
Pintu gerbang dibuka, Baramun keluar melewati arai pelindung. Derit pintu yang ditarik untuk tertutup membuat langkah kaki Baramun semakin berat.
Fang.
Takdirmu mulai hari ini bukan lagi berada di sini.
***
Lokasi baru tempat tinggal ras Iblis bergeser lebih ke barat. Baramun yang kekuatannya tidak ditahan oleh arai pelindung segera berubah bentuk segera setelah dia memasuki wilayah menengah.
Menyembunyikan Fang dalam jubah gelap, Baramun memastikan tidak ada yang mencurigai nya. Anak manusia dibawa oleh Iblis, jika ketahuan, Baramun akan masuk daftar kriminal yang dicari dan patut dihukum!
Menghindari jalan utama. Baramun melewati hutan hujan untuk jalan memutar. Berpakaian basah, sepatu yang dipakai Baramun sudah penuh lumpur. Berusaha agar Fang tidak basah, selalu dibenarkan letak payung bambu.
Matahari juga mulai kembali turun. Tidak menemukan tempat kering atau gua untuk berlindung, Baramun naik ke salah satu pohon yang paling besar kokoh dan lebat. Malam ini mereka berdua hanya bisa tidur ditempat ini.
Mencubit hidung Fang yang tidak bergerak sekalipun, Baramun harus berhenti karena percuma saja. Anak ini memang koma sungguhan dan bukan sekedar tidur. Membuka tutup kendi air minum, Baramun menyuapi bubur encer untuk Fang.
***
Fang mulai berlatih menggunakan sihir. Semua mantra yang hampir terlupakan satu persatu dia coba. Ruangan dimensi mimpi juga mengikuti kebutuhan latihan. Sekarang Fang berada di tepi danau. Matanya berkilat tajam. Melompat, Fang berjalan di atas air yang tenang.
Baru saja puas, kekuatan hilang. Fang tercebur dan tenggelam. Menyentuh hidung, Fang bernafas lancar. Sihir di tubuhnya tidak sekuat milik tubuh sebelumnya. Berenang untuk naik, Fang membayangkan situasi kering dan dimensi mimpi berubah menjadi lapangan tandus.
Mengeringkan pakaian, pada telapak tangan Fang keluar sapuan angin kecil yang berubah menjadi seukuran telapak tangannya. Meniupkan angin, seluruh tubuh kering seketika.
Bersiul.
Suaranya masih terpantul.
Ruangan dimensi mimpi ini tidak besar dan berbentuk persegi. Melipat kaki untuk duduk, Fang mengosongkan pikiran.
Aura kuning pada akar ilahinya telah berubah menjadi kuning. Tunggu sebentar. Warna pada akar ilahinya yang mulai terbentuk diurut seperti warna batu yang dia telan?!
Berlatih untuk waktu yang lama. Dia hanya baru naik satu tingkat! Dihitung sejak dia jatuh ke alam mimpi, bukankah ini setahun atau lebih?
Fang pusing.
__ADS_1
Membuka mata, tubuh Fang berbaring lemas.
Satu tahun untuk naik ke aura hijau. Lalu butuh waktu berapa lama untuk naik ke aura merah? Dirinya ingin makan nasi, hiks.
***
Kuro menyambut pulang kembali Baramun.
"Kamu kembali lebih cepat dari yang kuduga."
Baramun setengah membungkuk, "My king. Aku kembali karena satu hal."
Kuro melirik benda besar yang dibawa di punggung Baramun. "Kamu membawa apa?"
Mata gelap Kuro berkilat, sekilas warna merah muncul dan hilang. "Ini Fang?" Lidah Kuro menjilati bibir.
"Anak itu mati dan kamu mempersembahkan dagingnya untuk aku santap?"
Baramun mundur selangkah saat tangan Kuro hendak meraih. "Bukan. My King, anak ini masih hidup."
Tangan berkuku tajam ditarik. Pandangan Kuro tidak bernafsu lapar. "Lalu mengapa dia berbaring tidur. bangunkan."
Wajah Baramun malu. "Anak ini koma."
***
Berlatih dan berlatih.
Fang yang mulai mengendalikan setiap elemen sihir kini tengah melihat-lihat tungku besar yang muncul dari udara.
Sekarang Fang baru paham mengapa para praktisi tidak menulis kelanjutan setelah menelan empat batu untuk kebangkitan akar ilahi. Ada dua opsi. Pertama mati dan yang kedua terjebak di dimensi mimpi dan akhirnya mati.
Kalau Fang tidak tahan, kewarasan dan mentalnya pasti terkikis habis. Tidak pantang menyerah, Fang menyeret tungku pemurnian ke tempat yang lebih datar.
Di dalam tungku sudah ada ramuan yang bisa langsung diolah. Fang mengeluarkan satu-persatu obat berbentuk dan berbau aneh. Mengendus beberapa untuk identifikasi, lalu sadar kalau ini bahan untuk pemurnian pil penguatan tulang.
Ruangan ini tidak bermaksud menyediakan bahan dan membuatnya memurnikan pil untuk dia makan kan? Fang yang ragu tidak memulai pemurnian dan fokus melanjutkan latihannya sendiri.
__ADS_1
Fisiknya mengurus. Kulit pada perut menjadi lunak, tidak ingin penampilan mirip kawan sekelas bernama Dadang yang punya garis-garis aneh dibagian perut, Fang mulai berlatih kekuatan fisik.
Sit up berulang kali. Fang tahu ini semua tidak berguna. Tubuh aslinya sedang tidur. Di ruang mimpi dia hanya bisa mengembangkan bakat di dalam tubuh.
Menggaruk kepala kesal, Fang duduk di depan tungku pemurnian. Api ungu muncul ketika Fang melempar satu persatu bahan obat. Menjaga keseimbangan suhu dan juga aura obat, Fang yang terlalu gegabah kaget saat isi tungku meledak.
***
Kuro mendatangkan dokter yang diculik secara diam-diam untuk melihat kondisi Fang. Dua Dokter manusia dan satu dokter Elf ditutup bagian matanya dan dituntun untuk membaca nadi Fang yang koma.
"Jadi, bisakah kalian tahu mengapa anak ini tidur dan tidak bangun-bangun?"
Dua dokter manusia mengakui kalau bakat mereka tidak sehebat itu dan menggeleng. Sedang Dokter dari ras elf menyebutkan, "anak ini, bisakah aku tahu darimana asalnya?"
Kuro diam dan semua mengerti. Tidak boleh bertanya dan hanya diperbolehkan untuk menjawab pertanyaan.
dokter Elf yang ragu akhirnya juga menggeleng. Dalam pemeriksaan dia tidak menemukan hal aneh pada tubu Fang. Semua organ berfungsi baik kecuali dia sempat merasakan fluktuasi aneh pada Fang yang tidak punya akar ilahi sama sekali.
Anak ini jelas punya unsur keturunan dari manusia di wilayah bawah, akan tetapi dia curiga barusan. Yah, mungkin terlalu teledor jika berasumsi saja.
"Aku juga tidak menemukan apapun."
***
Asap hitam memenuhi ruangan dimensi. Fang batuk dan sesak.
Matanya perih dan dia kesulitan melihat.
Kemudian ruangan kembali seperti semula. Tungku pemurnian juga utuh seperti baru dan ramuan obat yang barusan terbakar masih tergeletak segar di dalam tungku.
Ruang dimensi telah merubah cara kerjanya. Fang tidak dapat mengubah suasana ruang dimensi untuk melatih pertempuran menggunakan sihir dan hanya dapat mengulang pemurnian pil pemurnian ketika dia gagal.
Gagal sekali maka mengulang sekali. Lalu ketika dia gagal berkali-kali, Fang ingin menangis kan. Hidupnya yang mulus sejak terlahir kembali sampai usia sepuluh tahun harus kandas detik dia menelan empat batu sialan.
Fang menenangkan diri. Mirip kejadian dimasa lalu. Semua hal baru harus dipelajari dan apa yang dilupakan harus di review kembali. Pemurnian pil penguat tulang merupakan sala satu pil tingkat satu yang mudah dibuat. Gagal di tingkat satu, Fang yang dulu dianggap pendekar dan penyihir nomor satu tertunduk malu.
Syukurlah dia belajar di ruang dimensi mimpi tanpa ada yang melihatnya atau mendengarkan. Nasib malang diketahui orang dan citranya tercoreng.
__ADS_1