
"Aku menyerah, aku lelah, aku ingin kita bercerai."
Ada saatnya seseorang lelah, ada saatnya orang yang selalu berjuang pada akhirnya menyerah jika terus di sia-siakan. Sekuat apapun dirimu jika didalamnya rapuh maka akan tetap rapuh, didunia ini tidak ada manusia yang kuat. Mereka yang kuat adalah orang yang rapuh, karena jika ada yang terkuat maka jawabannya adalah Tuhan.
Hana menyerah untuk kali ini, dulu dia bertahan karena anaknya. Namun, jika anaknya saja tak sudi menganggapnya ibu, apa gunanya Hana terus bertahan dan terluka? Dia menyerah.
"Apa katamu? Bercerai?" Satria menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, tertawa terbahak-bahak membuat Hana kebingungan.
"Kamu. Orang yang selalu mengemis cinta padaku minta cerai? Hahaha, sangat lucu sekali. Bagaimana bisa kamu bercerai dari ku sedangkan cintamu itu seutuhnya hanya padaku."
"Bisa, tentu saja aku bisa." Hana menatap Satria tanpa takut membuat Satria mengepalkan tangannya.
"Kamu terlalu sering mengabaikan ku sehingga rasa itu kian perlahan hilang."
Kening Satria menyerngit mendengar ucapan Hana, dia menyeringai. "Matamu itu menunjukkan kebohongan."
Satria memegang kedua bahu Hana, dan berkata. "Rasa itu hilang? Dari dulu kamu memang hanya main-main saja kan?"
__ADS_1
Hana terkekeh mendengarnya, menepis tangan Satria di bahunya. "Jika aku main-main, tidak mungkin aku bisa bertahan selama belasan tahun dengan orang yang sudah melukai ku berkali-kali. Aku menyayangimu dan anakku, lalu apa yang kalian berikan? Hanya luka." mata Hana kian berkaca-kaca siap menumpahkan air matanya membuat Satria bungkam.
"Anakku yang pernah ada didalam rahimku selama sembilan bulan, anakku yang sudah aku rawat bertahun-tahun namun apa balasannya yang aku dapatkan? Hanya luka! Suamiku yang sangat aku cintai, aku menyayangimu namun apa yang kamu berikan padaku? Luka dan luka saja yang aku dapatkan tanpa memberiku jeda untuk mengobati luka, kalian terus memberikan luka padaku padahal luka sebelumnya belum sembuh. Belasan tahun aku hidup dengan seribu luka yang menghantuiku, dan kini saatnya aku menyerah."
Hana mengeluarkan semua perasaan yang dia tahan selama bertahun-tahun, perasaan yang selalu membuatnya merasa sesak.
Hana menyeka air matanya yang menetes dan menyungging senyum. "Satria, aku juga mau bahagia, apa boleh aku bahagia?"
Satria terdiam saat melihat mata itu kian redup dengan air mata yang terus berbondong-bondong keluar membasahi pipi tirus wanita didepannya.
"Bebaskan aku, Satria. Mari bercerai, bukannya itu yang kamu mau sejak dulu? Dan kini semua yang kamu inginkan telah terjadi, kamu akan bahagia dengan Desi." Hana mencoba mengontrol emosinya, menahan air mata yang terus saja menetes namun gagal.
Hana tersenyum mendengarnya, "Amel juga pasti bahagia karena dia sangat menyukai Desi, mama kesayangannya. Hehehe."
Tawa itu, tawa itu bukanlah tawa bahagia, bagaimana bisa orang ini tertawa disaat wajahnya penuh dengan air mata.
"Aku berjanji setelah berpisah nanti aku tidak akan pernah mengganggu keluarga kalian, aku tidak akan muncul lagi di kehidupanmu, aku akan pergi sejauh mungkin yang aku bisa agar kita tidak bisa bertemu kembali. Sudah cukup banyak hal yang terjadi diantara kita, aku ingin kita berpisah dan setelah itu membuka lembaran baru dan melupakan semuanya seolah ini tidak pernah terjadi. Kamu bahagia dengan keluargamu dan aku bahagia dengan hidupku sendiri."
__ADS_1
Satria terdiam, ada apa dengan perasannya saat ini? Kenapa rasanya begitu sesak dan menyakitkan? Bukankah seharusnya dia bahagia? Ini yang dia inginkan dari dulu, kan? Kau kenapa Satria, sadarlah.
"Setelah pulang dari Jepang, kita akan segera mengurus perceraiannya."
Satria pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Hana seorang diri dengan sesak di dada.
Satria menutup pintu kamarnya, menyenderkan tubuhnya ke pintu. Dia memejamkan matanya mencoba menepis segala pikiran yang ada di otaknya yang saat ini menyelimutinya.
Satria terduduk di lantai saat mendengar isakan pelan Hana, kenapa rasanya begitu sakit?
"Aku menyerah, aku lelah, aku ingin kita bercerai."
"Kau terlalu sering mengabaikan ku sehingga rasa itu kian perlahan hilang."
"Ya! Mati saja, mati dan tinggalkan aku sejauh mungkin karena dunia ini tidak butuh manusia payah sepertimu! Manusia tidak berguna yang hanya menjadi sampah masyarakat saja. Kau benalu dalam hidupku, bertahun-tahun aku menahannya karena ibu. Jika bercerai tidak bisa, maka aku harap kau mati agar aku bersama istri dan anakku bisa hidup dengan tenang tanpa adanya sampah sepertimu."
"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya."
__ADS_1
"Setelah pulang dari Jepang, kita akan segera mengurus perceraiannya."
Menaruh hati di atas ketidakpastian sama saja dengan menaruh tangan ditangan seseorang yang sama sekali tidak ingin di menggenggam.