Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
4


__ADS_3

Pagi sekali Hana sudah sibuk didapur, dia sedang memasak sarapan untuk orang-orang rumah. Saat sedang asik memasak dia melihat Desi yang datang dengan pakaian tidur yang masih melekat dibadannya, Hana bisa lihat dileher mulus itu terdapat bekas merah membuat hatinya berdenyut nyeri memikirkan semua hal yang kini terbenam didalam otaknya.


"Sedang membuat sarapan ya, Han?" tanya Desi, melangkah menuju kulkas berada untuk mengambil air minum.


"Ekhm, i-iya." balas pendek Hana dengan gugup.


Desi berjalan menghampiri Hana, melihat tangan Hana yang begitu lihai memotong bawang, tangannya begitu terampil membuat wanita itu tanpa sadar berdecak kagum.


"Wah, kamu hebat sekali masak ya." Hana hanya bisa tersenyum kecil sebagai jawaban, tak tau harus berekspresi seperti apa.


"Ku bantu ya." ucap Desi, yang mana langsung mendapatkan gelengan kepala dari Hana.


"Kenapa?"


"Tidak usah, ini sebentar lagi juga akan selesai, lebih baik kamu duduk saja." tutur Hana lembut, agar Desi tidak merasa tersinggung atas tolakannya.


"Yasudah, tapi aku bantu bagian menyiapkan piring keatas meja makan, ya?"


"Tidak usah–


"Sudah kamu masak saja, bagian menyiapkan piring biar aku saja yang kerjakan. Aku juga bosan berdiam terus, tidak melakukan apapun." Hana hanya bisa menghela nafas saja.


Desi mengambil beberapa piring dan diletakkannya diatas meja dengan rapi, lalu dia kembali mengambil gelas namun saat hendak mengambil gelas terakhir, tiba-tiba saja Desi terkilir.

__ADS_1


Prag


"Argh!"


Mendengar teriakkan Desi tentu saja membuat Hana terkejut dan panik, segera dia menghampiri Desi yang terduduk dibawah lantai dengan pecahan beling gelas yang berserakan didekat wanita itu.


"Astaga, Desi! Apa ada yang terluka?" tanya Hana panik, membantu Desi bangun.


"Tidak ad–


"Apa yang kau lakukan?!" ucapan Desi terpotong saat Satria tiba-tiba datang menghampiri keduanya.


Brak


Satria menghampiri Desi yang masih terduduk di lantai dengan panik. "Kau tak apa, sayang? Apa ada yang terluka?"


"Tidak ada, tapi kaki ku sedikit terkilir saat membantu Hana tadi." mendengar itu, Satria sontak menatap tajam Hana.


"Gila kamu! Desi sedang hamil, sialan! Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadanya juga bayinya, kau ingin mencelakai mereka, hah!"


Hana sontak menggeleng kepalanya, tidak! Dia tidak ada niat mencelakai Desi dan anaknya. "T-tidak, bukan begitu–


"Perempuan sialan! Kau membuatku semakin muak saja!" sentak Satria kesal, dia menggendong tubuh Desi dan dibawanya kekamar.

__ADS_1


Bahkan Satria tidak melihat tangan Hana yang terluka karena pecahan beling gelas karena ulah laki-laki itu, dia berusaha bangun walau sedikit kesusahan karena sakit diperutnya bekas dorongan Satria tadi yang tidak main-main.


Dirinya memilih untuk membersihkan semua kekacauan yang terjadi.


***


Satria mendudukkan Desi diatas ranjang dengan perlahan lalu laki-laki itu berjongkok dihadapan Desi, meraih kakinya yang terkilir lalu kemudian di pijitnya.


"Satria, Hana tidak salah."


Satria menyerngit dahinya, menatap Desi dihadapannya bingung."Apa maksudmu?"


"Ini salahku karena memaksa ingin membantu Hana, padahal Hana sudah melarang tapi aku begitu keras kepala." Satria hanya bisa terdiam mendengarnya.


"Kamu tidak seharusnya berteriak seperti itu pada Hana."


Satria menghela nafas, "Aku hanya khawatir sama kamu, aku takut kamu terluka, apalagi saat ini kamu sedang hamil."


"Tapi nyatanya aku baik-baik saja, Satria. Justru Hana lah terluka, aku lihat tadi tangannya terluka dan berdarah."


Satria hanya bisa diam membisu, tidak menjawab ucapan Desi. Hatinya ada sedikit rasa bersalah pada wanita yang tadi di celakainya.


Tapi itu semua dengan segera di tepisnya, Hana memang pantas menerima kesakitan seperti tadi.

__ADS_1


__ADS_2