Bukan Aku Pilihannya

Bukan Aku Pilihannya
3


__ADS_3

Sebuah kisah epilog tanpa prolog, kisah yang tak pernah dimulai namun sudah berakhir tanpa kata selesai. Pikiranmu salahkah? Seseorang yang kau kira mencintaimu ternyata perasaannya hanyalah sebuah sekedar perasaan nyaman, tidak lebih.


Tak banyak yang bisa dikatakan saat ini, tidak ada senyuman yang menghiasi. Tidak ada binar indah dimata, hanya ada sebuah tatapan sendu penuh luka yang saat ini Hana perlihatkan.


Didepan sana dia melihat dengan jelas bagaimana suaminya mengatakan janji suci bersama dengan orang yang dicintainya. Bahkan dulu saat Satria menikah dengannya tidak ada senyuman selebar itu, tidak ada tatapan memuja seperti Satria menatap Desi.


Hana bisa melihat seberapa besarnya cinta Satria kepada Desi. Hana iri, dia ingin menjadi seperti Desi, dia juga ingin merasakan pelukan hangat dari Satria. Dia ingin melihat Satria tersenyum tulus padanya tanpa ada paksaan. Hana ingin melihat bagaimana Satria mengatakan cinta kepadanya, sebagaimana Satria lakukan untuk Desi.


Tapi dia Hana, bukan Desi yang dicintai Satria. Dia adalah Hana yang dibenci Satria.


Ini begitu lucu, didepan sana Hana melihat suaminya menikah dan disini Hana duduk bersama kedua orang tua dari suaminya juga Amel yang berada diatas pangkuan kakeknya.


Lucu sekali, ya?


Hana menunduk menatap genggaman tangannya yang dipegang erat oleh ibu mertuanya, kemudian melirik sang mertua yang melayangkan tatapan penuh bersalah padanya.

__ADS_1


"Maafkan ibu, nak. Maafkan ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa, maafkan juga Satria." Hana tau dan mengerti, bagaimana mertuanya yang terlihat begitu merasa bersalah, dia tau. Bahwa semua keputusan ini ada pada Satria dan Hana hanya bisa menerimanya saja.


Dengan hati yang terluka.


"Ibu tidak bersalah, tidak usah meminta maaf seperti itu. Ini sudah jalannya Tuhan berikan." dirinya tersenyum meski kini hatinya tengah menjerit, menangis meneriakinya untuk menyerah kepada dunia.


"Ibu sayang kamu." dan senyum Hana semakin melebar mendengar ucapan sayang mertuanya lontarkan padanya.


"Hana lebih sayang sama ibu, Hana terimakasih karena sudah menjadi ibu kedua untuk aku."


"Papa!" Satria menoleh saat sang putri berteriak memanggilnya, berjalan mendekatinya bersama Desi disampingnya dengan dituntun Hana. Satria hanya melirik Hana yang tertunduk, enggan menatapnya.


"Papa sudah menikahnya?" pertanyaan polos Amel dibalas anggukan kepala Satria, tanpa memperdulikan Hana yang merasakan dadanya yang terasa sakit.


"Yeayy, berarti sekarang Amel punya dua mama dong?" ucapan polos Amel yang tak mengerti apapun, terus berputar ditelinganya tanpa henti.

__ADS_1


"Iya sayang, ini mama Desi yang sekarang udah jadi mama kamu." Desi yang disamping Satria langsung tersenyum saat suaminya itu memperkenalkan dirinya pada Amel.


"Halo, Amel sayang."


"Halo juga mama!"


Desi terkekeh geli dan mencubit pipi tembem Amel gemas. "Ihh, kamu lucu banget bikin mama gemas." si anak hanya tertawa lucu karena mendapatkan perlakuan seperti itu.


Berbeda dengan Hana yang terdiam menatap anak bersama suami dan istri keduanya, Sejenak Hana terdiam. Apakah nantinya dia dilupakan? Lalu, jika itu terjadi dia harus apa? Amel adalah penyebab dirinya masih hidup di dunia ini.


Hana tersentak saat Desi menjulurkan tangannya didepannya, "Senang bisa bertemu denganmu, Hana." ucap Desi dengan senyum manis tercetak dibibirnya.


Desi sangat cantik, pantas saja Satria begitu mengangumi nya.


"Y-ya, senang bertemu dengan mu juga. Selamat atas pernikahannya."

__ADS_1


Seorang istri yang mengatakan kata selamat kepada istri kedua dari suaminya, ini sangat menyakitkan.


__ADS_2