Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
9


__ADS_3

"Lihat lah dia sungguh tidak tau malu, aku dengar ayahnya punya istri dua."


"Benarkah? Oh tuhan! Apakah istri pertamanya diam saja?"


"Ayahku kenal dengan keluarganya, dan katanya mereka menikah karena ibu Amel hamil duluan."


"Iyakah? Berarti Amel anak haram dong? Tapi ibunya kasian juga ya, pasti hatinya sakit sekali melihat suaminya menikah lagi."


"Tapi ku dengar-dengar juga dia ibu yang buruk karena sudah membunuh calon anak dari istri keduanya."


"Juga aku dengar desas-desus nya kalau istri pertamanya itu agak gila."


Amel berjalan terus tanpa berniat mendengarkan bisikan-bisikan orang-orang tidak berguna itu. Dia menduduki dirinya di kursi halte.


Inilah alasannya mengapa Amel membenci mamanya sendiri, dia selalu di bully karena alasan mamanya. Dia benci Hana, dia bahkan melupakan semua jasa yang Hana lakukan selama dia kecil sampai saat ini. Amel bahkan hanya punya teman sedikit karena sebagian dari mereka pergi menjauh dengan alasan Amel lahir dari ibu seorang pembunuh, atau bahkan pelacur. Amel benci itu, dia benci mamanya.


"Wajah tertekuk mu, membuatku tau bahwa kamu sedang marah sekarang." Amel tersentak, melirik kearah suara lalu menghela nafas.


"Nih, minum." Cakra, nama pemuda itu adalah teman setia amel punya, dia menyodorkan sebotol minuman dan diterima Amel.


"Terimakasih."


"Hubunganmu dengan ibumu masih sama?"


"Aku bahkan tidak ada niat untuk memperbaikinya, dia yang membuatku seperti ini, dia ibu yang gaga–


"Jangan pernah kamu mengatakan itu pada ibumu, dia pasti akan sangat terluka mendengarnya. Aku dengar dari bundaku, ibumu sedang sakit ya?"


"Aku tidak tau, tapi tadi pagi dia memang tidak masak seperti biasanya."


Cakra adalah anak dari Fanny, Cakra tinggal di Indonesia bersama neneknya sedangkan orangtuanya berada di Jepang. Orangtuanya sibuk bekerja disana, tapi Cakra tak mempersalahkannya karena menurutnya asalkan ayah dan bundanya selalu ada disaat dirinya benar-benar butuh.


"Ibumu itu adalah orang yang baik, aku yakin. Bundaku dan ibumu berteman cukup lama dan bunda selalu cerita tentang ibumu, dia adalah orang yang ceria dan sangat baik juga lemah lembut, mungkin kau hanya belum menyadarinya saja."


Amel terdiam, memandang kosong air mineral diberikan Cakra. Tatapannya teralihkan pada tetesan air embun yang mulai berjatuhan dari atas langit, "Aku pulang dulu, jemputan ku sudah datang."


***

__ADS_1


Besok ujian akhir akan dimulai dan setelah itu kelulusan akan dilakukan, dia harus fokus belajar, saat ini. Amel tengah begadang untuk menghapal semua pelajaran yang besok pasti akan ada di ujian.


Karena merasa haus. Amel keluar kamar menuju kearah dapur untuk mengambil minum. Saat sedang minum, Amel melihat kamar Hana yang sedang terduduk sembari memandangi sebuah bingkai foto.


"Maaf jika aku menjadi seorang ibu yang buruk untukmu, Amel sayang."


***


Hana sedang berlari tanpa memperdulikan orang-orang sekitarnya, dia berlari tanpa mengenakan alas kaki. Wajahnya berderai air mata, sorot matanya memperlihatkan sebuah ketakutan yang begitu kuat. Hana terus saja berlari bahkan beberapa kali menabrak para pejalan kaki, hingga akhirnya berhenti didepan gedung rumah sakit.


Tadi siang Hana baru saja selesai membereskan rumah dan tiba-tiba mendapatkan telepon dari sekolah bahwa Amel pingsan dan dibawa kerumah sakit, tanpa berpikir panjang. Hana berlari bahkan lupa memakai alas kaki sehingga membuat kakinya terluka, namun luka itu tidak dia rasakan sama sekali.


"Aku ingin bertemu dengan pasien Amelia." ujar Hana pada resepsionis.


"Ruangannya berada diujung sebelah kanan." Hana segera pergi setelah mendapatkan arahan dari resepsionis tersebut.


"Mama kepala Amel pusing, hikss."


"Gak mau, Amel gak suka minum obat, pahit."


"Amel mau mam kalau ada papa, mau mam di suapi papa."


Air mata Hana menetes tanpa henti ketika bayangan Amel tengah sakit dulu melintas di kepalanya, Amel yang merengek kepadanya saat kepalanya terasa pusing, Amel yang selalu memintanya bernyanyi saat gadis kecil itu ingin tidur dan Amel yang selalu manja dan ingin digendong olehnya terus. Kini dia mendengar bahwa anaknya jatuh pingsan bahkan sebelum memulai ujiannya, bagaimana Hana tidak khawatir. Selama seminggu ini, anaknya kurang tidur jarang makan, rasa khawatirnya semakin besar.


Ceklek


Pintu terbuka dan semu orang yang didalam serempak menoleh kearah pintu yang mana langsung menatap Hana dengan tatapan aneh, namun Hana memilih acuh karena fokusnya kini hanya pada putrinya yang terlihat pucat meski sudah sadar dari pingsannya. Jarum infus yang menempel dipunggung tangannya membuat Hana meringis, ingat sekali bahwa Amel sangat takut dengan suntik.


"Amel, apa kamu baik-baik saja? Ya Tuhan, mama sangat khawatir sama kamu." Hana berjalan mendekat membuat beberapa teman Amel memilih mundur menjauh.


Mengusap lembut kening Amel, Hana kembali bersuara. "Sudah mama bilang untuk tidak begadang dan terlalu memaksakan diri untuk belajar, lihat kamu sampai pingsan. Amel mama sangat khawatir." Hana menyeka air matanya dan tersenyum samar memandang Amel, sedangkan Satria dan Desi yang berada disana hanya diam dan saling memandang.


"Amel, apa itu ibumu?" salah satu teman perempuan Amel berambut pirang bertanya.


"Iya, aku mamanya Amel." sahut Hana sambil tersenyum, namun melihat ekspresi wajah Amel membuat senyumannya seketika luntur.


"Kenapa kau datang kesini?" tanya Amel dengan wajah wajah menekuk.

__ADS_1


"Hem? Tentu saja mama datang, mama khawatir seka–


"Aku tidak butuh itu, aku juga tidak punya ibu seperti mu. Aku hanya punya mama Desi dan itu sudah cukup, aku tidak butuh ibu manapun lagi."


Semua orang yang berada didalam sana tersentak kaget mendengar ucapan Amel, lebih-lebih lagi Hana. Bahkan dia sampai terdiam, menahan sakit dihatinya.


"Amel, tidak boleh bicara seperti itu, sayang." tegur Desi yang hanya mendapatkan decakan.


"Tidak apa-apa, Desi. Amel mungkin hanya sedang capek saja, tidak apa-apa." sahut Hana sedikit kekehan diakhir ucapannya.


"Aku ingin kau pergi dari pandanganku, aku muak melihatmu." geram Amel, menatap tajam Hana.


Kedua teman Amel akhirnya telah keluar dari kamar inap Amel karena Satria yang menyuruh, sedangkan Hana masih diam memandangi Amel.


"Amel, sungguh tidak apa-apa, nak? Apa ada yang sakit Amel rasakan?" tanya Hana, menghiraukan ucapan sarkas Amel padanya.


"Sudah ku bilang pergi, sialan!" teriak Amel membuat Hana tersentak, Desi melihat itu segera meraih tubuh Amel dan mengusap lembut pundaknya.


"Amel, jangan begitu. Tenangkan dirimu ya, sayang."


Amel menghela nafas panjang kemudian dibuangnya perlahan-lahan, "Aku lapar."


"Makan ini." Satria mengambil plastik makanan yang dipesannya tadi dan simpan diatas meja nakas disamping kasur ditempati Amel.


"Biar mama suapi ya, sayang." tangan Hana hendak meraih bungkusan makanan.


Brak


"AKU BILANG PERGI DARI SINI, SIALAN! APA KAU TULI?!"


Amel tersentak saat Amel mendorong tubuhnya hingga terjatuh kebawah lantai.


"Amel!"


"Apa, hah?!"


"Tidak apa-apa. Desi, jangan membentaknya. Amel sedang sakit, tolong biar kamu saja yang menyuapi dia makan ya, kalau begitu Amel, mama pergi ya."

__ADS_1


"Desi, aku akan keluar sebentar. " Hana menyinggung senyum, kemudian pergi keluar dan menghilang dari tiga orang itu.


Satria menghentikan langkahnya saat melihat Hana yang duduk di kursi besi dekat ruang inap Amel seorang diri, Hana terlihat menangis sembari meremat bajunya. Satria menunduk turun kebawah kaki Hana yang mengeluarkan darah, terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Satria pergi dari sana.


__ADS_2