
Hana menatap wajah dan badannya di pantulan cermin didepannya, luka membiru dan luka lainnya dapat dilihatnya di sekujur tubuhnya. Luka-luka didapatkan ditubuhnya ini karena ulah Satria yang sering kali memukulinya jika laki-laki itu tengah dalam mood buruknya atau saat keduanya tengah bertengkar hebat.
Satria memang tidak segan-segan untuk melayangkan pukulan ditubuhnya, laki-laki itu akan menjadi temperamen hanya padanya, apalagi bila Hana menyinggung desi-kekasih suaminya itu.
"Mama!"
Teriakan itu membuyarkan lamunan Hana yang sibuk mengelus memar diperut sampingnya, luka yang didapatkannya hasil tendangan kuat dari Satria.
Buru-buru dia mengenakan kembali baju kaos rumahannya dan melangkah menghampiri Amel yang berada ruang santai, tengah menonton kartun.
"Iya sayang, kenapa?"
"Amel ngantuk mah, mau tidur." anak itu menguap lebar, matanya tertutup sayu sambil menggaruk kepalanya.
"Iya aku kesana sekarang, iya sayang love you too."
Hana melirik kecil pada Satria yang tengah menuruni anak tangga dengan langkah tergesa nya menuju pintu depan. Hana abaikan, dia memilih menggendong Amel dan dibawanya kedalam kamar mereka berdua.
"Mamaa." panggil Amel pelan disaat dirinya mau memejamkan matanya untuk tidur.
__ADS_1
"Iya sayang, kamu mau butuh apa, heum?" sahutnya, sambil mengelus rambut Amel. Dirinya ikut berbaring disamping Amel yang matanya sudah terpejam namun kembali dibuka lagi.
"Mama kata papa, Amel bakal punya mama baru, emang iya? Berarti Amel nanti punya mama dua dong?" ujar Amel, mengingat ucapan Satria tadi yang bilang bahwa dirinya nanti akan memiliki mama baru.
Hana membeku sesaat, kemudian menjawab. "Mungkin maksudnya papa Oma, sayang. Oma kan juga mama, mamanya papa dan mama." jelas Hana membuat Amel mengangguk mengerti, kemudian kembali melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.
Bohong jika Hana tidak sakit mendengar ucapan polos Amel tadi, bohong jika Hana tidak mengerti maksud dari mama baru yang dikatakan Satria pada Amel. Ketakutan yang selama ini dirasakannya kembali melanda, takut bila sesuatu yang tidak disukainya nanti akan kejadian.
"Mamaa.." tiba-tiba suara pelan dan lembut Amel kembali terdengar membuat lamunannya terbunyar.
"Ya, sayang? Kenapa bangun lagi tidurnya, heum?"
"Mama juga sayang, Amel. Sayang banget!" balasnya sambil mencium pucuk kepala Amel lama.
Mungkin Satria belum sadar, mungkin saat ini Satria tengah bersenang-senang dengan semua apa yang dilakukannya. Hana yakin bahwa suatu saat nanti Satria akan datang padanya, memeluk dan menciumnya. Mengatakan bahwa dia juga mencintai Hana.
Orang kata, cinta datang karena terbiasa. Mungkin tiga tahun masih belum cukup untuk Satria mencintainya, maka haechan harus bisa lebih bersabar menghadapi Satria, dia yakin bahwa Satria akan perlahan-lahan membalas mencintainya.
***
__ADS_1
Tidak!
Hana salah besar, semua yang dia kira akan berjalan dengan mudah nyatanya itu salah semua! Semua yang dia jalani, semua yang dia bangun dan dia perjuangkan tidak akan pernah membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya luka balasannya, tidak ada kebahagiaan, sedikitpun!
Tidak ada!
Harapannya hancur saat Satria datang dan mengatakan bahwa laki-laki yang menjadi suaminya itu akan menikah desi-kekasihnya. Yang membuat Hana semakin sakit adalah saat Satria mengatakan bahwa Desi tengah hamil.
Hamil anak Satria, suami sahnya.
"I-ini salahkan? A-aku yakin kamu cuman bercanda." ujar Hana terbata-bata menggeleng kepalanya tidak percaya, ini semua sulit diterimanya.
"Untuk apa aku becanda, buang-buang waktu saja. Desi hamil anakku dan aku akan menikahinya segera! Besok pagi aku akan menemui orangtuaku dan akan membicarakan soal ini pada mereka." Satria hendak pergi, namun tangannya ditahan cepat Hana yang wajahnya sudah penuh dengan air mata.
"Hiks, a-aku mohon j-jangan tinggalkan aku dan Amel, dia butuh kamu papanya! A-aku mohon jangan, Satria. Hiks." Hana sudah berlutut dibawah kaki Satria, tubuhnya tumbang tidak kuat dengan masalah yang dialaminya kini.
Hatinya sakit, begitu sangat sakit. Rasanya ingin mati saja.
"Kamu mau ku poligami?"
__ADS_1