu. "Tapi aku meminta bayaran."
Senyum merekah pada wajah Baramun berkurang setengah, "bukankah ini kesepakatan ketika aku membawa gerobak sapi untuk mengantarkan kamu ke rumah teman sekelas?!"
Tanpa mengubah ekspresi, Fang bertanya dengan nada rendah "jadi kamu tidak akan membayar?"
"Bayar. Aku akan bayar! Berapa sih?"
***
Menangis gudang emasnya terkuras lebih dari separuh, Baramun yang kini jatuh miskin menatap tiap benda yang baru dibeli Fang seperti melihat potongan daging yang diambil dari tubuhnya sendiri.
Siapa yang menyangka kalau ramuan pil yang disuling oleh Fang sangat mahal!
Kuro yang tahu Fang mampu, memesan ramuan pil untuk meringankan rasa sakit pada akar ilahinya yang terluka ketika berlatih.
Dibawah promosi Baramun dan Kuro, pejabat dan jendral iblis satu persatu menemukan Fang.
Kemudian,
Kabar anak manusia yang sempat koma lalu bangun dan merupakan jenius yang mampu menyempurnakan ramuan pil telah jadi perbincangan hangat dikalangan bangsa iblis. Sekelompok iblis yang punya uang mengirim surat untuk diterima Fang, berharap Fang akan menerima permintaan mereka untuk menjual ramuan pil nya.
Hanya saja Fang yang tidak mau mengejar kekayaan tidak menyuling obat untuk memenuhi permintaan. Kalau dia senggang dan mood baik, Fang akan menarik tungku yang dia beli dari hasil menjual pil kepada Baramun dan melakukan penyulingan tertutup.
__ADS_1
Antrian pembeli akan senang saat Fang menyuling ramuan obat, berdoa agar pesanan mereka yang dibuat.