Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
7


__ADS_3

Pukul setengah 12, Hana baru saja selesai dengan pekerjaan rumahnya dan baru saja merebahkan tubuhnya diatas karpet, menarik selimut tipisnya bersiap untuk tidur. Namun, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dengan kasar dan menampilkan Satria yang datang dengan tatapan matanya yang tajam.


"Satria?" Hana langsung bangun dari tidurnya.


"Kamu tadi yang membereskan kamarku?" tanya Satria dengan suara rendahnya, Hana hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Dimana kamu meletakkan map biru milikku?" Hana menyerngit dahinya bingung, tidak mengerti dengan ucapan Satria barusan.


"Map biru apa maksudnya? Aku tadi banyak membereskan map milikmu dan disimpan ditempat biasa."


Satria seketika mengeram kesal, "Jadi kamu yang menghilangkan map nya?!"


"Hilang? Aku tidak tau apa-apa."


Plak


"Kamu memang tidak bisa ya tidak mencari masalah sehari pun? Kamu tau tidak kalau map itu sangat penting, sialan! Sekarang kamu harus mendapatkan hukuman karena sudah menghilangkan map penting ku."


Hana merengsek mundur saat Satria mengunci pintu kamar, dan mengambil raket rusak yang berada diujung kamar yang memang tempat ini sebelumnya adalah gudang penyimpan barang tidak terpakai lagi.


"Bisa tidak, sehari saja berhenti membuat kekacauan." Satria mengetuk raket ditangannya dibawah lantai, membuat Hana semakin merengsek mundur menjauh dari Satria.

__ADS_1


"Tidak, aku mohon maafkan aku."


"Maaf? Aku bahkan tidak peduli kalau kamu mati sekalipun!" Hana semakin menggeleng ribut saat Satria sudah berada didepannya.


"J-jangan. Akhh!"


Hana berteriak begitu kencangnya saat Satria memukul pundak lemahnya menggunakan raket.


"Ini hukuman untuk manusia pengacau dan perusak seperti kamu!"


Bugh


Bugh


Bugh


"Tak mau tau, secepatnya kamu harus mendapatkan map itu jika tidak..."


Bugh


Sekali lagi Satria menendang tubuh tak berdaya itu kemudian pergi begitu saja tanpa bebannya, meninggalkan Hana yang terbaring lemah dibawah lantai dengan air mata yang terus berjatuhan dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Tuhan aku lelah."


***


Satria baru saja keluar dari kamar mandi menemukan Desi yang sudah terduduk dipinggir ranjang, dia mendekat dan menyematkan mencium wanita dicintainya itu.


"Ini punya mu?" Desi menyerahkan sebuah map biru membuat dahi Satria sontak menyerngit.


"I-ini? Bagaimana bisa ada dikamu?" tanyanya sembari mengambil map tersebut.


"Aku menemukannya di ujung kamar dan menyimpannya didalam lemari, lain kali simpan barang penting mu baik-baik." Satria terdiam menatap map tersebut, teringat kembali pada kejadian yang dilakukannya pada Hana nanti.


"Hari ini Hana tidak masak, dia sakit. Apa kamu kembali memukulnya, Satria?" Satria hanya terdiam, tidak berani menjawab.


Desi menghela nafas, "Hana juga manusia, Satria. Dia pasti akan lelah pada saatnya. Diabaikan dan diperlakukan tidak baik oleh anak dan suaminya tentu saja itu akan sangat menyakitkan, jika aku yang berada di posisinya, sudah lama aku bunuh diri. Tapi entah mengapa Hana begitu kuat bertahan bertahun-tahun lamanya meski selalu mendapatkan ketidakadilan, tapi aku tau dia pasti kelelahan."


Desi meraih tangan Satria, "Satria, aku pernah melihat Hana menangis sambil memeluk foto mu bersama Amel."


Satria lagi-lagi terdiam, tatapannya menatap Desi dengan kosong.


"Dia pasti lelah, kumohon sadarlah. Hana berhak bahagia, jika tidak bisa membuatnya bahagia setidaknya jangan menyakitinya." setelah mengatakan itu Desi pergi, meninggalkan Satria dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2