Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
18


__ADS_3

"Aku kaget banget ternyata Hana istri dari klien mu, dia terlihat sehat ya sekarang. Terlihat lebih bahagia dengan suami dan anaknya." Satria hanya acuh tak mendengarkan ucapan Desi dan lebih menyibukkan pada tabletnya untuk melihat kondisi saham perusahaannya sekarang.


"Masih kamu mengejar, Hana?"


Satria terdiam, apa dia masih pantas? Tapi Hana tampak lebih bahagia bersama laki-laki lain kebanding dengannya.


"Kamu mau merebut kebahagiaan Hana lagi? Omong-omong soal Amel, bagaimana jika dia tau kalau kita ketemu Hana? Dia merindukan ibunya."


Amel? Anak itu memilih tinggal bersama ayah dan ibu Satria di Canada setelah dua bulan Hana pergi, Amel sempat bertengkar dengan Satria dan setelah itu pergi. Anaknya kini pergi dan rumah semakin sepi, dia selalu mengatakan bahwa dia sangat merindukan Hana, bahkan sempat Amel sakit saking rindunya pada Hana.


Bagaimanapun juga. Amel hanyalah anak labil yang terbawa arus pergaulan, Satria yakin bahwa Hana juga juga merindukan anaknya itu, tapi apakah itu benar? Hana terlihat bahagia dengan anak barunya itu.


"Lupakan Hana, Satria. Dia sudah bahagia dengan suaminya sekarang, kamu fokuslah dengan aku juga Amel."


Satria merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan Desi. "Hentikan omong kosong mu, dan tidurlah sekarang Desi." geram Satria menutup tabletnya dan pergi keluar kamar.


Desi menghela nafas kasar, "Aku menyayangi mu, Hana. Tapi aku juga iri karena Satria mulai mencintai kamu dan melupakan aku."


***


Ding... Dong...

__ADS_1


Hana yang berada di ruang tengah sembari menyusui Kenan pun segera berdiri dan memakai penutup dada, berjalan kedepan pintu untuk membukanya karena Helena sedang belanja ke supermarket sedangkan Lucas pergi ke kantor.


"Sia–Satria?" kaget Hana, dia hendak menutup kembali pintu namun Satria dengan segera menahannya menggunakan satu kakinya. Satria membuka pintu itu dengan lebar dan masuk kedalam membuat Hana memundurkan langkahnya kebelakang.


"Apa yang kamu lakukan? Lucas sedang berada dikantornya." ujar Hana nampak begitu gelisah.


"Aku merindukanmu, Hana."bukannya menjawab, Satria malah mengatakan rindu yang mana membuat Hana terkejut, gelisah dan takut. Takut jika rasa yang selalu dikubur dalam-dalam kembali tumbuh.


"Hana, aku mau bicara sama kamu."


Pada akhirnya Hana menyerah, dia mempersilahkan Satria duduk di sofa. Sedangkan dirinya berlalu kebelakang dapur untuk membuatkan minum, mau bagaimana pun Satria adalah tamu dirumahnya juga kolega bisnis Lucas.


"Bagaimana kabar kamu, Satria?"


"Baik, lebih baik saat sudah bertemu dengan kamu." Hana meremas bajunya saat Satria mengatakan kalimat itu, dia tak boleh kembali terpancing.


"Amel, dia bagaimana sekarang?" Satria terdiam beberapa detik lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya pada Hana, foto Amel.


"Tapi lagi ibu mengirim ku ini, Amel tinggal bersama ayah dan ibu di Canada setelah kamu pergi. Dia selalu menangis sampai sakit karena terlalu merindukanmu, ibunya."


Hati Hana tersayat mendengarnya, Hana tak pernah membenci Amel. Sebagai seorang ibu yang pernah mengandung dan melahirkan Amel, rasanya begitu berat jauh dari putrinya. Hana selalu merindukan putrinya itu, Amel.

__ADS_1


"Hana, bayimu sepertinya mirip dengan wajahku." celetuk Satria tiba-tiba membuat Hana terkejut.


"Apa maksud kamu, dia mirip Lucas dan aku. Kamu jangan mengada-ada."


"Wajah kita hampir mirip, Hana. Jika dipikir juga bayi ini berumur setahun lebih, Hana kamu hamil diluar nikah? Kamu baru menikah dengan Lucas tujuh bulan." Hana gelagapan mendengar ucapan Satria.


"Atau, itu anakku?"


"Apa maksud kamu? Jangan bicara omong kosong, pergi kamu dari sini." Hana berdiri dan menarik tangan Satria agar keluar dari rumahnya.


"Kenapa kamu kelihatannya sangat panik? Apa ucapan ku tadi benar adanya?" Satria menahan tangan Hana yang terus menariknya keluar.


"Hana, aku ingat malam itu. Aku sangat ingat, aku mungkin tengah mabuk saat itu tapi aku ingat kalau kamu yang menemaniku malam itu."


"Lalu apa hubungannya dengan aku? Sudah aku bilang pergi dari sini, dan jangan mengusik hidupku lagi, cukup sudah penderitaan ku yang kamu buat." Hana mendorong tubuh Satria agar keluar dari apartemen.


"Aku akan mencari taunya sendiri jika kamu tidak ingin memberitahu sebenarnya." setelah mengatakan itu, Satria pergi meninggalkan Hana yang sudah menangis.


"Mama."


"Kenan, hikss. Maafkan mama, nak."

__ADS_1


__ADS_2