Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
8


__ADS_3

Apa arti cinta dalam hidup Satria? Maka jawabannya adalah, Desi! Dan apa arti Hana dalam hidup Satria. Maka, tidak ada jawaban untuk itu karena Satria pun bingung, Hana apa sebenarnya. Dalam pikirannya Hana adalah perusak hubungannya dengan Desi, Satria selalu risih dengan kehadiran Hana, selalu ingin melukai dan menyingkirkannya.


Hingga secara tidak sengaja saat sedang mabuk Satria menyentuh Hana dan membuahkan hasil, Amel. Dia bertanggung jawab dan menikahi Hana. Satria tidak pernah terpikir bahwa pernikahannya akan sampai sejauh ini, dia berpikir dia berakhir dan Hana akan menyerah, nyatanya tidak. Hana masih tetap kuat meski dia sudah berkali-kali melukainya, baik itu fisik maupun mental.


Satria menghancurkan seluruh harapan Hana, Satria membenci Hana. Namun juga dia selalu bimbang di waktu yang tepat, terkadang Satria selalu terbayang wajah itu. Wajah yang menangis karena dirinya pukuli, tubuh rapuh itu yang meringkuk dilantai dingin dengan luka yang menghiasi tubuhnya.


Apa pernah Satria merasa bersalah? Maka jawabannya adalah, Ya! Namun selalu ditepis Satria. Satria tak mau merasakan perasaan itu kepada orang yang menurutnya hama, namun juga perasaan itu lebih sering muncul setelah dia melakukan kekerasan kepada Hana.


Satria tau Hana menahan sakit karenanya, Satria tau Hana selalu merintih kesakitan setiap malam akibat lukanya. Satria juga sering memergoki Hana yang sedang menangis seorang diri, dia tau Hana terluka karenanya namun Satria memilih untuk acuh dan fokus pada pendiriannya.


Kebencian itu semakin besar saat calon anaknya dari Desi harus gugur sebelum melihat dunia dan Satria berpikir bahwa Hana lah penyebabnya, meski dia tau bukan Hana yang salah namun kemarahan menyelimutinya.


Bertahun-tahun hingga Amel mulai remaja, Satria tak pernah berpikir bahwa Amel anak yang dulu dekat dengan ibunya kini mulai membencinya, Amel sangat membenci Hana entah karena alasan apa. Saat itu Satria memergoki Amel yang sedang berteriak marah pada Hana, namun yang dilakukan wanita itu hanya tersenyum.


Kenapa Hana hanya tersenyum? Kenapa dia tidak menyerah? Bahkan setelah banyak luka yang telah dia rasakan namun Hana masih mampu tersenyum.


Dan kini orang yang sering tersenyum itu tengah terbaring lemah di kamarnya, dia sakit. Dokter sudah memeriksanya dan berkata bahwa Hana kelelahan, baik itu fisik maupun mental, Hana terluka terlalu dalam.


"Apa kamu pikir aku melakukannya karena aku peduli sama kamu?" Satria mulai angkat bicara setelah Hana mulai sadar.


"Huh?"


Satria tersenyum sinis, "Jangan besar kepala dulu, aku melakukannya karena Desi. Tak pernah sekalipun dalam otakku untuk peduli pada kamu, tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu, aku bahkan berharap kamu mati karena semalam."


"Kamu ingin aku m-mati?"


"Ya! Mati saja, mati dan tinggalkan aku sejauh mungkin karena dunia ini tidak butuh manusia payah sepertimu! Manusia tidak berguna yang hanya menjadi sampah masyarakat saja. Kamu benalu dalam hidupku, bertahun-tahun aku menahannya karena ibu. Jika bercerai tidak bisa, maka aku harap kau mati agar aku bersama istri dan anakku bisa hidup dengan tenang tanpa adanya sampah sepertimu."


Jatuh cinta tidak pernah bisa memilih, tuhan yang memilihkan. Kita hanyalah korban, kecewa adalah konsekuensinya, bahagia adalah bonus.

__ADS_1


Ini bukan kisah cinta drama yang mana pemain utamanya akan berakhir bahagia dan berdansa diatas lantai yang dipenuhi bunga, ditonton ratusan orang menyaksikan besarnya cinta mereka. Tidak! Ini salah, cinta ini hanyalah muncul dari sebelah pihak, maka dia juga harus sanggup merasakan rasa sakitnya.


Hana terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum. "Maaf jika aku hanya menjadi benalu di hidupmu. Maaf jika aku sudah menghancurkan hubunganmu dengan Desi. Maaf juga bila aku sudah membuat kalian risih dengan keberadaan ku , tapi ini aku. Hana, aku tak bisa mundur, aku hanya punya Amel, anakku. Hidupku dan semesta ku, aku tak bisa mati jika aku punya Amel."


"Jadi maaf, Satria. Permintaanmu aku tunda dulu ya." lanjutnya dengan senyuman yang menghiasi.


Satria menjadi benci dengan senyuman itu, senyuman akan penuh luka.


"Sinting!" setelah itu, Satria memilih pergi meninggalkan Hana.


***


Dalam hidup Hana, dia sudah berjanji bahwa dirinya akan menikah sekali seumur hidupnya. Namun, apa pernikahan yang dia dapatkan saat ini? Pernikahan yang bahkan Hana rasa seolah dia tak pernah menjadi seorang istri, tak seperti yang dia bayangkan, itulah sebabnya Hana tak mau berharap lagi karena dia tak mau kecewa untuk kesekian kalinya.


"Hana!"


Hana yang sedang membersihkan halaman depan rumah terkejut saat mendengar teriakkan dari orang yang sangat dikenalinya.


"Fanny, aku rindu sekali dengan kamu."


"Aku pun juga sama merindukanmu." Fanny menangkup kedua pipi Hana, "Ya Ampun, Hana. Mana pipi tembem kesukaanku? Kenapa pipi dan tubuhmu menjadi kurus begini? Apa suami durhaka mu itu tidak memberikan kamu makan dengan baik?" tanya Fanny dengan dramatis, dia sengaja melirik kearah Satria dengan tajam yang sedang duduk di gazebo bersama Desi.


"Aah, tidak Fanny. Aku hanya diet saja."


Mendengar itu, sontak Fanny berdecak jengkel.


"Untuk apa diet sih? Kamu kan sudah cantik dan manis tanpa diet, tidak seperti si kurus itu yang sedang duduk, sepertinya suami durhaka mu itu buta." Hana meringis kecil, saat Fanny dengan terang-terangan menyindir Satria dan Desi.


"Ya ampun mataku rasanya akan katarak melihat adegan menjijikkan itu, heh, kau!"

__ADS_1


Satria menoleh dengan alis yang dinaikkannya. "Heum, aku?"


"Iya kau siapa lagi, dan juga kau kurus!" Desi terkejut saat dirinya dipanggil seperti itu oleh orang yang tidak dikenalinya.


"Berhenti melakukan itu, kau tau itu menjijikan membuatku mau muntah. Entah apa yang dilihat Satria dari wanita sepertimu, kurus begini, cantik juga tidak."


"Jaga ucapan mu, Fanny!" marah Satria saat Fanny sudah kelewatan.


"Upss.... Sorry." menutup mulutnya menggunakan tangan dengan main-main.


"Kau iri padaku ya? Kau saja kurus, berani sekali mengatai ku kurus." mendengar ucapan Desi barusan, sontak membuat


Fanny tertawa terbahak-bahak.


"Untuk apa iri pada pelacur.... Upss."


"FANNY!"


Hana segera menarik tangan Fanny, membawanya pergi sebelum Satria mengamuk dan melakukan hal kasar kepada sahabatnya.


"Ishh, Hana. Aku kan tidak bersalah, aku hanya sedikit kelepasan saja tadi."


Hana memijit dahinya yang tiba-tiba terserang pusing. "Terserahlah, aku lelah. Ohiya bagaimana kabarmu selama Jepang?"


"Ya begitulah, aku membangun usaha dan yahh. Kini aku mencoba untuk berlibur dan menemui mu disini, aku kaget saat tau fakta ini, aku juga marah padamu yang tetap diam saja, tapi aku lebih kecewa dengan suamimu yang sudah melukai kamu sedalam ini."


"Tidak apa-apa, Fanny. Aku baik-baik saja, aku sudah terbiasa dengan semuanya."


Menghela nafas, Fanny memegang kedua bahu Hana. "Tuhan gak minta kamu buat terus menjadi orang kuat, hancur sesekali itu wajar. Kita manusia yang punya batas kekuatan masing-masing, Tuhan tau kalau manusia itu selalu menganggap hal yang menurutnya benar ternyata tidak sepenuhnya benar menurut Tuhan. Omong kosong orang gak usah di ladenin, anggap saja angin lewat yang menabrak diri kamu untuk meneruskan pelajaran hidup yang masih butuh diri kamu berlanjut."

__ADS_1


Jangan lupa follow author ya.


__ADS_2