Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
5


__ADS_3

Berbulan-bulan sudah Hana lewatkan, perut Desi kini sudah mulai membuncit. Dan Satria yang semakin perhatian pada Desi, bahkan dulu saat Hana tengah mengandung Amel. Satria tidak pernah seperhatian itu padanya, membuat rasa iri dan cemburu kadang muncul dihatinya.


Bodohnya, memangnya dia siapa harus mendapatkan perhatian penuh Satria? Dia bukan Desi yang begitu sangat dicintai Satria.


Hana selalu mendapati keduanya yang sedang bermesraan dan itu selalu membuat dadanya berdenyut nyeri, sangat sakit rasanya. Satu atap dengan seorang istri yang suaminya cintai.


Hana terduduk memandangi wajah damai tidur Amel setelah menangis karena ingin pergi bersama Satria namun laki-laki itu menolak, tangan Hana terangkat untuk mengelus pucuk kepala Amel lembut.


"Maafkan mama ya, nak. Mama belum bisa menjadi seorang ibu yang baik untuk Amel. Kalau Amel sudah besar nanti, Amel harus menjadi orang yang sukses ya, mama akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu."


Tanpa sadar air matanya menetes jatuh, kenapa hidupnya begitu menyedihkan? Anaknya bahkan tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, sejak lahir hingga sekarang. Hana tidak masalah jika Satria membencinya, namun Hana tidak bisa jika Satria membenci anaknya.


***


Akhirnya sampai di tangga terakhir. Hana menghela nafas, menaruh alat pel nya kedalam baskom. Tangannya terangkat mengusap keringat yang bercucuran disekitar wajah dan lehernya, membersihkan rumah seorang diri memang sangat melelahkan.


"Hana." mendengar namanya dipanggil, sontak wanita itu menoleh keatas, dimana ada Desi yang tersenyum kearahnya.


Dengan senyum yang masih tercetak dibibirnya, Desi menuruni anak tangga dengan antusias. "Hana, tadi bayiku berge– arkhh!"


"Desi!"


Brak


"Desi, astaga!" Hana semakin dilanda panik, saat melihat darah yang bercucuran mengalir dari paha Desi.


"Kita harus kerumah sakit, sekarang." Hana mencoba membantu Desi bangun. Namun, selalu gagal karena tubuh Desi yang terus menggeliat merintih kesakitan.


"Sakit H-hana. A-aku sudah tidak kuat, ini s-sakit se- arghh."


"Kamu bisa, Desi. Aku akan membawa-


"DESI!"


Ucapan Hana terhenti saat suara teriakan menggelegar seisi rumah, Satria berjalan dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat sangat panik kala melihat tubuh Desi yang penuh darah, belum lagi mendengar rintihan kesakitan dari wanita dicintainya itu.


"Apa yang kau lakukan, sialan!" Satria menggeram dan tak pikir panjang langsung menendang perut Hana hingga tubuh itu bertabrakan dengan besi pegangan tangga.


Satria segara meraih tubuh lemah Desi dalam gendongannya, "Kumohon bertahanlah sebentar, aku akan membawamu kerumah sakit secepatnya." ucapnya lirih sebelum akhirnya berdiri.


Sebelum benar-benar pergi membawa Desi kerumah sakit, Satria menatap tajam Hana dan berkata. "Jika terjadi sesuatu pada Desi dan anakku, kau akan rasakan akibatnya." setelahnya, Satria benar-benar pergi meninggalkan Hana dengan segumpal rasa sakit hatinya dan rasa bersalahnya pada Desi.


Satria bahkan begitu khawatir kepada Desi, ya wajar saja. Karena Desi anak cintanya, selama tiga tahun menjalani pernikahan dengan Satria, tidak pernah sekalipun laki-laki itu menampilkan rasa kekhawatiran padanya. Bahkan Satria tidak pernah menanyakan bagaimana keadaannya, ya mungkin Hana salah karena sudah menjadi orang ketiga antara Satria dan Desi.

__ADS_1


Hana menunduk, menatap darah Desi yang berceceran dibawah lantai. Lalu segera di pel nya hingga bersih.


Pukul sebelas malam, Hana sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan Desi saat ini. Dia sangat khawatir pada wanita yang tengah hamil itu, walau Desi adalah istri kedua dari suaminya. Tapi Hana tau bahwa Desi adalah wanita yang begitu baik, dia bahkan sering curhat segala hal pada Hana, dia wanita yang begitu ceria. Hana seperti memiliki teman saat ada Desi disini.


Meski kadang Hana suka iri pada Desi karena dia adalah wanita satu-satunya untuk Satria cintai.


"HANA!"


Hana tersentak kaget saat mendengar teriakkan menggelegar itu, dia segera keluar dari kamar menuju ruang tamu yang dimana ada Satria yang berdiri dengan wajah datar yang begitu tajam dilayangkan padanya, membuat Hana bergetar ketakutan ditempatnya.


"S-satria." panggil Hana, namun tidak ada tanggapan apapun dari sang empunya.


"S-satria, bagaimana dengan keadaan Desi? Aku sangat khawatir–


Plak


Hana tersentak saat satu tamparan dia dapatkan dari Satria secara tiba-tiba, dia memegangi sebelah pipinya dengan bergetar.


"Berhenti sandiwaranya, sialan. Aku sudah muak melihatnya!"


Satria menarik kuat rambut Hana dengan kasar dan menyudutkannya ke tembok, dan mencekiknya membuat Hana kesulitan bernapas. Tangan wanita itu berusaha melepaskan cekikan Satria pada lehernya. Namun usahanya hanya sia-sia saja, karena yang ada Satria malah semakin menguatkan cekikannya.


"Karena mu, aku kehilangan anakku. Sialan!"


Hana membelalak matanya tidak percaya dengan ucapan Satria, "B-bukan. Bukan aku yang melakukannya."


Hana menggeleng kepalanya, menolak semua tuduhan Satria lontarkan padanya. Dia bukan pembunuh, Hana tidak sekejam itu membunuh anak yang tidak memiliki dosa dengan keji.


"Pembunuh! Mati saja kau, mati!" teriak Satria bersamaan dengan itu dia mendorong tubuh Hana hingga menabrak meja kaca telat di kepalanya membuat darah segar mengalir deras.


Satria mendorong tubuh Hana kebawah lantai, dan lagi menarik rambut wanita itu sambil terus menendang perut Hana tanpa henti.


"Papa!" Satria menghentikan aksi bejatnya, melirik kearah Amel yang berdiri diujung sofa.


"Papa kenapa pukul mama sampai berdarah seperti itu?" Amel kembali bersuara, dia menatap bingung kearah Hana yang sudah tidak berdaya.


"T-tidak, Amel kenapa disini? Ayok sayang kita kekamar, kamu tidur lagi ya." ucap Satria lembut, membawa Amel kekamar.


"Papa kenapa pukul mama? Mama nakal ya?"


"Amel masih kecil, belum mengerti urusan orang besar. Amel lanjut lagi tidur ya, papa temenin."


Amel hanya bisa mengangguk, walau dirinya masih bingung dengan kejadian yang baru saja dilihatnya tadi. Satria mengusap rambut Amel, matanya terpejam memikirkan keadaan Desi yang kini berada dirumah sakit. Juga Hana yang tadi ditinggalkannya diruang tamu dengan kondisi tubuh yang penuh luka.

__ADS_1


***


Hana terbangun dari tidurnya, ralat maksudnya dari pingsannya. Hana bahkan belum sempat mengobati lukanya, jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, dengan segera Hana pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan mengobati luka di sekujur tubuhnya.


Hana kembali terdiam saat mengingat kembali ucapan Satria semalam yang bilang bahwa Desi telah kehilangan anaknya, Desi pasti sangat terpukul. Apa Hana menjenguknya? Tapi, Satria mengijinkannya pergi?


Tapi, Hana tetap nekat pergi untuk melihat keadaan Desi bersama Amel yang juga ikut bersamanya, keduanya pergi menggunakan taxi. Tak peduli Satria nanti akan marah atau bahkan memukulnya.


"Mama Desi."


Amel berlari kecil kearah Desi yang tengah disuapi makan oleh Satria, dirinya cepat-cepat mengalihkan pandangannya saat Satria menatapnya tajam.


"Mama Desi sudah melahirkan dedek bayi? Perutnya kenapa jadi kempes gini?" Desi terdiam saat mendengar pertanyaan Amel lontarkan padanya, dirinya melirik kecil kearah Satria disampingnya.


"Amel sayang, dedek bayinya sudah diambil sama tuhan karena tuhan terlalu sayang sama dedek bayi."


Amel terdiam sejenak mendengar ucapan Satria, "Berarti tuhan gak sayang Amel dong? Soalnya Amel tidak diambil tuhan seperti dedek bayi."


"Bukan begitu maksudnya sayang, tuhan juga sayang sama Amel kok. Itu sebabnya Amel jadi anak yang pintar dan kuat. Karena tuhan sayang Amel." kini Desi menyahut kembali, dia mengelus rambut panjang Amel dengan sayang.


Setelahnya, Desi melirik Hana yang masih berdiri diambang pintu. "Hana, sini masuk."


Hana yang sedari tadi terdiam memandangi keluarga itu, kembali mulai tersadar.


"Satria keluar sebentar ya bawa Amel main, aku ada mau bicara sama Hana." Satria menghela nafas panjang, dia melirik sebentar pada Hana kemudian menggendong Amel.


"Aku keluar dulu." sebelum benar-benar pergi, Satria menyempatkan diri untuk mencium lama kening Desi sayang.


Hana dengan cepat memalingkan wajahnya, bibirnya tersenyum tipis. Dia belum pernah sekalipun diperlakukan seperti itu oleh Satria.


"Desi, maafkan aku." kini didalam ruangan itu hanya ada Hana dan Desi sekarang.


Desi menggeleng, "Ini bukan salah kamu, aku yang salah karena berlari dan tidak hati-hati, maafkan aku karena diriku kamu harus mendapatkan semua ini." tangan Desi terangkat untuk mengelus dahi Hana yang terdapat luka.


"Tidak apa-apa, aku pantas mendapatkan ini. Aku juga yang tidak becus menjagamu, padahal Satria sudah menitipkan kamu padaku, maafkan aku Desi." Hana menunduk penuh penyesalan.


"Dia pergi sebelum melihat dunia, tuhan begitu menyayanginya. Padahal kemarin aku baru saja berbahagia merasakan tendangannya dan kini dia hilang dan meninggalkan ku." Desi menundukkan kepalanya, air matanya kini mengalir deras berjatuhan.


"Aku mengerti pasti itu sangat menyakitkan, aku juga seorang ibu. Kau boleh mengeluarkan keluh kesah mu padaku, aku akan selalu mendengarnya." Hana mengelus bahu Desi lembut, memberikan sedikit kekuatan.


"Terimakasih Hana, bahkan saat aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mu. Kau tetap baik padaku, tuhan membuatmu dari apa? Kenapa kamu baik sekali?" Desi menatap Hana dengan senyum yang mengukir dibibirnya.


"Tidak ada orang baik di dunia ini, jika pun ada itu bukan baik tapi dia orang yang sabar."

__ADS_1


"Aku iri padamu, Hana. Kau begitu kuat dengan semua masalah dan luka yang kau dapatkan, kau bahkan menerimanya dan tidak pernah menyerah, jika aku menjadi dirimu mungkin sudah lama aku bunuh diri." Hana hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya.


Tanpa keduanya sadari, bahwa sedari tadi ada seseorang yang mendengar semua pembicaraan keduanya.


__ADS_2