
Hai Amel, ini mama. Gak banyak hal yang mau mama katakan saat ini, mama cuman mau bilang maaf dan terimakasih sama, Amel.
Terimakasih karena sudah menjadi anak yang hebat bagi mama, anak kuat yang selalu mama banggakan sejak dulu.
Dan maaf karena mama belum menjadi ibu yang baik untuk Amel, mama yang buruk untuk Amel. Mama payah karena tidak bisa membelikan apa yang Amel mau, maaf karena mama. Amel harus mendapatkan bully-an setiap saat di sekolah.
Amel tau? Selama sembilan bulan, mama menunggu Amel untuk segera datang dan melihat dunia. Lalu saat Amel sudah lahir, sakit bekas melahirkan itu rasanya sudah terbayar dengan suara tangisan Amel yang sangat nyaring, mama senang saat Amel selalu minta tidur ditemani sambil di nyanyikan, mama selalu senang melihat Amel senang.
Maaf ya mama ini pecundang, mama nyerah. Mama sudah sangat lelah, mama sayang Amel, sangat sayang bahkan lebih sayang Amel dari pada diri mama sendiri. Amel itu semesta mama, Amel bintangnya mama. Mama pasti bakal kangen sekali dengan Amel, nanti kita ketemu lagi ya.
Maaf kalau kadonya baru datang, mama selalu membuat kado buat Amel setiap tahunnya tapi karena hadiah mama murah dan jelek jadi mama pikir itu tidak pantas untuk Amel.
Amel harus menjadi anak yang sukses, sayang papa dan mama Desi ya. Mereka orangtua Amel, tidak usah pikirkan apapun. Jangan begadang dan belajar terlalu keras, kamu sudah pintar tanpa harus belajar dengan keras.
Amel anak mama yang baik, mama sayang Amel.
***
Satu tahun kemudian...
__ADS_1
Banyak hal yang berubah selama setahun ini, ada beberapa hal yang rasanya tidak sama lagi. Perlahan namun pasti satu persatu mulai merasakan hal yang sama, merasakan sebuah rasa kehilangan. Kesiapan, dan rindu. Satria pikir hidupnya akan berjalan seperti biasanya tapi nyatanya tidak. Perginya Hana membuat dia sadar bahwa ada yang kurang dalam hidupnya, Satria selalu menerka-nerka bahwa dirinya bisa hidup tanpa Hana, tapi apa? Sampai saat ini Hana selalu ada dalam bayangannya. Satria sadar bahwa dia mulai terbiasa dengan keberadaan Hana, namun sudah terlambat karena semua sudah berakhir.
Rumah itu terasa begitu dingin dan sepi, sarapan dan makan malam rasanya begitu hambar. Bahkan terkadang Satria memilih untuk makan di luar atau tidur dikantornya, entahlah dia selalu malas ke rumah, Satria merasa bahwa rumah yang sebenarnya telah hilang.
"Kamu mau kemana?" Satria menghentikan langkahnya saat Desi memanggilnya, istri satu-satunya itu berdiri dihadapan Satria dengan wajah yang di tekuk Dalat dilihat jelas bahwa dia marah.
"Aku tanya kamu mau kemana?"
"Tidak lihat? Aku mau berangkat ke kantor." balas Satria dengan tatapan yang terlihat begitu santai.
"Pulang jam berapa? Atau tidak pulang lagi? Satria kau berubah, setelah kepergian Hana. Kamu jadi sangat berubah, mana Satria yang sangat memanjakan ku, mana Satria yang mencintaiku, dimana? Kamu berubah, Satria."
Desi sadar akan perubahan Satria, dia tau bahwa Satria juga terkadang masih sering mencari keberadaan Hana beberapa bulan terakhir ini. Satria sering kali tidur di kantornya dan mengabaikannya, sungguh itu membuat hatinya begitu sakit dan merasa tidak di hargai.
"Kamu mencintainya kan, Satria?"
"Apa maksud kamu? Berhenti bicara omong kosong, Desi. Aku pamit kerja sekarang." Satria hendak pergi namun tangannya ditahan Desi.
"Jika aku mencintainya, kamu mau apa?" tanya Satria dengan suara rendah, Desi menggeleng kepalanya dan mulai menangis.
__ADS_1
"Jahat kamu! Kamu membohongi ku Satria. Kamu bilang kamu mencintaiku seorang tapi apa yang aku dengar tadi? Kamu dan Hana sudah bercerai, Satria! Sadarlah Satria, aku istri mu satu-satunya sekarang!"
"Lalu apa? Aku tidak pernah berjanji untuk tidak mencintai dia juga, kan? Aku akan mencarinya dan mengajaknya kembali bersamaku seperti dulu." Satria berbalik dan mulai melangkah pergi tanpa memperdulikan teriakan Desi yang memanggil namanya terus-menerus.
***
Satria memijat pangkal hidungnya saat mendapati ada masalah dalam perusahannya, salah satu karyawannya ada yang melakukan korupsi di perusahaannya. Uang yang hilang tidaklah sedikit, sekitar dua triliun. Satria benar-benar murka dan pusing dibuatnya.
"Bangsat, saya ingin kamu menemukan orang itu dan langsung di bunuh saja, seorang pencuri tidak pantas untuk hidup." ujarnya pada orang suruhannya ditelepon, kemudian langsung dimatikannya. Membanting kesal ponselnya keatas meja kerjanya.
Perusahaan yang dia bangun bertahun-tahun kini sedang di Landa masalah karena karyawan kantornya yang korupsi.
"Tuan ini permintaan kerja sama dari perusahaan L" sang sekretaris tiba-tiba masuk dan menyerahkan amplop putih pada Satria.
Satria meraih amplop itu dan akhirnya dia memutuskan kerja sama. Karena jika dia diam saja maka perusahaan ini akan segera bangkrut.
"Tolong pesankan tiket ke London untuk besok pagi." pinta Satria pada sekretarisnya. Kemudian laki-laki berusia 27 tahun itu langsung izin keluar dari ruangan Satria.
Satria membuka laci meja kerjanya, mengambil satu foto yang dia simpan disana. Mengusapnya lembut dengan tatapan nanar." Aku harus bagaimana? Aku terlambat menyadarinya, aku merindukanmu, Hana."
__ADS_1
"Aku terlambat ya? Aku terlalu bajingan untuk meminta kamu kembali padaku, sangat tidak tau diri sekali. Disaat aku sudah berkali-kali menyakiti kamu dan kini aku memohon agar kamu kembali, tuhan pasti tertawa mengejek ku saat ini."
Satria terkekeh, mengusap foto itu lembut dan mengecupnya setelahnya menyimpannya kembali.