
"Sudah siap, sayang?" Hana mengangguk seraya membenarkan letak dasi suamiku.
"Ayok." Lucas merih tangan Hana, mereka baru saja datang ke Indonesia dua hari yang lalu untuk datang kelulusan Amel.
Seberapa besarpun kesalahan Amel, tetap saja dia anaknya. Mana ada seorang ibu yang rela berjauhan dengan putrinya, bagaimana seorang ibu tega meninggalkannya begitu saja. Hana selalu rindu pada anaknya, setelah kejadian Desi, semuanya menjadi membaik. Satria dan Desi mulai memperbaiki pernikahan keduanya yang hampir hancur dan Hana yang bertemu kembali dengan Amel.
Anak itu menangis meraung di pelukannya, mengatakan maaf dan penyesalan membuat Hana merasa sakit mendengarnya. Tentu saja Hana telah memaafkannya bahkan sebelum Amel mengatakan maaf padanya, Hana tak pernah marah pada Amel. Tidak akan bisa, Amel terlalu berarti untuknya.
Ibu, satu kata dengan seribu makna. Tak hanya itu, ibu merawat dan mendidik anaknya dengan tulus dan penuh keikhlasan. Kemudian memenuhi kebutuhan anaknya, mulai kamu bayi hingga beranjak dewasa.
Tak pernah ada keluh kesah dari seorang ibu selama merawat dan membesarkan anaknya. Itulah mengapa, seorang anak wajib bersyukur karena telah mendapat kasih sayang dari seorang ibu.
Kasih sayang yang di berikan kepada anak-anaknya akan terus mengalir sepanjang masa. Meski, kasih ibu tidak akan pernah terbalaskan dengan segala harta benda yang ada di dunia.
***
"Mama." Amel memeluk Hana dan tentu saja dibalas oleh empunya.
"Anak mama akhirnya jadi sarjana juga, hebat sekali ya, mama bangga sekali sama kamu." Hana mengusap bahu putrinya itu beberapa kali.
"Amel bisa begini karena berkat mama dan papa juga yang selalu mendukung Amel. Tanpa kalian Amel bukan apa-apa." Hana tersenyum, dia senang anaknya semakin dewasa, baik pikiran maupun perilaku.
__ADS_1
"Hana, apa kabar?"
"Baik, Desi. Aku rindu sekali." keduanya saling berpelukan.
"Sudah berapa bulan ini?"
"Enam bulan."
Satria mengangguk dengan mulut yang sedikit terbuka, matanya melirik kearah Kenan dan berjongkok.
"Mau papa gendong?" anak itu mendongak, mengapa kearah Lucas dan juga Hana meminta izin. Saat mendapatkan anggukan, Kenan segera merentangkan tangannya.
"Mau, Kenan rindu dengan papa Satria." Satria terkekeh saat mendengar ucapan putranya.
"Mau, mau!"
Para orang dewasa itu tertawa melihat tingkah menggemaskan Kenan.
"Nenek juga rindu sekali Kenan. Bahagia terus ya sama Lucas, dia laki-laki baik, ibu yakin." Hana tersenyum saat mendapatkan usapan dibahunya dari ibu Satria.
Tepukan meriah itu diberikan saat Amel mulai dipanggil keatas panggung, gadis itu tersenyum melihat banyaknya orang yang menonton dirinya. Namun, hanya satu yang menjadi fokusnya, ibunya.
__ADS_1
"Ini untuk mama."
Hana tersenyum mendengarnya menuggu Amel melanjutkan ucapannya.
"Banyak sekali hal yang aku lalui dulu bersama mamaku, keluarga kami bukanlah keluarga yang harmonis seperti keluarga pada umumnya. Dulu aku membenci orang yang sudah melahirkan ku didunia ini, namun sekarang aku menyesal, kesalahan terbesarku adalah membenci ibuku sendiri, padahal tanpanya aku bukanlah apa-apa."
Hana terdiam mendengarnya, bayangan saat Amel yang menangis di pelukannya. Amel yang merengek karena sakit, Amel yang mengadu padanya karena jatuh dari sepeda dan Hana selalu sigap ada untuk anaknya.
"Mama terimakasih, mama adalah orang yang terhebat dan terkuat. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, mama adalah orang yang selalu ada untukku ketika aku butuh. Dua puluh empat jam tanpa istirahat namun dia masih bisa tersenyum didepan anaknya, mama manusia paling hebat di dunia ini. Mau sehebat apapun papa, tetaplah mama terhebat bagiku, mama telah melahirkan aku, bertaruh nyawa hanya demi anak tak tau diri seperti ku, mama aku mencintaimu."
Hana meneteskan air matanya, Lucas disampingnya setia mengusap air mata itu dengan lembut.
"Terimakasih Tuhan telah menitipkan ku terhadap malaikat mu yang ku sebut mama."
Amel tersenyum kearah Hana yang juga tengah menatapnya.
"Amel sayang mama."
"Mama juga sayang Amel." ujar Hana di iringi dengan air mata, Lucas mengukir senyuman.
Kini semua orang bahagia, tidak ada lagi luka yang ada hanyalah sebuah kebahagiaan, canda dan juga tawa. Semuanya sudah sempurna saat ini, yang salah menyadari kesalahannya dan berdamai dengan egonya.
__ADS_1
Maka ini semua akhirnya.