Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
1


__ADS_3

Wanita bersurai panjang itu terlihat menggendong putri kecilnya yang terus menangis begitu kencang, tubuh mungil anaknya yang panas karena demam juga wajahnya yang pucat pasih. Membuatnya begitu khawatir setengah mati, satu tangannya sibuk menggenggam ponselnya dengan bergetar, berusaha menghubungi sang suami yang sedari tadi tidak menjawab telepon juga pesannya.


"Mama pusing, hikss. Kepalanya pusing." putrinya itu terus mengeluh kepalanya sakit, membuat Hana semakin dilanda kekhawatiran.


"Iya, sayang. Sebentar ya, Amel jangan nangis terus ya, nanti kepalanya semakin pusing, udah ya sayang tenang." Hana mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipi tembem yang sudah memerah itu lembut, di ciumnya dahi sang anak dengan terus menimangnya.


Anak berumur 3 tahun itu menggeleng cepat kepalanya, dengan isak tangis yang terus dikeluarkannya. "Tidak bisa, kepala Amel sakit sekali. Papa, Amel mau papa, maahh."


Hana dibuat kelimpungan saat sang anak malah semakin mengencangkan tangisannya, badannya terus memberontak membuat gendongan Hana pada tubuh mungil itu hampir saja terjatuh jika tidak dirinya bergerak cepat.


"Sabar ya sayang, papa nanti pulang kok. Papa lagi kerja."


"Tidak mau, Amel mau papa. Papa!!"


Hana mau menangis saja rasanya, dirinya masih terus menghubungi Satria-sang suami. Namun, lagi-lagi teleponnya tidak dijawab.


Ini sudah pukul lima pagi, Amel terus merengek sakit membangunkannya dari pukul 2 malam. Hana lelah dan mengantuk tentu saja, badannya capek karena mengurus pekerjaan rumah juga Amel yang begitu aktif.


"Amel sekarang makan ya, mama suapi." Hana kembali membujuk Amel, mengajak anak itu makan, mengingat semalam anak semata wayangnya itu hanya makan sedikit saja.


"Mau makan sama papa."


"Amel sayang, mama tadikan udah bilang kalau papa sekarang lagi kerja. Amel makan sama mama aja ya, sayang?"


Amel menggeleng kepalanya, menolak. "Tidak mau, mau makan sama papa."


"Sayang, dengarkan mama ngomong dulu."


"Gak mau! Amel mau makan sama papa!"


"Papa seka–

__ADS_1


Ceklek


"Amel?"


"Papa!" seru Amel semangat, merentangkan kedua tangannya kedepan. Meminta Satria menggendongnya.


Dan Satria menyanggupinya, dia mengambil tubuh kecil Amel yang masih dalam gendongan Hana. "Badan kamu panas banget, kamu sakit?" kaget Satria sambil menatap Hana disampingnya dengan datar dan dingin.


"I-itu, Amel sakit demam dari semalam jam 2. Aku udah telepon kamu dari tadi tapi gak kamu angkat." jawab Hana sedikit gelagapan, melihat tatapan dingin menusuk Satria padanya.


"Amel sakit, papa. Kepala Amel sakit banget." gadis kecil itu mengadu, sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.


"Kepala kamu sakit? Papa pijitin ya kepalanya, biar cepat sembuh." Satria bergerak cepat memijit pelipis Amel dengan pelan.


"Kan sekarang papa udah pulang, Amel makan ya? Mama ambilin makanannya dulu." Hana pamit sebentar kebelakang dapur mengambil makan.


"Amel belum makan?" tanya Satria yang dijawab gelengan polos dari anak itu.


"Nunggu papa, Amel mau makan sama papa. Papa kenapa sih kerja terus, ninggalin Amel sendiri dirumah sama mama." Amel berucap sambil memajukan bibirnya kedepan, merajuk.


"Papa kan kerja sayang, biar bisa beliin Amel mainan banyak."


"Tidak mau, mainan Amel kan udah banyak sekali papa dan mama beli."


"Itu mama sudah datang bawa makanan, Amel makan ya sekarang. Papa suapi." Satria mengalihkan pembicaraan, melihat Hana sudah kembali dari dapur dengan tangan membawa mangkok berisikan bubur.


Satria mulai menyuapi Amel makan, dan Hana duduk dihadapan papa dan anak itu, menatap intens keduanya dengan senyum samar tercetak dibibirnya. Hingga Amel, gadis itu mengerjapkan matanya mengantuk dan kemudian tertidur, menyisakan bubur yang tinggal sedikit.


"Kamu semalam kemana? Kenapa gak pulang? Telepon ku juga gak kamu angkat." Hana bertanya, setelah keduanya berada didalam kamarnya bersama Amel.


Pasangan suami-isteri itu memang tidur berpisah kamar, yang perintahkan oleh Satria tentunya.

__ADS_1


"Dirumah kekasih ku, apalagi? Dan satu lagi, berhenti menelpon dan mengirim pesan padaku, aku risih."


"T-tapi–


"Memangnya sepenting apa kamu, sampai aku harus mengangkat telepon tidak berguna mu." sarkas Satria, tatapannya terus datar dan tajam kearah Hana.


Hana terdiam, Satria benar. Memangnya sepenting apa dirinya untuk hidup Satria? Tapi bukan itu maksud Hana, dirinya terpaksa menelpon terus-menerus Satria juga karena Amel sakit dan terus menyebut papanya.


"Tapi Amel semalam sakit, dan terus memanggil namamu. Aku tau bahwa aku tidak begitu penting untuk hidup kamu, tapi Amel. Apa Amel juga tidak begitu penting di hidupmu? Apa hanya kekasihmu saja yang begitu penting dalam hidupmu?"


Satria terdiam sejenak, kemudian....


Plak


"Tutup mulutmu!"


Hana memegang sebelah pipinya yang sehabis ditampar Satria, mata berkaca-kaca. Namun, berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya.


"Jangan kau sebut-sebut nama Desi di pertengkaran kita dengan mulut sialan mu!"


Hana masih diam, tidak berani menjawab ucapan Satria.


"Ingat bahwa Desi adalah cintaku, wanita satu-satunya yang kucintai sebelum ibuku didunia ini. Dan kamu! Hanyalah wanita benalu yang muncul di hidupku, aku terpaksa menikahi mu karena kau hamil anakku. Jika tidak, sekarang hidupku akan sangat bahagia bersama Desi." setelah mengatakan itu, Satria beranjak pergi menuju kamarnya yang letaknya berada dilantai atas sedangkan kamar Hana berada dilantai bawah, tepatnya dikamar tamu.


Meninggalkan Hana yang terluka dengan ucapan menyakitkan Satria.


Pernikahan ini memang salah, hanya sebuah kesalahan yang mengharuskan keduanya menikah, terpaksa tentunya.


Satria memiliki kekasih yang dicintainya, dan Hana datang membuat kekacauan. Membuat rencana pernikahan yang sudah disusun rapih Satria bersama Desi harus hancur lebur karenanya.


Hana dan Satria memang tidak akan bisa bersatu, lihat saja tadi. Sekalinya keduanya bertemu, hanya ada pertengkaran diantara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2