Broken Sword

Broken Sword
Ch. 24: Pergi Sekolah


__ADS_3

Usul Fang bersekolah di kota kabupaten diputuskan. Bangun sebelum ayam bangun, Fang diseret dari tidur nyenyak dan disiram air dingin. Gana yang memandikan putranya memegang Fang agar tidak kabur.


"Aku tidak mau pergi. Ayah, aku masih mengantuk."


Gana tidak menggubris penolakan Fang. "Mau kamu menolak sedemikian rupa, kamu tetap harus pergi. Belajar yang rajin!"


(⁠╯⁠︵⁠╰⁠,⁠)


Fang berjongkok membelakangi Gana. Memberi pantat untuk tanda protes. Semakin dia besar semakin kejam orang tuanya! Kemana orang tua yang selalu memanjakannya pergi?!


Menggigil dalam balutan handuk. Fang dipakaikan baju sekolah. Tunggu. Dimana dia melihat seragam yang mirip? Oh!!


Perasaan dirugikan hilang. Fang mengelus bahan seragam yang lembut.


"Tidak merajuk lagi?" Gana melihat perubahan emosi Fang. Mengalungkan ikat pinggang, Gana memberi contoh cara melepas dan memasangnya ketika Fang perlu ke toilet.


"Kalau diputar dari arah sebaliknya, celanamu bisa saja jatuh saat berjalan. Perhatikan jangan sampai salah."


Fang yang kewalahan, "kalau kasih contoh jangan cepat-cepat. Ayah aku tidak ingat."


Aira yang sudah selesai memasak, membawa kotak bekal makan siang untuk Fang bawa. Menyisir rambut Fang yang mulai panjang, Aira mengepang bagian depan lalu ditarik kebelakang. Ada jepit rambut kayu yang baru dibeli bersamaan dengan seragam. Fang terlihat tampan.


Mondar mandir melihat pantulan di cermin, Fang akui porsi wajahnya mengambil semua keunggulan dari Aira dan Gana.


Sarapan bersama, Gana mulai khawatir. "Seragamnya tidak terasa kekecilan kan?"


"Tidak. Terasa pas."


"Setelah makan baru kamu bilang. Ayah takut bajumu sobek."


Lagi dan lagi. Permasalahan berat badannya menjadi alasan bagi Gana atau Aira untuk cemas. "Robek ya robek. Ibu kan pintar menjahit, tinggal di jahit lagi."


Menelan semua nasi, Fang mencium pipi Aira. "Bu, aku pergi dulu"


Gana menarik keluar gerobak sapi. Mengangkat Fang untuk duduk di belakang dan menyuruhnya berpegangan yang erat. "Jangan lepaskan atau nanti jatuh."


Gerobak sapi berjalan lambat. Melewati rumah Baramun, iblis itu mengintip dari dalam rumah. "Kalian mau kemana?"

__ADS_1


Gana menarik tali agar sapi berjalan lebih lambat. "Pagi Baramun. Aku akan mengantar Fang pergi sekolah. Permisi" Takut terlambat masuk hari pertama ke sekolah, Gana tidak berlama-lama dan mengejar waktu.


Guncangan gerobak sesekali menyebabkan kepala Fang terbentur. "Ayah, aku menjadi bodoh itu karena kamu!"


***


Sekolah sangat menyeramkan.


Fang melirik semua kecambah kecil yang menangis tidak ingin ditinggalkan di depan gerbang sekolah. Gana juga berkeringat dingin. Melihat pada putranya, berharap Fang tidak merajuk seperti yang lain.


"Ayah ingin aku menangis dan berguling di tanah seperti mereka?" Kata Fang mengemukakan isi kepala Gana.


"Anak ayah yang paling bijaksana disini. Kamu masuk dan sapa guru, nanti siang akan ayah jemput."


Cih.


Fang memajukan bibir, berjalan seperti anak sombong. Kesal pada suara tangis yang mirip babi, Fang dengan sengaja menginjak tangan bocah yang berguling menghalangi jalan.


"Aw, aw, aw. Tanganku gepeng!!! Ibuuuu, aku tidak mau sekolah. Sekolah menyeramkan."


Dua guru yang menerima murid baru berdiri seperti pagoda kokoh. Menonton keributan seperti melihat pertunjukan akrobat. Fang batuk, "guru, aku disini."


Guru lain yang berjaga bersama Lea ikut teralihkan. Mirip tahun-tahun yang lalu, anak murid baru akan tantrum tidak mau masuk sekolah. Penampilan tengah Fang dan seragamnya yang rapih sangat mencolok. Menambah poin kasih sayang dua guru padanya.


"Aku Fang! Guru, dimana kelasku? Ayah bilang aku harus belajar yang rajin agar jadi anak pintar"


Suara Fang di dengar oleh wali murid lain. Membandingkan dengan anak-anak mereka yang menangis dan tidak masuk akal, sosok Fang sungguh sedap dipandang.


"Masih menangis? Berani menangis huh!" Seorang ayah yang tidak sabar menggertak anaknya karena jengkel.


Episode tangisan berakhir ketika orang tua dengan tegas pergi pulang mengabaikan putra/ putri mereka. Fang yang datang awal ke kelas memilih kursi di dekat jendela. Wali kelasnya bukan dua guru yang menyambut di pintu gerbang. Seorang wanita tua berwajah lembut menyapa murid-murid kecil.


Fang mengantuk karena suaranya yang terlalu lembut. Menguap lalu memejamkan mata sesaat, nampaknya hari pertama sekolah Fang tidak mendengarkan apapun dari ajaran guru.


Pukul sebelas adalah waktunya istirahat. Fang tetap tinggal di kelas dan membuka bekal makanan nya.


"Lihat, dia membawa daging."

__ADS_1


Anak kurus yang duduk tidak jauh dari meja Fang mengendus aroma makanan dan melirik isi kotak makan Fang. Ada cairan aneh yang sesekali ditahan dari mulutnya. Fang yang protektif pada makanan entah kenapa merasa kasihan pada anak kurus itu.


"Kamu mau?"


Juan tidak menyangka Fang akan menawarkan bekal makanannya. Menyesap liur, malu-malu Juan mengambil potongan daging paling kecil dengan sumpit miliknya.


"Terimakasih."


Dari warna pakaian seragam yang kusam, mungkin anak ini terlahir dari keluarga miskin yang tidak punya tanah untuk dikelola dan mengandalkan pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup.


"Kamu siapa? Aku Fang dari desa Noik"


Juan iri ketika mendengar nama desa Fang. Desa Noik salah satu desa yang warganya hidup berkecukupan. Menyembunyikan tambalan pada sudut lengan, Juan yang rendah diri ragu-ragu memberitahu nama dan asal desanya.


"Ugh, bau apa ini? Aku mencium bau amis, siapa yang berbau busuk huh?"


Fang mengangkat kotak makannya yang hampir jatuh. Bocah yang tidak kalah gendut dari Fang kini berdiri di depan meja Juan, mendorong-dorong meja sekitar agar bisa lewat.


Juan ketakutan.


"Kamu dari desa Tui kan? Hahahaha pantas saja bau badanmu mirip ikan busuk."


"Dadan cukup sudah! Nanti guru tahu dan kamu akan dalam masalah."


Bocah gendut yang bertingkah sok melotot pada sepupunya. "Kamu diam. Aku hanya ingin menjaga keharuman kelas dari bau amis!"


Awalnya Fang terlalu malas ikut campur dalam pertarungan kekanakan. Tapi makin kesini, omongan bocah bernama Dadan makin tidak patut. Menarik nafas, hembuskan. Emosi Fang makin tidak terkendali ketika bocah gendut itu menghina orang tua Juan.


Menyimpan sumpit dan sendok, mengamankan kotak makan, Fang menendang tubuh Dadan. "Bedebah!" Umpat Fang emosi.


Tenaga untuk memukul juga tidak diukur. Wajah Dadan membengkak. Ada benjolan biru pada bagia pelipis dan Dadan yang tidak jago membalas malah menangis minta tolong.


"Maya bantu aku! huaaaaa, Maya!!"


Sepupunya dipukul, Maya yang takut terkena pukulan jika melerai berlari mencari guru.


Juan sedikit terpana. Ini kali pertama ada yang membelanya. "Fang berhenti memukul. Guru akan.."

__ADS_1


"Astaga!! Hey nak" Guru pria yang dipanggil Maya tiba. Menarik Fang menjauh dari Dadang yang memar-memar.


__ADS_2