
Hari ini akhirnya Desi sudah bisa pulang kerumah setelah rawat inap dirumah sakit selama seminggu, dari balik pintu kamarnya. Hana menitip, menatap kedatangan Desi bersama Satria dan Amel yang selalu berada disisinya.
Semenjak kejadian Desi terjatuh dan keguguran. Hana jadi tidak berani lagi untuk menampakkan dirinya lagi dihadapan Satria, takut itulah alasan utamanya, karena beberapa kali Satria hampir pernah membunuhnya.
Mungkin laki-laki itu masih menganggapnya seorang yang telah membunuh calon anaknya. Hana maklumi, seorang ayah mana yang tidak sakit saat anak yang ditunggu-tunggunya telah diambil duluan oleh sang pencipta, Hana seorang ibu juga tau bagaimana rasa sakitnya.
Tapi disini, Hana bukanlah pelaku yang membunuh anak Satria dan Desi. Hana masih memiliki hati nurani untuk tidak membunuh seorang anak yang tidak bersalah.
Entah sampai kapan kondisi seperti ini terus Hana dapatkan. Rasa lelah kini mulai menggelutinya.
***
Empat belas tahun kemudian...
Hari jalan begitu cepat, berbulan-bulan dan bertahun-tahun, tak ada yang berubah. Semuanya sama saja. Satria tak pernah berubah, dia malah berubah semakin dingin dan arogan. Bahkan Satria sering kali main tangan pada Hana jika wanita itu melakukan kesalahan kecil, kesalahan Satria semakin besar karena Satria masih menganggap bahwa Hana lah penyebab kegugurannya Desi.
Amel kini telah berusia 17 tahun dan sudah masuk sekolah menengah atas, putri Hana itu sudah tumbuh menjadi anak yang begitu pintar, sering mendapatkan penghargaan di sekolahnya dan memenangkan banyak perlombaan. Wajahnya kini semakin terlihat mirip dengan Satria, bahkan sikap keras kepalanya begitu sama dengan Satria.
"Jangan lupa makan bekalnya, ya. Jangan banyak-banyak makan makanan dikantin, tidak baik. Jangan terlalu kelela–
"Berhenti berbicara, aku sudah tau apa yang harus aku lakukan!" Hana sedikit tersentak saat mendengar sentakan keras Amel, namun setelahnya dia hanya menyungging senyum saja.
__ADS_1
"Amel." Desi mengusap lembut tangan Amel, berusaha menenangkan gadis itu.
"Iya iya, anak mama memang sudah dewasa ya. Nih bekalnya, sekarang sarapan saja dulu ya." setelah mengatakan itu, Hana melangkah pergi kedapur, meninggalkan tiga orang itu yang tengah menikmati sarapan paginya.
Selama ini Hana memang tidak pernah ikut sarapan bersama atau makan malam bersama di satu meja. Amel berubah, dia terlihat tidak menyukai Hana, bahkan Amel telah mengusir Hana dari kamarnya dan kini Hana hanya tidur di gudang yang sudah dibersihkan nya.
Entah apa yang membuat Amel tidak menyukainya, namun Hana tidak mempersalahkannya. Amel hanyalah anak labil saat ini yang pikirannya masih tak tentu.
Hana menghela nafas lelah, selama ini Hana merasa bahwa dirinya hanyalah pembantu dirumah ini. Dia selalu menyiapkan sarapan dan makan malam lalu setalah itu dia akan makan setelah mereka selesai, Hana membersihkan rumah ini seorang diri, dia bahkan tidur di gudang dengan beralaskan sebuah karpet untuk dia tidur, tubuhnya sering merasakan kesakitan remuk. Bahkan seorang pembantu saja masih mendapatkan kamar yang nyaman, lalu dia?
Jika ini cobaan dari tuhan, kenapa harus selama ini? Ini sudah hampir 17 tahun Hana hidup seperti ini, namun dia masih tetap sabar menerimanya dan menunggu titik terangnya tiba.
Saat siang Hana akan pergi ke kebun yang dibuatnya dibelakang rumah, ada beberapa sayur dan buah-buahan disana yang ditanamnya selama ini.
***
"Aku pulang."
Mendengar teriakkan itu, sontak membuat Hana segera berlari pelan kearah Amel yang sedang melepaskan sepatunya, sehabis pulang sekolah.
"Sini mama bawakan tasnya, bagaimana sekolah Amel hari ini?"
__ADS_1
"Biasa saja." balas gadis itu singkat dan terkesan ketus dan dingin, Hana tersenyum lalu mengambil sepatu Amel dan disimpannya didalam rak sepatu.
"Amel mandi dulu sana, mama udah masak makanan kesukaan ka–" belum sempat Hana menyelesaikan bicaranya, Amel sudah mengambil tas ditangannya dan pergi masuk kedalam kamar.
"Hey, anak ini." Hana hanya bisa tersenyum dan menggeleng kepalanya maklum.
Hana menghidangkan semua masakannya diatas meja makan, dia tersenyum saat melihat Amel yang datang dengan sibuk bermain ponsel dan kini duduk di kursinya.
Segera dia menyendok-kan nasi beserta lauk pauknya ke piring Amel, yang fokusnya tetap pada benda persegi itu.
"Hana, sini makan bersama." Hana yang hendak pergi berbalik saat Desi memanggilnya.
Hana terdiam, menatap Satria dan Amel yang terlihat acuh tak mempedulikannya. Dia menggeleng sebelum menjawab, "Tidak usah Desi, aku belum lapar, kalian makan duluan saja." setelahnya, Hana kembali pergi kebelakang dapur.
Desi menghela nafas panjang, menatap bergantian Satria dan Amel. "Tidak seharusnya kalian bersikap seperti itu kepada, Hana." setelah mengatakan itu, Desi memilih pergi sambil membawa piring berisikan makanannya untuk menghampiri Hana yang ternyata berada dibelakang rumah.
"Eh? Desi, kenapa kamu ada disini?" Hana tampak terkejut dengan kehadiran Desi disini.
"Tidak ada, aku hanya ingin makan disini bersamamu." Desi ikut duduk disamping Hana.
"Aku belum lapar, kamu makan saja terlebih dahulu. Aku bisa makan nanti." tolaknya halus.
__ADS_1
"Hana, maafkan aku. Tolong maafkanlah aku." ujar Desi tiba-tiba. "Maaf karena aku tak bisa berbuat apa-apa, saat suami dan anakmu bersikap kasar padamu." hanya tersenyum mendengarnya, tersenyum miris lebih tepatnya. Miris akan nasib hidupnya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Lagi pula aku sudah menerimanya dan berlapang dada."