Broken Sword

Broken Sword
Ch. 23: Ternyata Keturunan Elf


__ADS_3

Meludahkan tanah dari mulut. Fang kesulitan bangun. "Kakak, bantu aku"


Hamid berkedut. Mengulurkan tangan meraih tubuh Fang berbaring di tanah. "Mari kubantu bersihkan." Menepuk-nepuk bagian pakaian yang kotor oleh tanah, Hamid juga membetulkan ikat kepala Fang yang miring.


"Kakak siapa namamu? Aku Fang!"


Anak ini tidak punya dasar perlindungan diri dari orang asing? Hamid mencari-cari adakah orang dewasa yang kehilangan anak tapi tidak menemukan siapapun.


"Eh, Hamid. Nama kakak Hamid. Kamu sendirian disini?"


Fang berekspresi sedih. "Kakak lelaki menyuruh aku tinggal disini sampai dia kembali."


Alis Hamid menyatu. "Kenapa dia tidak bertanggung jawab! Bagaimana kalau ada yang menculik kamu?"


Fang malu. Suaranya pelan tapi masih dapat didengar oleh Hamid. "Tidak mungkin. Aku gendut dan banyak makan, penculik akan ragu menculik aku."


Ludah menyembur. Hamid tertawa keras. Mengelus kepala Fang gemas. "Kamu sangat sadar diri."


Fang lega karena Hamid tidak menaruh curiga padanya. Tangan berlemaknya juga mulai tidak tahu malu, "Kak Hamid, gantungan ini bagus. Dimana kamu mendapatkan nya?"


Tanpa sadar Hamid menyembunyikan hiasan gantungan dari cakar Fang. "Ini pemberian dari orang tua ku."


Ah!


Hamid bukan pasangan Elf?


"Kakak, dimana rumahmu? Bolehkah aku main ke sana?" Mari kita cari tahu. Pergi dan lihat siapa salah satu dari orang tua Hamid yang merupakan Elf.


Cuaca sangat terik. Hamid yang melihat wajah Fang berkeringat membawa Fang berteduh masuk ke dalam sekolah. Ada kursi panjang pada aula depan, Hamid membawa Fang duduk disana.


Hamid menjawab pertanyaan yang diajukan Fang tanpa merasa risih. Menyebutkan sebuah alamat tempat dia tinggal.


"Bukankah itu sebuah asrama? Kakak tidak tinggal dengan orang tua kakak?"


Hamid tersenyum kecut. Fang ingin mencubit mulutnya sendiri. "Maafkan aku kak."


Permintaan maaf Fang membuat Hamid nyaman. Anak-anak tidak mengerti tapi Fang yang terlihat berusia lima tahun menunjukkan tanda-tanda empati yang luar biasa.


"Orang tua kakak sudah lama meninggal. Kerabat dari pihak ibu membawa kakak kemari untuk tinggal. Awalnya ada ibu pengasuh tapi meninggal dua tahun yang lalu."


Fang curiga "Jadi kakak tidak pernah keluar dari wilayah bawah?"

__ADS_1


Hamid mengangguk. "Kerabat yang membawa kakak kemari tidak meninggalkan alamat atau nama. Hanya beberapa benda peninggalan orang tua yang diberitahukan oleh pengasuh kakak sebelum meninggal."


"Ini sudah hampir setengah jam. Saudara mu masih belum kembali?"


Fang yang masih ingin bertanya hal lain menelan semua kalimat tanya ke dalam perut. Akan ada waktu lain, jangan terlalu cerewet dan membuat Hamid kesal.


Meloncat turun dari kursi, Fang nyengir. Lesung pipi samar yang hilang akibat lemak sesekali timbul. Hamid mencubit Fang sebentar.


"Pasti sudah datang. Kakak, kapan-kapan kita akan bertemu lagi. Dah!"


Hamid menatap kepergian Fang. Dia paling iri dengan keluarga lengkap ataupun hubungan saudara yang akrab. Kalau saja orang tuanya masih hidup dan mereka melahirkan anak lainnya, Hamid tidak akan begitu kesepian.


"Bukankah sekolah sudah usai? Kenapa belum kembali?" Guru yang baru akan pulang berpapasan dengan Hamid. Murid ini sangat cerdas, guru-guru disekolah sangat membanggakan anak didik yang giat belajar.


Hamid yang punya hubungan akrab dengan guru membantu membawakan buku-buku yang kesulitan dibawa. "Aku baru saja akan pulang. Guru, aku akan membantumu."


***


Jantung Baramun berdetak tidak karuan. Dia berlarian untuk sampai kemari tapi tidak menemukan sosok Fang!


Kebingungan dan cemas. Baramun berpikir untuk melaporkan anak hilang pada petugas keamanan.


"Baramun."


Fang pusing. "Hey, jangan terus melempar. Huekk" Fang menahan mual.


Hampir di siram air muntah, Baramun membelikan Fang segelas teh dingin. Penjaga kedai sibuk melayani tamu lain, kedai sedang ramai-ramainya karena cuaca yang sangat panas.


Minum dalam sekali teguk, Fang mendesah lega.


Baramun juga membeli satu untuk dia minum. Menyesap sedikit demi sedikit. Rasanya aneh. Sedikit pahit tapi ada perasaan dingin yang mengalir melewati tenggorokan.


"Kamu sudah bertemu pemuda itu? Gimana? Dia Elf yang menyamar juga seperti aku?"


Fang melirik Baramun untuk mengingatkan. Suara Baramun terlalu keras, untungnya kedai juga ramai jadi tidak ada yang peduli pada mereka.


"Sudah kubilang, Elf tidak sama seperti ras kalian."


Baramun berdecak. "Mengapa berbeda. Kami juga diasingkan dan dikucilkan oleh kalian para manusia!"


Fang malas berdebat. Memang sistem yang digunakan dalam mengelola kehidupan bermasyarakat sangat merugikan kepentingan ras lain, tapi ini juga demi melindungi diri. Manusia memang pandai dalam ilmu pedang dan juga sihir, tapi bakat itu harus dilatih. Sedangkan ras lain terlahir dengan warisan bakat milik orang tua mereka.

__ADS_1


Poin ini tidak pernah dipikirkan sehingga kebanyakan dari ras iblis beranggapan bahwa Manusia terlalu mendominasi. Andai mereka tahu, tidak perlu iri sama sekali. Semua mempunyai porsi yang sesuai asalkan menyadari potensi yang mereka punya.


"Dia bukan elf."


"Bukan? Terus mengapa kamu mengejarnya?"


Fang menjelaskan secara singkat. "Aku melihat dia memakai aksesoris yang biasanya diberikan oleh elf kepada pasangan mereka. Ternyata itu milik orangtuanya yang sudah meninggal."


"Dia keturunan elf?! Mengapa tinggal disini."


Baramun keheranan. Biasanya setengah Elf akan dibesarkan di dunia atas untuk dikelola. "Jangan bilang dia tidak tahu kalau dia setengah Elf!"


"Dia memang tidak tahu."


"Wtf. Menyianyiakan bakat. Menurutmu, condong kemana kekuatan bakay yang dipunya oleh pemuda itu."


Fang diam. Pembicaraan antara dirinya dan Hamid terlalu singkat. Dia tidak tahu hanya dengan bertukar beberapa kalimat saja.


"Mana ku tahu. Aku bukan dewa."


"Kamu bukan?!" Sekarang Baramun terkejut.


"Untuk apa kamu bersemangat. Jangan ganggu tamu lain dengan suaramu yang keras"


Iblis menatap lekat pada Fang.


"Apa?" Tanya Fang risih.


"Kamu bukan dewa, lalu bagaimana kamu tahu tentang totem milik rajaku dan juga aku?"


Tanda identitas yang digambarkan Fang hanya diketahui oleh pemilik nama dan juga keluarga terdekat. Tidak mungkin bocor dan diketahui sembarangan orang. Baramun pikir, Fang adalah jelmaan dewa yang bosan dan terlahir sebagai anak manusia untuk bermain.


Jadi semua tebakan dan kecurigaannya salah semua?!


Fang ini manusia sungguhan!!


Fang tersenyum dengan cara mencurigakan. "Menurutmu bagaimana?"


***


Gana menunggu di depan pintu masuk desa. Hari semakin sore tapi anaknya belum juga pulang.

__ADS_1


Sebelum matahari benar-benar tenggelam, Gana melihat dua sosok dari kejauhan. Seperti cara mereka pergi. Baramun meletakan Fang di atas bahunya dan bertanya ini itu, sedangkan orang yang ditanya hampir mengantuk karena tidak tidur siang.


__ADS_2