
Puing-puing yang telah padam dari api diangkat satu persatu, Luhan dan yang lain berharap akan menemukan tubuh Gana.
Sampai langit berangsur-angsur gelap hingga esok harinya, tidak ditemukan mayat Gana. Baramun yang menunggu dengan memeluk erat Fang, merasakan dua tangannya gemetar.
Fang yang digendong dalam dekapan Baramun tidur begitu lelap. "Aku akan membawa Fang ke rumahku dulu." Baramun membawa Fang ke tempatnya, Buwin yang mengikuti menjadi cemas.
"Api terlalu besar. Semua hangus tidak bersisa, mungkin mayat Gana juga tidak akan ditemukan."
Meletakkan Fang di atas kasur setelah menarik kain bersih dari lemari sebagai alas, Baramun berbalik untuk bicara dengan Buwin. "Kita bicara diluar."
"Kamu bisa tenang. Fang akan tinggal denganku."
Buwin yang berencana menawarkan diri untuk mengasuh Fang diam. "Kamu yakin?"
"Gana... Aku tahu Gana ingin akulah yang merawat Fang"
Suasana hening.
Buwin mengangguk lemah lalu pergi, "kamu tetap disini, aku akan mengurus pemakaman Gana. Karena tidak ada tubuh, sebagian abu akan diambil dan ditabur di sungai"
"Tidak ada tubuh nyata, batu nisan tidak akan diletakkan tapi akan ada plakat kayu di silsilah sebagai bentuk penghormatan."
"Yah" Baramun menjawab lambat.
***
Fang tidak dapat tidur walau memaksa.
Tebak nya, mungkin ini adalah dimensi mimpi. Selama dia tidur, maka tubuhnya di dunia nyata akan bangun.
Badannya tidak juga merasa lelah walau berkeliaran di dalam dimensi, tapi rasa lapar tetap ada.
Bersiul bosan. Suara nyaring memantul.
Tidak tahu apa yang salah, Fang melonjak, tubuhnya ringan, dia mengambang di udara!
Belum selesai terkejut, rasa sakit pada bagian dada muncul. Fang meringis lalu meraung. Sial! Rasa sakit yang sama ketika dia menelan empat batu kembali dia rasakan.
Sedetik berlalu terasa berjalan lama. Fang memukul-mukul bagian dada. Kalau terus begini, dia mungkin mati karena tidak tahan rasa sakit.
Setelah rasa sakit berakhir, Fang yang melayang jatuh. Berdiri dengan dua kaki lemah, Fang yang belum sempat menarik nafas merasakan tanah yang diinjak berguncang. Tanah itu amblas, Fang jatuh kebawah.
Tidak bersuara saat tubuhnya merosot, Fang mencoba meraih apapun yang dapat diraih, namun nihil. Pantat Fang terpantul dan dia tersungkur.
__ADS_1
Sekarang dimana lagi dia berada?!
Padang rumput berganti ruangan putih. Putih semua sampai membutakan!
Astaga.
Empat batu yang dia telan bukan batu palsu kan?
Menyentuh dinding, bekas sentuhan mengeluarkan api. Seluruh ruangan terbakar. Pintu aneh muncul dan Fang membukanya. Disana ada dua bayangan yang tidak terlihat jelas, Fang memanggil, "Halo?"
Tidak ada balasan.
Menyusul dua bayangan, kaki Fang ditarik, melihat kebawah, akar berduri menjerat kaki Fang.
Mungkin refleks, Fang mengeluarkan aura sihir dan akar berduri terputus.
Apa?!
Fang menyeringai. Aura sihir mengelilingi Fang. Hangat melingkupi tubuh Fang. Roh hewan menembus tubuh Fang, lalu diam dengan tenang dan bersarang di dekat hati Fang.
"Kekuatan sihir ku kembali?!"
***
Pada mulanya tidak ada yang bicara. Selama bukan mereka yang harus membantu merawat, tapi tetap saja ada yang berhati gelap.
Orang-orang di desa awalnya bicara secara diam-diam, lalu melihat serangan belalang yang membuat padi mati, mulut-mulut itu mulai menuduh Fang.
Padahal migrasi belalang pernah terjadi, itu bukan perbuatan manusia dan bisa dikatakan sebuah musibah karena cuaca terlalu panas. Namun mereka tidak bisa menerima dan menyalahkan Fang untuk memuaskan rasa kesal.
Baramun yang baru diajak bicara oleh Luhan mencibir. Bertahun-tahun Fang tinggal di desa, apakah ada kejadian buruk ketika anak itu lahir?
"Kamu tidak membela Fang? Ini bukan salahnya."
Luhan kelelahan setelah dibuat pusing oleh segelintir warga yang mengadu tentang panen yang gagal, menangis dan membuat keributan di rumahnya. "Aku menjelaskan. Aku mengatakan ini untuk mengantisipasi, kalau-kalau orang di desa bertindak keterlaluan, kamu bisa melindungi diri dan juga Fang."
"Mereka berniat apa?"
Luhan malu. "Niat mereka awalnya ingin mengusir Fang, lalu ingat kalau anak itu koma, mereka ingat cara mematahkan nasib buruk yang dulu dilakukan leluhur.."
"Apa itu?"
Batuk untuk melegakan tenggorokan, Luhan berkata setengah berbisik. "Menumbalkan.."
__ADS_1
Menggebrak meja, Baramun bangkit dan menendang kursi. Luhan menutup rapat mulut. Buwin juga sangat marah setelah dia memberitahu dan hampir terkena serangan jantung.
"Aku akan membawa Fang pergi dari sini."
Luhan menatap Baramun, "kamu membawanya kemana?"
"Ketempat yang lebih baik! Desa ini ternyata buruk hingga ke tulang. Orang-orang yang dulu ramah hanya dalam waktu seminggu bisa mengubah wajah!"
Luhan tidak berani membantah. Dia adalah kepala desa, dia tidak bisa terus berpihak ketika sebagian besar orang ingin Fang meninggalkan desa atau mati untuk keberkahan.
"Aku tidak melarang. Baramun, mungkin pikirmu aku adalah kepala desa yang tidak bertanggungjawab, tapi posisi ini juga membuatku tidak dapat berbuat banyak. Aku harus mendengarkan suara yang lebih keras."
Baramun tidak mengatakan apapun dan pergi dari kediaman Luhan. Pulang ke rumah, Baramun menonton Fang sebentar.
Mungkin saja Fang akan marah padanya ketika anak itu bangun nanti. Marah karena menganggap sepele peringatan Fang untuk mengingatkan orang tuanya, marah padanya karena membuat anak itu menjadi yatim piatu.
Berat hati, Baramun yang muram tidak mengepak barang dan hanya membawa Fang pergi.
Sekelompok warga yang berkumpul dipagi hari untuk meminta Fang pada Baramun menemukan rumah Baramun telah kosong. Rencana untuk menumbalkan gagal, tapi mereka tetap senang. Setidaknya biang sial yang membuat orang tuanya meninggal dan hasil panen gagal telah meninggalkan desa.
"Baramun membawanya?"
Luhan yang mendengar keributan berlari untuk menghentikan semua warga bertindak gegabah. "Kalian sedang apa?!"
Seorang nenek yang percaya takhayul tersenyum tanpa gigi, "kepala desa, kamu tidak usah begitu panik. Kami belum melakukan apapun, Baramun sepertinya membawa Fang pergi."
Secepat ini?
Luhan pikir Baramun tidak akan segera pergi setelah dia memberitahu. Luhan menatap rumah Baramun yang bersih dan perlengkapan rumah tangga masih disana. Mendesah gusar, Luhan mengusir semua orang dan mengambil rantai kunci di rumahnya.
Rumah Baramun pagarnya dirantai.
Manda yang diberitahukan oleh tetangga kalau Fang dibawa pergi mendatangi Luhan. Tidak lama setelah datang, Manda pulang dengan sepasang mata merah.
***
Penjaga pintu gerbang menatap Baramun dan anak yang digendong. "Ini saudara mu?"
Baramun setengah berbohong. "Sepupu. Orangtuanya meninggal, aku baru datang kemarin untuk mengambil sepupu ku untuk diasuh."
Penjaga melihat data kedatangan kemarin, dan benar. Ada nama Baramun yang datang kemarin.
"Kamu bisa pergi."
__ADS_1