Broken Sword

Broken Sword
Ch. 25: Hukuman Part 1


__ADS_3

"Kalau guru ragu, aku akan melaporkan hal ini pada ayahku!"


Pusing.


Kepala sekolah taman kanak-kanak melotot pada dua guru piket yang lalai menjaga ketertiban. Fang yang harusnya dimarahi karena memukul telah menjelaskan alasan dia berani menyerang bocah gendut. Niat memberi hukuman ringan dan menyelesaikan persoalan dengan mudah malah berujung Fang yang tidak terima masalah ini ditutup.


"Kemana kalian sampai kejadian hari ini terjadi! Kalau berita ini di dengar oleh orang di luar sekolah, tidakkah cerminan moto sekolah dianggap omong kosong!"


Dadang yang menangis tidak berani menangis lagi. Kepala sekolah menggebrak meja, dua guru yang piket menunduk malu. Karena sibuk mengobrol mereka tidak fokus dan terlambat menghentikan pertarungan.


Fang yang berdiri di samping Juan, "kenapa kamu menangis? Kamu tidak bersalah sama sekali."


Kepala sekolah yang sadar kalau masih ada anak dibawah umur meredakan amarahnya seketika. Tersenyum lemah lembut kepada Juan dan Fang. "Nak, hari ini adalah kesalahan. Lupakan dan saling memaafkan oke?"


"Tidak mau! Bocah gendut itu yang duluan membuat gara-gara!"


Fang menyentuh perut. Aduh lapar. Karena urusan ini kotak makan siangnya tidak dimakan! Pokoknya semakin lapar dia semakin kesal jadinya.


"Pada batu peringatan tertulis jelas bahwa setiap anak adalah sama!! Tidak ada anak bodoh atau miskin, yang salah adalah mengapa terlahir pada era dimana kesulitan untuk mendapatkan pendidikan dan juga mencari nafkah. Pendiri sekolah menulis itu pada batu peringatan agar semua anak-anak yang bersekolah tidak sombong dan saling menerima satu sama lain dalam berteman. Apakah aku salah?"

__ADS_1


Tiga orang dewasa tidak menyangka Fang mengerti makna tersirat dari batu peringatan di depan gerbang sekolah. Anak ini mengingatnya di hari pertama dia bersekolah? Keringat dingin membasahi telapak tangan mereka.


"Ayahku mengajarkan nilai-nilai positif yang bisa aku dapatkan jika pergi belajar disekolah. Tapi lihat, ini baru hari pertama dan sekolah malah melindungi tersangka."


Gagap. Kepala sekolah hanya merasakan gelap.


***


Sudah lewat dari waktu pulang sekolah. Gana yang menunggu di depan gerbang tidak melihat putranya. Bersabar, Gana malah tanpa sengaja mendengar obrolan murid lain yang mengatakan ada pemukulan di ruang kelas dan korbannya adalah anak gendut.


Siapa yang gendut?! Itu pasti anaknya sendiri!


"Bagaimana bisa anakku dipukuli!!!" Raung Gana ketika tiba.


"Eh, kamu tidak kenapa-napa?"


***


Penampilan Gana yang sangat mendominasi menakuti tiga orang guru yang belum sempat menenangkan diri dari kalimat Fang.

__ADS_1


Ayahnya tiba. Fang mengeluarkan air mata buaya.


"Ayahhhhhhh. Bocah itu mengatai aku."


Dadang berlari untuk berlindung di belakang guru, mengulurkan kepala dan mengeluh. "Kapan aku menghina kamu! Ibu, aku mau ibuku."


Fang semakin ganas dalam menangis. Air matanya tumpah ruah. Gana yang belum pernah mengalami tangisan Fang yang seperti ini bertanya, "sebenarnya apa yang terjadi?"


Guru piket pria maju. Menceritakan semua kejadian dikelas dalam narasi yang diceritakan Fang. Juan yang kecil semakin malu, karena dia..


"Sekolah kalian tidak melakukan pengecekan sebelum menerima siswa?! Bukankah ada wawancara langsung bagi dua orang tua calon murid baru?!"


Semakin malu. Dua guru piket menyerahkan hal ini untuk dijelaskan oleh kepala sekolah.


"Siapa yang memukuli putraku!"


Pintu kembali ditendang. Sepasang suami istri berjalan masuk, mencari Dadang dan kesal setelah melihat luka lebam pada wajah putra mereka.


"Orang tua, mohon tenang dulu. Kita bicarakan hal ini baik-baik"

__ADS_1


"Ayah, ibu!" Dadang akhirnya punya tulang punggung. orangtuanya telah datang, sekarang tidak ada yang harus dia takutkan.


__ADS_2