Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
10


__ADS_3

Terkadang jika kita selalu bersikap baik kepada orang, maka orang-orang akan bersikap seenaknya kepada kita. Menyakiti dan menindas tanpa hentinya, mungkin mereka berpikir bahwa kita ini lemah dan hanya bisa pasrah saja. Kita diam bukan berarti kita tidak bisa marah, kita punya amarah dan dendam. Setiap apa yang mereka berikan tentu saja akan selalu diingat. Selalu di hitung seberapa banyak orang itu menyakiti, dan pembalasan pasti ada, karma itu ada.


Dua Minggu telah berlalu dan hari ini adalah hari kelulusan Amel, para orangtua murid tentu saja datang untuk mendampingi anak mereka. Keluarga Amel, papa Satria, mama Hana, mama Desi, kakek dan neneknya tentu saja akan datang untuk mendampingi Amel. Hana sedari tadi tak bisa melunturkan senyumannya saat melihat putri kesayangannya yang mendapatkan nominasi murid terbaik.


"Oke, ayo kita berfoto bersama sekarang." seru ibu Satria bersorak senang.


"Nak, tolong foto kan ya." wanita baya itu menyerahkan camera pada Cakra, meminta pemuda itu untuk memfoto kan mereka.


"Amel berdiri ditengah-tengah Satria dan Hana, cepat." ibu Satria menarik tangan Amel untuk memposisikan anak itu ditengah antara Satria dan Hana, kemudian disusul lainnya ikut berdiri disamping keduanya.


Hana menyinggung senyumannya, melirik sekilas pada Amel juga Satria kemudian beralih melirik pada camera didepannya.


Cekrek


"Sekarang Hana, Satria dan Amel saja yang berfoto." ibu Satria menarik tangan Desi agar menjauh dari tiga orang itu.


Cekrek


"Hana mau berfoto bersama, Amel? Foto berdua."


Hana tersenyum sumringah, dia melirik Amel yang wajahnya menekuk kesal. Hana menghela nafas panjang. "Em, kita foto nanti saja. Lain kali juga bisa, kan? Kasian Amel pasti kelelahan." sahut Hana tiba-tiba, ibu Satria melirik kearah Amel kemudian menghela nafas.


Malam ini mereka mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kelulusan Amel, ibu Satria yang sibuk membakar daging bersama yang lainnya, juga dibantu Hana.

__ADS_1


"Lusa aku akan mengadakan pembukaan perusahaan terbaruku di Jepang." ujar Satria tiba-tiba seraya memasukkan potongan daging kedalam mulutnya.


"Itu bagus, kamu bawa sekalian saja Hana kesana." Satria menyerngit mendengar ucapan ibunya kemudian melirik kecil pada Hana yang masih sibuk membakar daging.


"Hm."


"Bagus, nanti Amel bersama ibu saja. Satria dan Hana pergi berdua saja ke Jepangnya."


"Lalu aku, bu?"


"Itu terserah kamu, yang pastinya Satria dan Hana akan ke Jepang. Hanya berdua saja." Desi menghela nafas pelan kemudian mengangguk, meski ibunya Satria nampak baik tapi dia tak akan pernah menjadi yang pertama dihati ibu mertuanya itu. Karena baginya, hanya Hana lah menantunya.


"Hana sayang, nanti kamu pergi ke Jepang bersama Satria, ya." Hana yang baru saja datang membawa piring berisikan daging, nampak terkejut mendengarnya.


"Aku?" Hana melirik kearah Satria yang hanya diam, tidak merespon.


***


Hana kira ucapan mertuanya itu hanyalah sebuah candaan saja, tapi ternyata tidak. Bahkan kini Hana sudah berada didalam pesawat bersama Satria yang duduk disampingnya. Hana sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi, ini terlalu cepat dan membuatnya terkejut. Satria sedari tadi hanya diam tanpa berniat mengajak ngobrol, sedangkan Hana terlalu takut untuk angkat bicara duluan.


Hingga akhirnya seorang pramugari datang dengan membawa makanan dan minuman, "Tuan, ingin minum apa?" Satria menyimpan tabletnya, dan meraih segelas kopi dan juga jus jeruk.


"Ada yang ada butuhkan lagi, tuan?"

__ADS_1


"Tidak." sahut Satria dan setelahnya pramugari itupun pergi, Satria melirik Hana dan berdehem.


"Ini minumlah, perjalanan kita cukup jauh, kamu bisa tidur jika merasa lelah." Hana tersentak dalam lamunannya, menatap lambat pada segelas jus jeruk disodorkan Satria padanya.


"Cepat, ambil." dengan segera Hana mengambilnya, takut Satria tiba-tiba marah karena dirinya lama mengambil minuman yang diberikan laki-laki itu.


"Te-terimakasih."


Tidak ada balasan dari Satria, laki-laki kembali fokus pada tabletnya dan memakai earphone ditelinganya. Hana hanya tersenyum melihatnya dan menoleh untuk menatap jendela, melihat awan-awan putih yang begitu indah. Pertama kalinya Satria memperlakukannya seperti itu, dan itu cukup membuat Hana senang.


Berjam-jam lamanya menempuh perjalanan, akhirnya Satria dan Hana sampai juga di negara Jepang. Satria menyimpan dua kopernya di troli agar tidak ribet, sedangkan Hana berdiri disamping Satria. Satria berhenti didepan mobil yang sudah di pesannya, sang supir yang sedari tadi berdiri di samping mobilnya segera bergerak mengambil dua koper tersebut.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" tegur Satria melihat Hana hendak mengambil satu kopernya.


"Membantu."


"Ck. Apa gunanya aku membayar dia, ayok cepat masuk kalau tidak ku tinggalkan kamu disini." Hana segera saja masuk kedalam mobil, takut akan ancaman Satria lontarkan tadi.


Sesampainya di penginapan hotel, Satria dan Hana segera masuk kedalam. Satria membuka jas nya dan dilempar diatas kursi sofa. Hana meraih jas yang dilempar Satria tadi disimpan ditempat yang benar.


"Kamarnya cuman satu?" tanya Hana saat melihat hanya ada satu kamar di sebrang.


"Hm, ibu yang pesan." Hana terdiam sejenak kemudian mengangguk mengerti, dia melangkah dekat pada sofa dan menduduki dirinya pada kursi empuk itu dengan nyaman.

__ADS_1


"Aku tidur sofa aja." ujar Hana tiba-tiba, membuat Satria terdiam sejenak memandang punggung Hana.


"Terserah."


__ADS_2