Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
16


__ADS_3

London.


Satria dan Desi telah sampai di ibu kota Inggris ini, awalnya Satria hendak pergi sendiri namun Desi memaksa dan memohon untuk ikut, maka dengan terpaksa dia izinkan Desi untuk ikut dengannya.


"Aku kesini bukan untuk berlibur, jadi jangan merengek meminta apapun padaku." ujar Satria saat mereka telah memasuki hotel yang akan kedua tempati selama beberapa Minggu ini.


"Iya-iya aku mengerti, aku tapi sebelum makan aku mau..." Desi mendekat menghampiri Satria yang tengah membuka jas nya, Desi berdiri dihadapan Satria dan menyimpan lengannya dileher laki-laki itu.


"I want us to make love tonight, baby."


Setelah mengatakan itu. Desi segera mencium bibir Satria dengan rakus, tangannya bergerak mengusap dada dan perut Satria lalu turun mengusap dan meremas milik Satria yang masih terbungkus celana kainnya. Satria tak tahan dan membalas ciuman Desi langsung membanting tubuh yang kecil keatas ranjang dengan sedikit kasar. Dia membuka baju dikenakan Desi dengan gerakan tak sabaran.


Keduanya kembali ******* bibir secara bergantian, tangan Desi turun melepas resleting celana Satria dan mengeluarkan itu lalu meremasnya yang mana mendapatkan geraman tertahan dari Satria.


Kini keduanya sudah full naked, Satria mengusap milik Desi lembut membuat Desi mendesah lirih.


"M-masukan Satriaaa." bisik Desi dengan ******* lolos keluar dari mulutnya.


Satria memposisikan miliknya didepan milik Desi. Namun, dia tiba-tiba menghentikan kegiatannya saat melihat Desi yang berubah menjadi Hana yang tengah menangis dengan luka lebam diwajahnya.


"Satria, kenapa berhenti?"


"A-ampun, sakit ampun. Hikss, maafkan aku jangan pukul lagi, hikss sakit."


Satria tersentak dan langsung menjauh membuat Desi kebingungan dan beranjak pergi dari posisi baringnya.


Desi mendekati Satria yang duduk diujung ranjang sembari memegang wajahnya. "Satria, ada apa?" tanyanya, memegang tangan Satria pelan.


"Jahat! Kamu jahat, Satria!"

__ADS_1


Bisikan itu kembali terdengar membuat Satria semakin kalut.


Satria tersentak saat Desi tiba-tiba duduk di pangkuannya sambil menggerak-gerakkan pinggulnya dengan sensual, namun bukan kenikmatan yang kini dirasakan Satria, melainkan perasaan bersalah.


"Desi, aku tidak bisa." Satria segera menghentikan gerakan Desi, dengan memegang bahu wanita itu.


"Apa maksudmu?"


"Aku sedang tidak mood, turunlah sekarang dari pangkuanku." Desi menatap tidak percaya Satria yang wajahnya tampak begitu kalut.


"Satria, kamu becanda?"


"Turun, aku bilang turun Desi!" perlahan, Desi turun dari pangkuan Satria dan setelahnya laki-laki itu pergi masuk kedalam kamar mandi.


Satria menyalakan air shower dan membasahi tubuhnya, bayangan wajah Hana membuat Satria nampak begitu gelisah. Wajah itu menangis dan memohon ampun padanya.


Satria menunduk saat merasakan aset bawahnya terasa sakit, sial. Dia pikir sesaknya akan berhenti saat dia mandi air dingin tapi ternyata tidak, Satria mulai menurunkan tangannya kebawah, mengusap miliknya yang berdiri dengan tegak.


"Maafkan aku, Hana." sungguh tidak tau malu kini Satria mulai membayangkan wajah Hana untuk dijadikan objek fantasinya dan tak butuh lama lagi akhirnya ejakulasi itu akhirnya datang.


"****!"


***


Esoknya, Satria dan Desi datang menemui klien Satria dirumahnya. Ya, kliennya meminta Satria untuk datang ke apartemennya. Dan kini pasangan suami-isteri itu mulai memasuki lift dituntun oleh resepsionis sampai didepan pintu apartemen kliennya.


Ding... Dong...


Satria menekan bel beberapa kali dan terdengar teriakan didalam sana dan pintu akhirnya terbuka.

__ADS_1


"Silahkan masuk, tuan ada didalam." pelayan perempuan yang membuka tadi mempersilahkan keduanya masuk.


"Silahkan duduk, saya panggilkan dulu tuan dan mengambil minuman." hanya anggukan kepala sebagai jawaban Satria dan Desi, setelahnya pelayan itu pamit undur diri.


"Hai, tuan Satria. Selamat datang." Satria mendongak dan tersenyum simpul dan menyambut jabat tangan dari kliennya.


"Senang bertemu dengan anda." laki-laki berperawakan tinggi itu terkekeh kecil kemudian ikut duduk di kursi sofa.


"Tidak usah terlalu tegang, anggap kita teman lama. Perkenalkan aku Luke, tapi panggil saja aku Lucas, orang-orang terdekat ku biasanya memanggilku Lucas."


"Terimakasih, dan kamu bisa memanggilku Satria."


"Kita sepertinya seumuran ya? Senang sekali bisa bertemu dengan klien yang seumuran, karena biasanya klien partner kerjaku sudah tua dan jelek, kamu cukup tampan tapi lebih tampan aku."


Satria sontak tertawa diikuti Desi yang mendengar ucapan pede dari Lucas yang sepenuhnya benar, laki-laki sebagai kliennya kali ini memang sangat tampan.


"Ohiya, Helena. Tolong kamu panggilkan nyonya." teriak Lucas pada pelayan tadi.


"Dia istrimu?" tanya Lucas, tatapannya menatap penasaran pada Desi yang duduk disamping Satria.


"Ya, ini istriku. Desi namanya." Desi hanya mengangguk dan memberikan senyum sopan pada Lucas.


"Kau pasti akan senang berkenalan dengan istriku, kalian bisa menjadi teman nanti."


"Sayang, kamu memanggilku?" mendengar suara halus itu sontak membuat ketiga orang itu menoleh serempak.


Satria membelalak matanya tak percaya, jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat siapa orang yang dihadapannya. Perasaan rindu yang meluap membuat Satria ingin sekali berlari dan memeluk.


"Iya, ini klien ku sayang. Dia juga membawanya istrinya, Desi namanya." Lucas berdiri menuntun Hana untuk mendekat.

__ADS_1


"Satria, perkenalkan ini istriku yang paling cantik di alam semesta ini. Namanya Hana wong."


Ada apa dengan takdir ini?


__ADS_2