
"Yaampun, Kenan. Jangan lari-lari, sini pakai baju kamu dulu." Lucas berteriak sembari mengejar putranya yang terus berlari kesana-kemari, anak itu bahkan sudah naik atas kasur dan turun lagi. Mengelilingi sofa, naik keatas sofa dan berhenti didekat ranjang dan duduk dipinggir kasur.
"Pakai dulu bajunya, sayang. Nanti mama marah."
"Iihh, papa. Kenan tidak mau pakai baju." Kenan menolak stelan pakaian bergambar kepala singa berwarna kuning yang diberikan Lucas.
"Memangnya kenapa? Ini cocok untuk Kenan, anak papa yang ganteng dan menggemaskan ini."
"Kenan tidak suka, papa. Gambarnya jelek kayak alien, Kenan maunya baju yang gambar Spiderman biar keren kayak papa."
Lucas menepuk jidat mendengar celotehan cadel dari putranya, ini mungkin karena kemarin mereka bertiga menonton film Spiderman dan Kenan menganggap Spiderman itu keren sepertinya, dan sekarang anak itu ingin memakai baju Spiderman? Yaampun, ada-ada saja kelakuan ini.
"Yaampun, Hana kemana sih? Lama pergi sekali belanjanya." gumam frustasi Lucas, sambil mengusap kasar wajahnya.
"Papa, ihh!"
"Eh? Iya sayang, Kenan kan belum beli baju Spiderman nya. Jadi pakai baju ini dulu ya, nanti kita pergi beli bareng mama."
Kenan nampak berpikir sejenak lalu mengangguk membuat Lucas menghela nafas lega, dan segera memakai baju pada putranya itu.
Kini Lucas tengah sibuk memakaikan bedak di wajah Kenan yang tampak pasrah saja, "Nah. Kalau sudah wangi seperti ini, makin ganteng anak papa."
Lucas kembali sibuk menyisir rambut tebal Kenan dengan tatapan yang begitu serius, setelahnya senyum penuh kepuasan muncul diwajahnya.
"Makin ganteng kamu, makin mirip kayak papa deh sekarang."
"Sekarang kita kebawah ya, kita makan sandwich yang tadi mama buat." Lucas berdiri sembari menggendong Kenan.
"Ayo, kita berangkat!!"
__ADS_1
***
Hana memasuki apartemen bersama Helena yang dibelakangnya, mereka baru saja belanja bulanan. Biasanya yang pergi hanya Helena saja, tapi kali ini Hana ingin ikut sekalian membeli barang penting, dan Lucas ditugaskan untuk menjaga Kenan.
"Aku pula–huh? Yaampun anakku, Kenan!"
Hana berteriak kaget saat melihat Kenan Lucas yang tengah duduk anteng dikursi sofa dengan semangkok sereal, namun bukan itu yang membuatnya berteriak kaget. Kenan, wajah putranya dipenuhi dengan bedak sampai leher, bahkan kakinya pun juga terdapat bedak disana. Dan satu lagi, kenapa tatanan rambut Kenan bisa berdiri keatas tepat ditengah-tengah nya.
"Oh? Hai sayang." Lucas tersenyum dengan wajah tanpa dosanya.
Plak
"Aw, sayang kenapa aku di pukul sih? Aku sudah menjaga Kenan dengan baik dan benar, iya kan, Kenan?" anak itu hanya mengangguk kepalanya dengan cepat, mereka sudah melakukan perjanjian tadi kalau Lucas akan membelikan nya baju Spiderman dan Kenan harus menurut padanya.
"Baik dan benar matamu, lihat muka Kenan kenapa jadi ondel-ondel gitu? Yaampun kenapa rambutnya juga dibuat berdiri keatas gini sih? Seperti jamet dipinggir jalan saja." Hana ingin menangis saja rasanya melihat penampakan Kenan kini, sementara sang anak hanya cengar-cengir tidak jelas.
Kenan yang polos, kasian sekali dirimu nak.
***
Kini keluarga itu tengah berbaring dikamar, Hana menepuk-nepuk punggung Kenan dengan lembut, matanya fokus menatap televisi yang berada didalam kamar. Lucas ada disamping Kenan, tangannya juga ikut mengelus rambut Kenan lembut.
"Mama. Dedek bayi kapan adanya sih? Kenan udah bosan banget nunggunya." Lucas dan Hana terkekeh saat mendengar ucapan Kenan.
"Kenan tidak sabar ingin bermain dengan dedek bayi, ya?" Kenan mengangguk cepat dengan semangat.
"Iya, Kenan pengen punya adek bayi biar kayak kakak Adit."
Adit adalah anak kedua dari Fanny dan suaminya, sahabat terbaik Hana itu memiliki tiga anak. Yang terakhir berana Selin, umurnya baru enam bulan.
__ADS_1
"Nanti ya sayang, tunggu tiga bulan lagi, dedek bayi nanti bisa main bareng sama Kenan, Kenan harus jadi kakak yang baik untuk adek ya? Selalu menjaga adek."
"Siap papa! Kenan pasti jadi kakak yang baik untuk adek bayi seperti kakak Amel." Hana tersenyum mendengarnya, mengusap kening Kenan kemudian di ciumnya.
"Anak mama pintar banget, sekarang tidur ya." Kenan mengangguk, mencium pipi Lucas dan Hana bergantian lalu kembali masuk kedalam pelukan Hana.
Sekitar tiga puluh menit. Kenan sudah benar-benar tertidur. "Biar aku pindahkan kekamarnya."
"Hati-hati, awas nanti kebangun dia." Lucas mengangguk mengerti, mengangkat tubuh Kenan dan dibawanya kekamar sebelah, yaitu kamar pribadi milik Kenan.
Lucas kembali kekamar dan merebahkan tubuhnya diatas kasur, menarik tubuh Hana untuk dipeluknya, tangannya dia simpan diatas perut buncit Hana.
"Cepat lahir ya jagoan papa, kakakmu Kenan sudah tidak sabar ingin bertemu kamu." Hana tersenyum saat melihat Lucas yang terus-menerus mencium perutnya gemas, Hana sengaja menarik pakaian tidurnya sebatas dada agar perutnya terekspos.
"Lihat dia bergerak." seru Hana melihat ada gerakan diperutnya, kedua pasangan suami-isteri itu sontak tertawa pelan melihatnya.
"Ternyata dia juga tidak sabar ingin cepat-cepat keluar dari perut mama." tangan Lucas kembali mengelus perut buncit Hana lembut, bibirnya terus menyungging senyum lebarnya.
"Tidak terasa ya pernikahan kita mau berjalan empat tahun dan kamu kini tengah hamil anakku, meski Kenan bukan darah daging ku tapi aku menyayanginya seperti anak sendiri. Aku tidak akan membedakan siapapun, baik itu Amel, Kenan, dan bayi kita ini, mereka sama-sama anakku karena lahir di rahim istriku."
Hati Hana menghangat mendengarnya, dia sangat beruntung Tuhan memberinya laki-laki sebaik Lucas. Dia selalu memberikan kasih sayang dan cinta yang berlimpah membuat Hana selalu bahagia bersamanya.
"Aku mencintaimu." Hana mencium kening Lucas lembut penuh kasih sayang.
"Aku lebih mencintaimu, hari ini, esok dan seterusnya. Hanya untuk dirimu saja, selamanya akan dirimu. Cintaku, semesta ku, Hana ku."
Lucas ingin sekali berteriak pada dunia bahwa dia sangat amat mencintai Hana, mencintai wanita yang kini menjadi istrinya, pasangan sehidup semati nya.
Hana adalah semesta nya, sumber kebahagiaannya.
__ADS_1