
"Hana sayang, tolong pikirkan baik-baik keputusan mu. Ibu yakin kamu keliru dan hanya sedang marah saja, kan?"
Satria dan Hana kini sudah sampai rumah dan mereka langsung membicarakan perceraian keduanya. Ibu Satria terlihat sangat menolak, niat menyuruh Satria membawa Hana ke Jepang untuk memperbaiki hubungan keduanya, yang terjadi malah sebaliknya.
"Aku tidak keliru, bu. Aku lelah terus bersabar menerima semuanya dan terus bungkam, ibu, aku tidak bahagia menikah dengan Satria, begitu juga sebaliknya. Jika terus dipaksakan yang terjadi hanya akan menyakiti kita berdua." tidak ada yang keliru disini. Hana sepenuhnya sadar, dia sadar dengan apa yang dia katakan saat ini.
"Hana ingat, kamu masih punya Amel." ibu Satria melirik kearah suaminya, mencoba bantuan. Namun, sang suami hanya diam.
"Amel pasti bahagia, dia punya Desi. Aku bukan ibu yang baik untuknya, Desi adalah ibu yang baik untuk Amel dan istri yang baik untuk Satria. Kini semuanya sudah selesai, ibu. Aku mau bercerai." Hana mencoba untuk tetap tegar meski matanya sudah memanas dan berkaca-kaca.
"Ha–
Ibu Satria hendak berbicara namun sang suami menahannya. "Sebagai seorang ayah dan mertua, aku tidak bisa memaksa lagi, itu keputusan mu. Maafkan ayah karena sudah membuatmu tersiksa bertahun-tahun dalam pernikahan ini, kau berhak bahagia, temukan kebahagiaan mu. Ayah selalu ada untukmu bila kamu butuh."
__ADS_1
Hana meneteskan air matanya, ibu dan ayahnya telah meninggal karena sebuah kecelakaan dan setelahnya orangtua Satria yang menjadi ibu dan ayah untuknya. "Terimakasih, ayah." isak Hana, memeluk tubuh tegap yang sudah tidak mudah itu dengan erat.
"Sudah cukup penderitaan ini, setelah ini kebahagiaan akan selalu menyertai kamu. Maaf karena ayah selalu diam selama ini." ayah Satria mengusap surai Hana lembut kemudian mengusap air mata yang terus saja berjatuhan.
Satria hanya diam tak mampu berbicara ketika melihat adegan itu ditambah dengan ibunya yang ikut masuk kedalam pelukan itu, dia hanya diam dengan pikirannya sendiri. Tidak peduli dengan Desi yang duduk disampingnya.
"Mama dan papa mau bercerai?"
Hana tersentak saat mendengar suara itu, disana dia melihat Amel yang berdiri diambang pintu. Gadis itu melangkah semakin mendekati.
"Papa jawab aku!" Amel menghampiri Satria yang nampak diam saja enggan menjawab.
"Amel, maafkan mama." Amel melirik kearah Hana yang menangis sambil menunduk, Amel terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
"Jadi benar ya? Mama dan papa mau bercerai?" Amel menatap kearah Satria. "Kenapa papa hanya diam saja?"
"Ini sudah keputusannya, semuanya memang sudah seharusnya berakhir sejak dulu." Amel menggelengkan kepalanya pelan melirik kearah Hana.
"Maafkan mama, Amel. Mama menyerah kali ini, mama bertahan hanya untuk Amel dan sekarang Amel sudah besar, juga Amel punya mama Desi yang lebih baik dari mama. Mama yakin Amel akan lebih bahagia bersama mama Desi, mama dan papa harus bercerai."
Hana berjalan mendekat hendak mengusap rambut anak itu, namun dengan cepat Amel menepisnya dan mendorong Hana hingga mundur beberapa langkah.
"Mama jahat! Mama tidak mau mengurus Amel lagi, mama sudah tidak menyayangi Amel lagi. Aku benci mama! Mama itu mama yang buruk buat Amel, mama sudah gagal menjadi mama yang baik, mama itu buruk, Amel benci mama, pergi saja mama dari sini, pergi jauh-jauh!"
Setelah meneriaki Hana, Amel pergi berlari ke kamarnya. Terdengar suara pintu yang tertutup dengan keras, Hana hanya menghela nafas.
"Ibu mohon pikirkan lagi, nak." ibu Satria meraih tangan Hana dan mengusapnya.
__ADS_1
"Amel menyuruhku pergi, bu. Jadi aku harus pergi agar bisa menjadi ibu yang baik untuk Amel."