
Satria terkejut bukan main, dia merasakan dunianya berhenti berputar. Rasa sakit tak kasat mata itu sangat menyesakan, tak pernah Satria berpikir bahwa Hana akan secepat itu mendapatkan kebahagiaannya. Laki-laki itu, Lucas nampak begitu sangat mencintai Hana. Terlihat jelas dari cara laki-laki itu menatap Hana, bagaimana Lucas memperlakukan Hana bak seorang ratu.
Harapan Satria putus sudah, Satria sadar bahwa dia terlalu serakah. Dulu dia terlalu bodoh karena mengabaikan Hana yang padahal begitu tulus mencintainya, Satria bodoh saat ini. Dan disaat dia mulai merasakan cinta itu kini orang yang mencintainya dulu telah mendapatkan laki-laki sempurna yang membalasnya dengan cinta yang lebih besar.
Hana nampak berbeda, tubuhnya jauh lebih berisi dengan rambut hitam panjangnya dulu yang sekarang sudah dipotong setengah punggung dibawah leher. Pipi Hana yang dulunya tirus kini mulai berisi, Hana terlihat jauh lebih sehat saat ini. Berbeda saat Hana masih bersama Satria dulu, kini Satria benar-benar kalah telak. Lucas laki-laki baik, dan juga sangat mencintai Hana sepenuh hati.
"Hana?"
Desi terkejut setengah mati saat melihat Hana yang kini berdiri di depannya. Ini sungguh, Hana? Matanya melirik Satria yang tidak lepas menatap Hana, rasa takut kehilangan kian mulai menyelimutinya.
"Kalian saling kenal?"
Hana hanya terdiam kaku menatap mata laki-laki yang telah coba dilupakannya selama ini, menikah dengan Lucas bukanlah hal mudah. Berkali-kali Lucas ditolak namun laki-laki itu tidak pernah menyerah, Hana mencoba membuka hatinya dan melupakan masa lalunya namun kini orang yang yang telah dia lupakan kini berdiri dihadapannya.
Permainan apa lagi yang tengah takdir buat? Tidak bisakah dia membiarkan Hana tenang?
__ADS_1
"Y-ya, teman lamaku semasa di indonesia." dalih Hana mencoba mengalihkan tatapannya dari Satria.
"Benarkah? Itu bagus sekali sayang. Kamu jadi punya teman sekarang di London, mari kita makan malam sambil membahas kerja sama kita. Hana, istriku baru saja masak." tangan Lucas tak pernah lepas menggenggam tangan Hana, dia begitu menjaga Hana. Satria kembali kalah.
Makan malam ini cukup canggung bagi Satria, Desi maupun Hana. Mereka terlihat sangat gugup. Hana tak banyak bicara, dia hanya menjawab ketika di tanya, begitu pula dengan Desi.
"Sudah berapa lama menikah, Hana?" tanya Desi tiba-tiba membuka suara.
Hana tertegun, dia melirik kearah Satria yang juga kini menatapnya. Dia sadar bahwa sedari tadi Satria selalu mencuri-curi pandang kepadanya.
"Tujuh bulan." Desi mengangguk saat Hana menjawab pertanyaannya, matanya melirik Satria yang tidak hentinya menatap Hana.
"Oh iya, aku–
"Permisi nyonya. Baby Kenan menangis, sudah saya kasih susu formula tapi tidak mau, jadi saya bawa ke sini." tiba-tiba Helena datang dengan membawa seorang bayi dalam gendongannya.
__ADS_1
Hana sontak berdiri dan menghampiri Helena dan mengambil alih anak laki-lakinya kedalam gendongannya.
"Kenan habis menangis ya? Kenapa hem?" Hana menimang-nimang anaknya, sesekali di ciumnya pipi gembul itu dengan gemas.
"I-itu siapa?" tanya Satria terbata-bata karena takut akan pikiran yang kini menyelimuti sepenuh di otaknya.
"Kenan, anakku dan Hana. Umurnya satu tahu lebih." Lucas mengelus rambut tipis putranya saat Hana sudah kembali duduk di sampingnya.
Satria benar-benar sudah kalah telak. Kebahagiaan, cinta, kasih sayang dan anak. Satria sudah kalah jauh dari Lucas.
"Maa, nen~" Kenan, anak itu merengek kecil sambil menarik-narik baju bagian dada yang di kenakan hana. Pertanda bahwa anak itu tengah haus.
"Sayang, aku pamit kekamar. Kenan sepertinya haus." Lucas mengangguk saat Hana pamit untuk pergi ke kamar mereka untuk menyusui Kenan.
"Anakmu sangat lucu."
__ADS_1
"Ya begitulah, aku bahkan hampir mati karena di rumah ini ada dua manusia yang sangat menggemaskan, istriku dan anakku."
Satria hanya tersenyum tipis mendengarnya, hatinya begitu sesak saat ini. Hana terlihat sangat bahagia dengan keluarga barunya, anak dan suaminya, mereka sangat mencintai Hana.