
Demi mempertahankan citra kepala keluarga, Gana sudah berhenti menangis sebelum Fang pulang. Membelah dua potongan kayu dengan kapak, tubuh berkeringat Gana membelakangi pintu masuk.
Fang memeluk kaki ayahnya, mencibir dalam hati tentang Baramun yang bicara omong kosong tentang Gana yang menangis. Pria tangguh seperti ini, bisakah menangis hanya karena diabaikan olehnya? Mustahil sekali.
"Ayah~" Nada manja ini. Fang melihat lurus ekspresi Gana.
Menurunkan kapak, Gana menarik kerah baju Fang. Menggendong putranya dalam pelukan, "sudah tidak marah lagi pada ayah?"
Fang cekikikan, geli ketika perutnya di gelitik. "Tidak marah. Ayah ampun, geliiiii"
***
Seminggu setelah pertemuan kedua, Hamid meninggalkan wilayah bawah. Kereta khusus dari akademi menjemput lebih dari dua puluh siswa baru, baik itu laki-laki atau perempuan, semua sangat menantikan dan ingin tinggal di dunia menengah.
Bersandar malas, Hamid tidak ikut berkumpul atau bertukar pembicaraan. Otaknya terus memutar perkataan Fang sebelum bocah itu pergi pulang. Menyentuh ornamen peninggalan orangtuanya yang sengaja dia pakai sebagai hiasan gantungan pakaian, Hamid menghitung sampai kereta meninggalkan arai.
Arus hangat melonjak drastis. Hamid memejamkan mata, senyum menawan membuat orang yang melihat menyangka Hamid juga senang pergi ke akademi.
"Hamid, kamu juga senang kan bisa pergi ke akademi? Semoga kita berbagi asrama yang sama ya." Pemuda yang lebih tinggi dari Hamid merangkul bahu, "kudengar tidak ada makanan untuk dimakan di wilayah menengah, kita hanya bisa mengandalkan perbekalan yang dibawa saat ini lalu meminta kurir mengirim barang."
Hamid tidak bergeming.
"Hamid? Oh, sepertinya anak ini tertidur."
Tidak ada yang tahu, saat ini Hamid tengah mengikuti arus hangat yang melonjak pada tubuhnya. Indra pendengaran lebih sensitif, Hamid bisa tahu apa yang tengah dibicarakan orang pada gerbong di belakang atau didepan.
****Kakak, mau dengar hal menarik tidak?****
****Benda ini milik Elf! Biasanya diberikan pada pasangan mereka sebagai mahar. ****
****Kak, kamu bilang ini warisan milik orangtuamu. Mungkinkah ayah atau ibumu elf****?
Hamid tidak menganggap apa yang dikatakan Fang adalah benar. Menganggap anak itu sedang membuat cerita menarik untuk mengambil perhatiannya. Namun rasa penasaran membawa langkah kaki Hamid memasuki perpustakaan.
berdiri di lorong buku tua yang hampir tidak pernah dikunjungi oleh siswa, Hamid mencari tentang sejarah elf dan benda-benda yang dapat mengindetifikasi harta peninggalan bangsa Elf.
__ADS_1
Halaman pertama sampai yang ke enam, Hamid menertawakan kebodohannya karena berhasil ditipu, tapi halaman ketujuh membuat pupil mata Hamid terbelalak.
Ciri-ciri keturunan elf campuran.
Hamid membuka lengan pakaian, sebuah tanda lahir yang dia kira tanda biasa merupakan segel untuk membuka warisan ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh orangtuanya.
Jantung Hamid berdetak. Keluar dari perpustakaan dengan tumpukan buku tua. Tuhan tahu betapa dirinya mencintai buku, namun lima hari terakhir Hamid bisa katakan dia telah berubah menjadi maniak.
Tanpa tidur, terus-menerus membuka buku untuk dibaca dan berhenti ketika pintu kamarnya diketuk. Guru mengingatkan bahwa jadwal keberangkatan adalah hari ini, meminta Hamid mematikan lampu dan tidur.
***
Baramun mengantuk. Hari-hari dihabiskan untuk membantu keluarga Fang beternak ayam dan bertani telah usai. Hasil panen telah tiba dan upahnya dibayarkan. Tidak ada pekerjaan untuk dikerjakan, Baramun membeli alat pancing dan mencoba memancing ikan di hulu sungai.
Satu atau dua orang tua yang lewat menyapa. Baramun yang tidak tahu siapa mereka tetap membalas sapaan. Sulit untuk mengabaikan, penduduk desa sangat ramah.
Menguap lebar. Hampir satu jam Baramun memasang alat pancing dan belum ada ikan yang memakan kailnya. Semakin bosan, mata Baramun terasa berat.
Bel yang diikat pada pancingan bergerak. Baramun yang terjaga hampir menceburkan diri ke dalam sungai. Menarik pancingan, akhirnya ikan berukuran sedang tertangkap.
"Kenapa?"
Fang sekarang telah berusia delapan tahun. Tiga tahun berlalu, anak itu masih tetap gendut. Bedanya tidak ada yang dapat mengangkat nya atau menggendongnya lagi.
"Aku ingin ke desa Tui. Juan telah membolos selama dua hari dan baru hari ini guru bilang Ayah Juan sakit."
Baramun menolak. Dia tidak suka terlalu banyak berinteraksi dengan manusia. Walaupun aroma darah tidak semenggoda saat pertama kali dia tiba, tetap saja rasa haus itu masih ada.
"Tidak berminat. Pergi sendiri."
"Aku akan memberitahukan metode menumbuhkan tanduk lebih cepat. Kamu tidak mau?"
Pancing jatuh. Baramun meraih tangan Fang, "Ke arah mana desa Tui itu?"
Akhirnya Fang meminjam gerobak sapi di rumah. Gana yang berniat mengantarkan Fang pada awalnya meminta Baramun berhati-hati di jalan dan lebih baik tinggal menginap apabila hari sudah terlambat untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
"Maaf merepotkan kamu. Tiba-tiba saja Buwin memintaku untuk membantunya mengantarkan semua biji-bijian ke kota kabupaten."
Baramun melambai ringan, "Fang dan aku akrab, kamu tidak usah sungkan."
Perjalanan dari desa Noik dan Tui tidak begitu mulus. Jalanan menuju desa Tui terjal, bebatuan yang kasar hampir menggulingkan gerobak kalau saja Baramun tidak cekatan turun dan menahan sisi samping.
"Tinggalkan gerobak untuk di titip pada kedai teh yang barusan kita lewati. Jika terus dipaksa, sapi milik keluarga mu bisa patah kaki."
Fang mengangguk. Wajahnya pucat karena mabuk perjalanan, turun dan meludah, Fang memeluk perutnya, semua yang dia makan tadi siang terbuang semua!
"Ini minum dulu." Baramun membeli satu kendi teh dingin untuk Fang. Minum beberapa teguk, rasa mual ditekan dan Fang berjalan lesu.
***
Juan yang menyapu rumah terkejut ketika Fang muncul. "Ka, kamu! Mengapa datang kemari!"
Membawa Fang masuk, Baramun menolak dan memilih melihat pemandangan laut. "Aku akan duduk di tepi pantai."
Fang yang lemas, minta Juan menuangkan air. "Aku tidak tahu akan sejauh dan semelelahkan ini untuk sekali perjalanan. Kakimu lebih kuat dari kaki penarik gerobak!"
Memukul betis yang tegang, Fang memandang matahari yang mulai tenggelam. "Aku butuh empat jam lebih untuk sampai. Besok aku baru kembali, biarkan aku dan Baramun menginap."
Juan menggaruk kepala. "Tapi rumahku sempit. Kamu mau tidur dimana? Hanya ada satu kamar dan sudah ada ayah dan saudara laki-laki yang tidur di dalamnya."
"Disini juga bisa. Sebarkan kain sebagai alas dan pinjamkan bantal."
Juan merenung. Melihat bahwa Fang tidak melihat jijik pada sekeliling rumahnya, Juan setuju dan masuk ke kamar.
Suara pria batuk di dalam membuat kening Fang mengerut. Ayah Juan pasti sakit keras sampai-sampai Juan harus minta izin tidak masuk sekolah.
"Ayahmu sudah menemui dokter?" Fang bertanya saat Juan membawa dua kain selimut dan dua bantal dari dalam kamar.
Juan menggeleng, "tidak ada dokter di desa dan dokter di luar tidak mau datang ke desa Tui. Bagi yang sakit, kami hanya harus berjalan sendiri."
"Aku membawa gerobak sapi! Besok pagi, ayo bawa ayahmu untuk diperiksa ke dokter."
__ADS_1
Mata Juan memerah. "Oke. Terimakasih Fang."