Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
20


__ADS_3

Hana membuka matanya perlahan, melirik kearah Lucas disampingnya yang tertidur lelap dengan tenang. Hana menyembulkan senyumannya, kemudian mengecup pipi Lucas.


Dia sudah memutuskannya, bahwa dirinya akan tetap pada pendiriannya. Dengan kehidupan barunya, Hana telah belajar dari luka yang sudah dia rasakan, dia tak mau mengulangi sesuatu yang hanya akan menyakitinya saja, untuk apa kembali jika hanya akan membuat kita menyesal saja?


Jika disini Hana lebih bahagia, mengapa dia harus kembali pada masa lalunya yang suram itu, mereka sudah menyia-nyiakan Hana di saat dia memberikan seluruh kasih sayangnya kepada mereka. Namun, yang selalu dia dapat adalah kebalikannya, luka dan kesakitan itu selalu membelenggu di hati dan membekas sampai saat ini, apa mereka akan menyembuhkannya? Tidak, bahkan Hana berusaha bangkit sendiri.


Untuk apa Hana kembali?


"Apa aku setampan itu sampai kamu terus memandangku?"


Pupil mata Hana melebar saat mendengar suara serak khas bangun tidur, Hana terkekeh melihatnya dan menggesekkan hidungnya ke pipi Lucas membuat laki-laki itu terkekeh geli.


"Kenapa manja sekali? Tidak seperti biasanya."


"Memangnya tidak boleh?"


Lucas terkekeh, kemudian mencium gemas bibir Hana. "Tentu boleh sayang, kamu lagi hamil, ya?"


"Yak!" Lucas mengaduh sakit saat mendapatkan pukulan cinta dari Hana.

__ADS_1


"Aku cuman bertanya, kenapa aku di malah dipukul?"


Hana berdecak, "Habisnya bicaramu melantur sekali."


"Tapi sungguh, apa sudah jadi?" tangan Lucas turun untuk mengelus perut rata Hana yang malah mendapatkan tepisan dari sang empunya.


"Ishh, belum." pungkasnya, membuat Lucas gemas sendiri dan memeluk tubuh yang kian berisi itu dengan erat, mencium pangkal leher Hana kemudian dijilatnya.


"Pagi ini aku bahagia sekali, sangat bahagia." bisik Lucas tepat di telinga Hana.


Tangan Hana terangkat untuk mengelus belakang punggung Lucas dengan lembut, dadanya berdetak lebih cepat. Desiran itu terasa lebih nyata, Hana menutup matanya perlahan.


Lucas tersenyum menatap wajah cantik didepannya itu, jarinya mengusap lembut pipi Hana.


"Dan aku harap alasan kebahagiaan kamu itu adalah aku."


Hana tersenyum, mengusap rahang Lucas lembut lalu sedikit mengangkat kepalanya. Mencium pipi kiri dan kanan, hidung, dagu, kemudian terakhir di bibir. Lucas tersenyum kala Mendapatkan perlakuan seperti itu dan menahan tengkuk Hana lalu mulai ******* bibir tipis itu dengan penuh kehati-hatian.


Tangan kasarnya mengusap lembut pipi Hana, sangat lembut. Keduanya saling menyalurkan rasa nikmat satu sama lain, mengisap dan *******, kemudian keduanya melakukan hingga tak terasa pasokan udara keduanya mulai melemah, membuat Lucas melepaskan ciuman keduanya.

__ADS_1


"Mama Kenan cantik sekali."


"Papa Kenan juga tampan sekali."


Keduanya tertawa setelah mengatakan kalimat itu dan kembali berciuman lalu setelahnya berpelukan menyalurkan rasa hangat pada tubuh masing-masing.


"Aku mencintaimu, Hana. Selalu, kamu adalah awal, pertengahan dan akhir ku. This world without you feel so lacking, the universe will lose its sun. Dan aku tanpa kamu bukanlah apa-apa, kamu semesta ku, aku memiliki mentari didunia, penyinar seluruh semesta."


Lucas mengusap surai Hana lembut yang kini ada di pelukannya, dua pasangan itu kini berada di gazebo yang ada di balkon sembari memandangi kearah jalanan di subuh hari, udaranya jauh lebih menyegarkan.


Hana berada di pelukan Lucas, kepalanya bersandar di dada laki-laki itu. Tangannya melingkar kepinggang Lucas, dan Lucas mengusap punggung Hana, dan satu tangannya mengusap lembut rambut Hana.


"Kamu tau aku, Hana?


Hana mengangguk.


"Kamu mencintai aku?"


Lucas mengangguk, "Aku mencintai kamu hari ini, esok dan seterusnya sampai ajal menjemput."

__ADS_1


Hana menutup matanya perlahan, perkataan Lucas selalu membuat Hana tenang. Perlakuannya membuat Hana nyaman, Hana bahagia disini, bersama Lucas dan Kenan.


__ADS_2