Broken Sword

Broken Sword
Ch. 33: Awal


__ADS_3

Malam hari sebelum Fang ditemukan jatuh koma. Fang memeluk erat Aira dan Gana, mengucapkan selamat malam dan mimpi indah kepada mereka.


Didalam kamar, lampu sengaja dimatikan. Derit kayu jendela yang dipaksa terbuka membuat Fang khawatir Gana atau Aira akan masuk ke kamarnya. Percaya tidak akan ada yang datang, Fang melamun untuk sementara waktu.


Ini tahun kesepuluh sejak dia datang ke dunia ini. Aira dan Gana merupakan contoh orangtua yang dulu sangat ingin dimiliki. Senyum lembut Fang dibawah sinar bulan semakin menawan.


Menepuk lembut ke dua pipi, Fang menyemangati dirinya. Proses membangkitkan akar ilahi tidak terlalu jelas. Informasi Fang sebatas ada dua kemungkinan, berhasil lalu terus hidup dan gagal lalu meninggal.


Tentunya Fang tidak akan meninggal, hanya tubuh ini tidak dapat digunakan kembali dan dia harus terlahir kembali ke tubuh baru.


Menutup jendela kamar, Fang berbaring di atas ranjang. Mencoba, tidak, mencoba, tidak, mencoba. Keraguannya membuat Fang lelah sendiri.


Mengeluarkan empat batu, Fang menelan satu persatu batu seukuran kelereng. Keringat berukuran besar keluar dari pori-pori. Fang menggelinjang, bibirnya bergetar hebat. Mirip ikan yang tidak dapat meraih oksigen, kepanikan Fang membangkitkan seluruh memori sejak dia lahir sampai sekarang. Aira yang selalu lemah lembut dan memasak makanan lezat untuknya. Kemudian ada Gana, ayahnya yang tidak pernah menolak keinginannya.


Mata Fang memburam. Air mata menetes dari sudut mata. Sial. Harusnya tidak asal minum dulu!


Sebelum Fang kehilangan kesadaran, batinnya meyakini, orang tuanya pasti akan sedih.


***


Setiap hari setelah pemakaman Aira, Baramun akan datang ke rumah Fang untuk memeriksa kondisi Gana. Pria yang sempat bergelut dalam kesedihan mulai pulih dan menerima kenyataan kalau sang istri telah tiada.


"Kamu datang lagi?"


Baramun mengangguk. Membawa seikat kayu bakar dari gudang dan dimasukan ke bagian bawah kompor. "Jangan sungkan untuk minta bantuan padaku."


"Aku tidak selemah itu. Masih sanggup mengangkat tiga ikat kayu sekaligus."


Baramun tidak setuju. Usia Gana memasuki usia senja, ditambah pukulan anaknya yang jatuh koma dan istrinya meninggal, Gana terlihat lebih tua tiga puluh tahun.


"Fang yang bilang. Kamu tidak bisa membawa barang terlalu berat."


Mengalah dan berhenti keras kepala, Gana meninggalkan pekerjaan berat untuk dilakukan oleh Baramun. Menuangkan air minum ke dalam mangkuk, Gana masuk ke dalam kamar Fang.


Matahari menghangatkan ruangan yang mulai dingin di musim gugur. Menyisir rambut Fang yang semakin panjang, sedih karena tidak ada lagi Aira yang akan mengepang rambut Fang.

__ADS_1


"Kamu haus tidak? Ayah bawakan air"


Baramun mengintip dari luar. Menggeleng prihatin pada tragedi keluarga Fang.


***


Lapangan luas berumput kuning adalah tempat tinggal Fang selama dia koma. Tidak tahu kenapa bisa ada disini, pada mulanya Fang kira dia telah meninggal dan berpindah tempat.


Tapi setelah beberapa waktu, tidak ada yang ditemukan. Tidak ada makhluk lain selain dia disini. Disini dia tidak merasakan kantuk, sesekali haus ataupun lapar, untungnya hanya sementara saja.


Masih ingin mencoba, dimulai dari arah timur, Fang terus berjalan, berjalan lagi, lalu berjalan, dan dia kembali ke posisi semula. Berjongkok, kakinya pegal.


"Ini dimana sih!"


Siang atau malam, tidak dapat diketahui. Padang rumput berawan kelabu. Tidak ada angin ataupun hujan. Tempat aneh, mengapa membawanya kemari setelah memakan empat batu.


Berbaring di atas rumput, Fang merindukan masakan ibunya dan godaan Gana. Orangtuanya, bagaimana kabar mereka?


***


Masuk satu tahun Fang koma. Dokter desa tidak berhenti mengirim herbal untuk menambah nutrisi tubuh.


Manda juga tidak menerima pekerjaan sebagai bidan. Wanita itu mulai pikun. Takut terjadi kesalahan kerja, Manda kini selalu tinggal di rumah.


Buwin sang kepala desa telah melepaskan jabatannya dan pensiun. Penggantinya adalah paman Luhan yang memenangkan suara.


Baramun sang Iblis baru saja pamit untuk mengunjungi kampung halamannya dan tidak tahu kapan akan kembali ke desa Noik. Dihari keberangkatan, Baramun menitipkan kunci rumah pada Luhan.


"Kamu akan kembali kan?"


Baramun yang ditanyai berhenti menaruh barang ke atas gerobak sapi yang dia sewa, "tentu saja. Rumahku disini" lagipula bocah itu masih belum bangun, Baramun berencana melihat-lihat tempat tinggal baru kelompoknya.


Nyatanya Baramun berpergian selama satu bulan saja. Saat dia kembali di waktu petang, desa berlarian mambawa ember air dan lumpur.


Menarik penduduk desa yang lewat, "ada apa? Mengapa kalian berlarian dengan membawa air?"

__ADS_1


"Rumah Gana terbakar! Anaknya masih dirumah, Gana berlari untuk menyelamatkan orang tapi belum keluar rumah setelah masuk."


Baramun mengambil ember dari tangan orang yang dia tanya, berlari secepat kilat, menyiram tubuhnya dengan air lalu masuk ke dalam rumah yang terbakar.


"Ya ampun! Siapa itu yang berlari masuk ke dalam?!"


Luhan yang belum ini menjabat sebagai kepala desa, mengarahkan warga desa yang kuat mengangkut lumpur basah untuk mempercepat memadamkan api dan sisanya yang membantu membawa ember air.


Api membakar rumah begitu cepat. Gana yang tengah di sawah sepertinya tidak memperhatikan sisa arang kayu yang masih menyala, dan ketika terlambat, rumah sudah terbakar hebat.


Baramun meneriaki nama Gana. Di dalam rumah sangat gelap oleh asap tebal. Mencari selama semenit, Baramun bertemu Gana yang tergeletak dengan batang pondasi kayu di atas punggung. Gana merintih, darah merembes dari pakaiannya.


Dibawah Gana ada Fang yang terus dilindungi. Mendengar suara dari luar, Gana tidak bisa bersuara karen tenggorokannya sakit. Matanya hampir buta oleh abu dan pernapasan sesak.


Tangan kuat Baramun menarik pondasi namun berhenti ketika sadar jika diteruskan seluruh rumah akan ambruk. Gana juga mengerti apa yang terjadi, pada wajah tuanya yang keriput, dia mengeluarkan Fang dari pelukannya.


Tolong selamatkan anakku.


Itulah yang ingin diucapkan Gana.


Mengambil Fang. Baramun akan menarik tubuh Gana yang tertimpa pilar pondasi, dan gagal.


Gana memejamkan mata. Menarik tangannya untuk terlepas dari jangkauan Baramun.


"Tidak!!" Baramun panik.


Gana adalah kerabat satu-satunya yang dipunya Fang sekarang. Kalau pria ini juga pergi, anak ini, bagaimana Fang saat bangun?


Rumah ambruk.


Penduduk berseru panik.


Buwin sudah lemah untuk berdiri.


Dalam kepanikan, sosok kuat keluar dari tumpukan kayu. Baramun keluar dari area terbakar. Pakaiannya banyak yang rusak oleh api, rambutnya juga ada yang terbakar. Sedang Fang yang tidak tahu apa yang terjadi berbaring dalam pelukan Baramun, anak itu selamat dan tidak terluka sama sekali.

__ADS_1


Mata Luhan perih. Gana pasti melindungi anaknya sampai Baramun datang. "Gana?" Luhan berharap Gana selamat dan akan menyusul keluar dari puing-puing api.


Sampai api padam. Tidak ada sosok Gana. Pria yang tadi pagi ngobrol santai bersama di lahan sawah, sekarang telah tiada.


__ADS_2