
"Hari ini tanggal 24 Febuari, tergugat dinyatakan talak 2 oleh penggugat dan resmi bercerai."
Tok..
Tok..
Tok..
Tiga ketukan dari palu itu terdengar begitu nyaring ditelinga Hana. Dia meremat erat baju dikenakannya dan memejamkan mata dengan erat, belasan tahun telah terlewatkan dan berakhir dengan perceraian.
Kini Hana terbebaskan dari segala beban yang dia angkut seorang diri, belasan tahun yang dipenuhi dengan luka. Belasan tahun yang begitu menyakitkan, Hana resmi terbebaskan dari Satria.
Setelah menandatangani surat perceraian, kini persidangan telah berakhir. Hana memeluk erat map hitam berisi surat cerai saat sudah berada diluar.
__ADS_1
"Jangan lupakan, ibu. Kamu anak ibu sampai kapanpun." ibu Satria memeluk tubuh Hana dan meneteskan air matanya, begitu sulit melepaskan Hana terus bertahan dan merasakan kesakitan karena putranya sendiri.
"Ingat pesan ayah, apapun yang terjadi selalu datang, kita tetap akan selalu menjadi rumahmu." ayah Satria mengecup kening Hana dan memeluk tubuh rapuh itu sebelum dirinya pergi bersama sang istri.
Satria baru saja keluar bersama dengan Desi, laki-laki itu membawa map hitam yang sama seperti Hana.
"Satria, terimakasih untuk enam belas tahun ini. Terimakasih karena bisa menjadi ayah terbaik untuk Amel, dan terimakasih untuk seluruh luka yang kamu berikan padaku. Aku akan menjadikannya sebuah pembelajaran yang membuatku harus lebih baik lagi memilih pasangan." Hana menyinggung senyumannya meraih tangan Satria dan membuka telapak tangan itu.
Satria menyerngit hendak protes. Namun dia dibuat bungkam saat tau bahwa yang Hana simpan di telapak tangannya adalah cincin pernikahan mereka berdua.
Hana melirik kearah Desi,"Aku titip Amel ya, suruh dia makan dengan benar dan jangan begadang. Jangan terlalu memaksakan diri untuk terus belajar, nilai bukan apa-apa yang penting dia selalu sehat, dan tolong berikan ini padanya."
Hana menyerahkan sebuah paper bag ukuran besar, "Ini hadiah ulang tahun Amel setiap tahunnya dan hadiah kelulusannya, tolong sampaikan maafku padanya." mata Hana kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
"Hana, terimakasih." Desi memeluk tubuh Hana dan menangis, kedua orang itu menangis sedangkan Satria hanya diam menatap cincin pernikahan Hana yang kini berada di genggamannya.
"Hana, cepat!" Fanny datang bersama suaminya, mereka berniat menjemput Hana.
Hana melepaskan pelukan mereka, "Desi, kau adalah ibu yang baik untuk Amel jadi tolong jaga dia ya. Aku harus pergi sekarang, selamat tinggal dan terimakasih." setelah mengatakan itu, Hana segera melangkah dan masuk kedalam mobil Fanny dan suaminya.
Mau sampai kapan berbohong sama diri sendiri kalau sebenarnya kamu sudah capek banget sama semuanya? Jauhkan egomu, dunia ini cuman sementara. Cukup berbuat baik dan ikuti aturan yang kuasa, pada akhirnya kita akan kembali pada tempat yang seharusnya.
Singkatnya, aku pernah menaruh hati kepada orang yang salah, dan hebatnya lagi aku tidak pernah menyesalinya. Karena dulu aku pernah bahagia mendengar namanya tapi bodohnya sampai sekarang perasaan itu masih ada.
Aku memang menyesal bertemu dengan dirimu yang hanya meninggalkan sebuah luka yang tidak bisa terobati, namun aku pun bersyukur karena mengetahui arti ketulusan dan kasih sayang yang harus hati-hati ditempatkan. Aku menyerah, aku bukan lagi tidak peduli, tapi terlalu banyak tekanan yang membuatku mundur dan enggan untuk kembali.
Dengan Satria, aku belajar bahwa cinta itu tidak selamanya harus terbalas dengan cinta pula, dengan luka. Hana belajar apa itu arti ikhlas, Hana ikhlas saat Satria mempoligaminya. Namun, ada saatnya juga dirinya harus bergerak.
__ADS_1
Jika kamu merasa tidak nyaman dengan keadaan saat ini, lebih baik kamu segera pergi dan undur diri. Sesuatu yang di paksakan hany akan membuahkan luka yang mendalam dan tak terobati.
Jadi, apa yang akan Hana lakukan saat ini dengan kehidupan barunya? Hana memutuskan untuk pergi ketempat yang begitu jauh sehingga tak ada seorang pun yang akan menemukannya, terkadang egois juga di butuhkan.