
Ayah Dadang adalah seorang pedagang yang sering melakukan bisnis di banyak tempat. Mempunyai koneksi dari berbagai macam latar belakang telah meningkatkan derajat keluarga yang dulu dianggap sebagai pedagang biasa.
Membuka lebih dari dua puluh satu cabang toko yang menjual kain, sembako, dan juga peralatan rumah tangga pendapatan pertahun keluarga Dadang bisa dikatakan orang kaya.
"Coba ibu lihat dimana saja kamu terluka. Ibu akan menuntut!"
Fang mendesis sebal. Juan yang semakin khawatir menatap dua orang tua Dadang gugup. Kalau hari ini masalah pertengkaran disalahkan padanya, dia mungkin harus berhenti sekolah.
Sepasang mata Juan memerah.
Orang tua Juan punya dua anak. Juan lahir ketika usia kakak laki-laki nya telah berumur lima belas tahun. Kehadiran anak adalah berkah, akan tetapi kalau keluarga tidak punya sumber daya, anak bisa dikatakan satu beban yang perlu diberi makan dan pakaian.
Kakak Juan awalnya anak yang sehat dan cerdas namun saat Juan berumur tiga tahun dan kakaknya baru akan berumur sembilan belas, kakak laki-laki Juan terjangkit penyakit aneh. Seluruh tubuh kakak Juan mempunyai bercak merah yang timbul di seluruh tubuh. Awalnya hanya gatal tapi makin lama tubuhnya menjadi demam dan koma.
Tidak ada dokter di desa mereka. Ayah Juan membawa kakak laki-laki pergi ke kota namun dokter tidak dapat mengobati sampai sembuh walaupun keluarga mereka telah mengosongkan semua uang tabungan. Kakak laki-laki Juan bangun dari koma dan menderita autis. Demam tinggi telah merebus otaknya sendiri dan menyebabkan kebodohan.
Keluarga mereka yang dulu hidup miskin namun tentram menjadi tidak karuan. Ayah dan ibu selalu bertengkar, ditambah diketahui kalau ibu sebenarnya berselingkuh. Dua bulan setelah pertengkaran hebat, ibu melarikan diri dengan duda tua desa sebelah. Ayah Juan menua dalam waktu singkat, rambut hitamnya berubah warna menjadi putih dalam semalam.
Melupakan kesedihannya setelah putra sulung sakit dan istrinya kabur, ayah Juan tidak terus tinggal dalam kubangan dan memilih melanjutkan hidup. Masih ada Juan, putra bungsu perlu bersekolah.
Juan yang mengira tidak mungkin baginya bersekolah karena sebagian uang dihabiskan untuk menyembuhkan penyakit autis kakaknya tidak bertanya mengapa diusianya yang ke lima dia tidak pergi ke sekolah seperti anak-anak lain.
Pada tahun selanjutnya, ayah Juan menabung cukup uang untuk mendaftar sekolah. Tidak membeli seragam baru, Juan mengenakan seragam miliki kakak yang disimpan. Semalam sebelum Juan tidur, dia memeluk ayah se erat mungkin.
***
Gana tidak mempedulikan dua orang yang baru datang. Menyentuh wajah Fang untuk melihat kearahnya. "Kamu memukuli temanmu karena dia berlaku kurang sopan?""
Fang mengangguk. Jari telunjuk menunjuk dengan benci, "bocah gendut mengatakan kata-kata buruk. Mengatai Juan berbau amis dan tidak pantas masuk sekolah untuk belajar disini."
"Lalu, lalu dia mulai mengatai orang tua Juan! Mengatakan hal-hal yang lebih kejam terus menerus. Aku tidak tahan."
__ADS_1
Gana menepuk wajah Fang. "Tapi pemukulan tetap saja salah. Tidak baik memulai perkelahian."
Fang tahu dia salah karena memulai pemukulan tapi dia tidak punya sihir! Kalau sihirnya bisa bekerja, Fang akan menghilangkan mulut Dadang selamanya. Hah! Lihat apakah dia bisa berkata-kata atau makan!
"Yah aku tahu. Maafkan aku ayah." Fang bersikap menyesal.
Ibu Dadang berkacak pinggang, "mengapa kamu minta maaf pada ayahmu dan bukan pada Dadang?! Lihat wajahnya yang biru-biru karena dipukul oleh mu."
Gana melirik tajam pada wanita yang memarahi putranya. "Aku tidak memukul wanita tapi aku bisa memukuli suami atau anakmu."
Ayah Dadang yang gemuk mundur teratur. Lihat dirinya yang pendek gemuk lalu pada Gana yang tinggi kekar, satu tamparan bisa merubah wajahnya menjadi wajah babi yang bengkak.
Dadang yang pertama kali diancam akan dipukul oleh paman yang mirip preman menangis takut. "Aku, aku." Katanya gagap.
Kepala sekolah mencoba menengahi. Guru piket wanita juga mengambil alih ketiga anak untuk keluar dari ruangan dan tidak mendengarkan obrolan orang dewasa.
Fang percaya ayahnya tidak akan lunak. Menggandeng Juan keluar, Fang yang kesal pada Dadang menendang pantat bocah itu. Dadang yang dipukul lagi tidak mengeluh, dilihat dari kegalakan Gana, orang tuanya sudah kalah telak.
***
Menelan semua isi kotak makan, Fang juga menyuapi tiga potong daging untuk dimakan Juan. "Makan ini"
Pembicaraan tidak menghabiskan waktu terlalu lama. Gana keluar terlebih dahulu sedangkan orang tua Dadang berjalan lambat di belakang.
"Ayah, bagaimana?" Fang berlari memeluk kaki Gana.
"Pulang dulu, temanmu juga bisa pulang."
Juan yang tidak ditegur atau dimarahi karena menjadi penyebab pertarungan menarik nafas lega. Senyum pada wajahnya yang kurus membuat Gana iba.
"Nak, dimana kamu tinggal?"
__ADS_1
"Desa Tui paman."
Gana mengira dia salah dengar, "Tui?"
Fang yang belum belajar geografi peta wilayah bawah menarik-narik pakaian Gana, "ayah apa yang kamu lakukan! Juan jadi malu."
***
Memeluk leher Gana setelah turun dari gerobak sapi, Fang sedikit sensitif. Orang-orang miskin sangat kasihan. Mengetahui dari mulut Gana, ternyata desa Tui adalah desa termiskin pada wilayah bawah dan mengandalkan laut sebagai mata pencaharian.
Sayangnya laut di desa Tui tidak begitu mudah untuk memancing ikan. Ombaknya sangat tinggi, terkadang akan menggulingkan kapal sampai terbalik dan menelan korban jiwa.
Jadi pada musim semi atau gugur saja para nelayan berani mencari ikan dan dua musim lain hanya mengandalkan tabungan. Tidak cukup makan karena hasil ikan harus ditangkap oleh banyak kepala keluarga, desa Tui yang tanahnya hanya pasir terus menerus hidup dalam kemiskinan sampai sekarang.
"Ayah, kalau mencari ikan sulit dan tidak menguntungkan kenapa tidak pindah ke desa lain yang lebih subur tanahnya atau berdagang?"
Gana yang membantu Fang melepaskan sepatu mendesah, "ini karena peraturan ketat pemerintah. Tidak boleh ada yang bermigrasi kecuali ada wabah yang mengharuskan orang-orang mengungsi."
"Larangan itu bertujuan untuk meratakan jumlah penduduk yang sedikit. Kalau hanya di satu tempat semua orang tinggal, kesulitan sumberdaya alam dan manusia akan lebih tinggi."
Kepala Fang yang jarang digunakan berpikir untuk kepentingan bersama masih tidak mengerti. Pemerintah tahu bahwa desa Tui miskin, mengapa tidak memberikan bantuan!
"Ayah, aku akan jadi orang terkuat."
Gana memeluk Fang masuk ke dalam rumah. "Saat ini pun Fang sudah kuat. Hebat telah membantu teman untuk mempertahankan harga dirinya."
"Kamu juga bisa senang, Dadang yang bermulut jahat telah diberi hukuman tidak boleh masuk sekolah selama satu bulan."
Fang melompat turun dari pelukan Gana. "Hahahaha, bocah gendut itu akan menangis karena tidak dapat mengikuti pelajaran sekolah!"
"Berhenti bilang gendut dan gendut. Kamu juga sama."
__ADS_1