
Jadwal pergi dari wilayah iblis harus ditunda. Kuro meminta nasihat Fang dalam memilih kandidat terbaik yang persentase berhasil menyamar dan belajar di akademi sihir grade A.
Anak-anak dari umur delapan hingga seumuran Fang dikumpulkan. Setengah tubuh mereka masih mempertahankan bentuk asli kejelekan dan belum matang dalam membentuk cangkang luar yang indah. Menatap anak-anak yang berwajah mirip hantu, Fang memilih tampilan wujud asli yang tidak begitu menyeramkan.
Dari dua puluh lebih anak tersisa tujuh. Yang termuda sepuluh tahun dan yang tertua adalah tiga belas tahun. Kuro yang menyaksikan dari samping tidak tahu alasan terpilihnya benih rendah oleh Fang. Sejak jaman kuno kelahiran rendah iblis tidak disukai oleh kaum mereka.
Iblis tingkat rendah mudah mati dan tidak pandai bertempur. Dianggap beban, iblis rendahan mencari cara untuk bertahan hidup. Walau diinjak oleh ras yang sama, selagi masih dapat makan dan tinggal, itu adalah kemewahan bagi mereka.
"Kalian ingin hidup nyaman kan? Mau aku bantu?"
Dan kemudian perkataan Fang mengejutkan tujuh iblis kecil yang berpakaian kasar. Yang terkecil sangat malu, berdiri di balik tubuh saudara yang bertubuh lebih besar. Orang tua yang melahirkan mereka tidak begitu bertanggung jawab, tanpa alas kaki dan pakaian cukup, penampilan tujuh anak bisa disebut mirip pengemis.
Fang tidak mengatakan tentang badan mereka yang kotor oleh lumpur. Menunjuk anak tertua untuk datang dan menyuruhnya minum pil obat. Meski ragu, melihat Kuro tidak berkata apapun, iblis itu menelan pil. Sekejap darah keluar dari tiap lubang di tubuhnya.
Enam anak yang menyaksikan mundur ketakutan.
Fang menggeleng. "Anak ini gagal."
Pelayan menyeret anak yang terus berdarah untuk pergi. Kembali mengalihkan fokus pada enam anak tersisa, Sedikit membungkukkan tubuh Fang tersenyum lembut.
"Jangan takut. Tidak akan ada yang mati."
***
"Jadi hanya satu anak yang tersisa." Kuro menyentuh kepala Moel lembut. "Anakku, kamu yang terpilih."
Fang menepis tangan Kuro. "Jangan merangsangnya. Anak ini bertahan tanpa berdarah tapi organ tubuhnya banyak terluka."
Moel yang tidak tahu menahu alasan dirinya dikatakan sebagai yang terpilih berusaha untuk tidak menjerit kesakitan. Tubuhnya seperti bukan miliknya. Matanya yang merah gelap sesekali berubah menjadi warna hitam pekat.
Fang dan Kuro menonton perubahan tubuh iblis kecil. Moel yang tidak dapat melihat sosoknya berdiri gemetar.
Warna rambutnya yang pirang berubah menjadi hitam legam. Matanya yang merah akhirnya tetap gelap, kuku di jemarinya pun menyusut dan hilang.
Kuro berdecak kagum. "Dia menjadi manusia! Hahahaha"
Moel yang tidak sanggup lagi berdiri jatuh berlutut. Sayap yang belum tumbuh sempurna, seolah ada yang menariknya dan patah. Kesakitan, Moel berteriak sakit. Dua sayap kecilnya terlepas begitu saja dari tulang belikatnya.
Sayapku!
Moel melihat tajam pada Kuro dan Fang. "Kamu! Apa yang kalian perbuat pada tubuh ku!"
Kuro yang diteriaki berhenti tertawa. Dalam kecepatan cahaya sang raja Iblis kini berdiri di depan tubuh kecil Moel. Menarik dagu Moel dengan jari telunjuk, mata suram Kuro mengembalikan ketakutan Moel. Dia sebenarnya takut mati.
Mencibir penuh penghinaan, Kuro menendang Moel sampai terpelanting.
Fang mengerutkan alis. "Cukup! Sisanya akan kulakukan sendiri, kamu pergi dulu."
Tahu emosi nya tersinggung, Kuro tidak bersikeras tetap tinggal dan mencari kegiatan lain untuk mengalihkan emosinya.
__ADS_1
Bersyukur tidak dibunuh, Moel yang tergeletak tengkurap tersendat-sendat untuk bangun. Fang membantu Moel bangkit. "Jangan takut." Bujuk Fang dengan nada lembut.
Merasakan lelah, Moel yang tubuhnya setengah bertransformasi akhirnya tidak sadarkan diri.
***
Pedang hitam melayang dengan tidak senang. Sisi ranjang yang harusnya tempat dia berbaring kini ditempati oleh manusia asing yang dibawa tuannya.
Mengeluarkan diri dari sarung pedang, Fang menekan ujung pegangan dan memaksa pedang hitam berhenti memikirkan untuk sembarangan membunuh. "Orang yang aku bawa, jangan berpikir untuk membunuh atau melukainya."
Moel bangun dengan perut lapar. Memegang bagian lambung yang sakit, Moel menyamping dan muntah dibagian pinggir ranjang. Warna cairan bening yang dia muntahkan membuat pelayan jijik.
Fang membantu membersihkan sisa cairan pada mulut Moel, membiarkan pelayan yang tidak puas dalam hatinya terus membersihkan lantai.
"Tubuhmu masih terasa sakit?"
Moel yang ditanya tidak punya tenaga sama sekali. Setelah muntah seluruh energinya terkuras. Menggerakkan bibir saja sulit. Matanya yang sayu buram, berkedip lemah pada Fang yang menunggu balasan.
Tangan Fang menyentuh kening Moel. Yakin anak ini tidak demam, Fang mengambil mangkuk elixir yang disiapkan khusus untuk Moel. "Aku akan membantu mu menyuapi makanan. Buka mulutmu dan telan saja. Tahan nafas ketika ada keinginan untuk muntah, aku tidak suka kotor."
Moel yang lupa kapan terakhir dia makan menelan semua elixir tanpa sisa. Menyentuh bagian perut yang mulai nyaman, sekarang pandangannya tidak lagi buram. Moel yang ingat orang di depannya membuat dia terluka meringkuk takut.
Rambut Moel yang tidak terikat jatuh, terbelalak, Moel bersuara serak menangisi rambutnya. "Kamu merubahku?!"
Fang tetap diposisikannya. Menatap Moel datar. "Kamu lupa perkataan ku sebelum memberi kalian pil untuk ditelan?"
Tidak peduli sekuat apa Moel mencoba, sayap kecilnya yang kurus tidak akan terbentang lagi. Fang sedikit lucu, terkekeh atas kenaifan Moel.
"Oke, berhenti."
Tubuh Moel meringkuk kembali. Mendekatkan lutut untuk menyembunyikan wajah nya yang tirus.
"Kamu bukan lagi Iblis."
Bam.
Moel yang linglung meraung dan ingin mencakar Fang.
Melibaskan tangan, tubuh Moel berhenti di udara dah tidak bergerak. Cahaya biru lembut keluar dari jemari Fang, terulur mirip tali dan mulai mengikat Moel.
Jatuh ke atas ranjang dengan tubuh terikat dan mulut yang tertutup, Moel kini tahu identitas Fang. Penyihir!
***
"Aku sudah melengkapi perbekalan. Kapan aku akan diizinkan berangkat?" Moel yang kini mengetahui tugasnya sebagai mata-mata di dunia menengah menatap Fang penuh harap.
Lima hari yang lalu Moel masih marah dan ingin menyerang Fang tapi hari ini dia ingin bergegas pergi dan belajar di akademi sihir yang diceritakan sebagai tempat suci bagi orang-orang berbakat dalam sihir.
Dia adalah benih rendah.
__ADS_1
Ketika dilahirkan, ibunya jijik padanya dan membiarkan dirinya yang masih bayi pada ayahnya untuk mengasuh.
Ayahnya adalah tentara khusus yang sering melakukan misi dan tidak terlalu menyukai dirinya. Tidak mau ambil pusing dalam membesarkan, ayah Moel akan menitipkan Moel pada pelayan dirumah untuk dibesarkan.
Pelayan rendah jug bukan pekerja yang tahu diri. Melihat tidak ada yang akan menegur, makanan yang harusnya diterima Moel diambil. Moel tumbuh dengan perut yang tidak pernah merasa kenyang.
Mengadu pada ayah? Moel mencoba berkali-kali tapi akan berakhir pahit. Setiap pelayan rendah tahu Moel berniat melaporkannya, Moel akan disiksa lebih parah dari sebelumnya.
Sedari dia bisa bicara dan ingat, Moel diperlakukan seperti udara. Tidak terlihat dan sering diabaikan. Moel berhenti mencari perhatian ayahnya. Lalu ketika umurnya empat tahun, ayahnya meninggal.
Tidak punya kerabat untuk mengurus, Moel dibudidayakan untuk menjadi calon pelayan. Keberuntungannya mungkin sangat bagus. Tinggal lebih dekat disini raja iblis, Moel dipilih Fang untuk keluar dan belajar sihir.
Kejadian lima hari lalu masih teringat jelas.
Fang mengatakan beberapa hal yang dia tidak pahami tapi dirindukan. Moel ingin berkuasa. Selama dirinya punya kekuatan, iblis dewasa yang suka sombong dan menyiksanya tidak akan meremehkan nya kembali.
"Kamu ingin membalas perlakuan kasar yang kamu dapatkan bukan?"
"Sekarang kamu tidak akan disebut Iblis."
"Tubuhmu sepenuhnya menjadi manusia dengan darah iblis. Atau sebut saja hybrida."
"Rajamu dan aku berencana memilih kamu untuk keluar dan masuk ke akademi penyihir grade A di wilayah menengah. Kamu mau kan?"
"Belajar sihir dan kembali untuk menginjak para iblis yang pernah menindas mu."
Senyum merekah pada wajah putih Moel. Kenangan hari itu adalah yang paling membahagiakan untuknya. Dia dapat balas dendam!
Fang yang tahu apa isi kepala Moel menyembunyikan senyum sinis nya. Kuro tidak tahu bom waktu apa yang telah dia ciptakan. Keberadaan Moel nanti mungkin bisa saja mengguncang posisinya sebagai raja. Moel kecil, dia bukan anak yang baik~
Akui saja. Fang bukan orang yang murah hati. Dia tidak pernah meminta dibawa kemari. Kuro yang berpikir ingin mengambil keuntungan darinya, hehe..
Nanti akan menyesali keputusan yang disetujui untuk membesarkan penyihir yang punya hati lebih gelap dari raja iblis itu sendiri.
Pedang hitam yang selalu disisi Fang menyenggol lembut lengan tuannya.
Tuanku, kamu bilang tidak haus darah? Siapa yang kamu bodohi.
***
Sehari setelah Moel pergi, Fang yang diantar Baramun ke akademi sihir grade S, memberikan kenang-kenangan untuk jendral iblis.
"Aku meninggalkan kotak hadiah di kamarku. Itu untukmu, gunakan saja."
Baramun yang bermata merah tetap diam di depan pintu masuk akademi sihir tempat Fang akan tinggal. Berteriak, Baramun berkata "Fang, hubungi aku ketika kamu butuh bantuan ya!"
Tanpa berbalik, Fang melambai dan berjalan maju.
Pedang hitam yang mengikuti telah menyusut menjadi belati hitam berukuran telapak tangan. Digantung pada ikat pinggang, belati hitam mulai bertanya-tanya, kapan tuannya akan setuju mengambil alih dunia.
__ADS_1