
Sejak malam hingga subuh dua pria yang masih berada di sebuah club tampak tak berdaya. Duduk bersandar dengan beberapa botol minuman yang sudah kosong. Mereka adalah Bagas dan Krisna yang sama-sama tak biasa meminum alkohol terpaksa harus mabuk meski belum begitu banyak minum. Ada perasaan lega di hati Bagas kala melihat ketidak berdayaan Krisna di depannya semalam hingga pria itu pun akhirnya mau ikut minum.
Sementara di hotel, kedua orangtuanya nampak cemas mendengar anak mereka yang tidak biasa minum kini masih berada di club kota kecil itu. Bagas benar-benar merubah pendiriannya demi sang istri yang ia yakini masih hidup.
"Kalian anak yang pintar. Doakan usaha papah lancar semua yah cucu oma..." ujar Irma mengusap wajah kedua cucunya yang tidur lelap sejak malam.
Fia dan Cia mungkin saja mengerti usaha sang papah yang memperjuangkan mamah mereka hingga keduanya tak ingin menyusahkan oma dan opanya.
Hingga pagi itu akhirnya Iwan mendapatkan telepon dari anak buahnya jika semua identitas dari istri Krisna Mahendra tak bisa mereka dapatkan. Dila begitu di lindungi oleh sang suami. Mendengar laporan dari anak buahnya, Iwan menghela napas kasar. Wajah pria paruh baya itu nampak tak bersemangat. Bagaimana caranya ia menyampaikan kabar ini pada Bagas, melihat bagaimana usaha Bagas sejak malam tentu sangat mengecewakan baginya.
"Ada apa, Pah?" pelan Irma mendekati sang suami. Di lihatnya wajah suaminya lesu hilang semangat.
"Tidak ada yang bisa mendapatkan kabar Feli, Mah. Istri Krisna itu sangat di lindungi datanya oleh suaminya. Entah bagaimana pikiran Bagas mendengar kabar ini." jawabnya pada sang istri.
Akhirnya orang yang mereka bicarakan pun pagi itu kembali ke hotel dengan di papah beberapa anak buah Iwan. Bagas merasakan pusing yang luar biasa. Ia tak sadarkan diri ketika sampai di atas kasur. Melihat tingkah sang anak Irma sedih. Tak sekali pun anaknya itu mau untuk merasakan minuman haram itu. Namun kali ini demi wanita yang ia yakini adalah istrinya, apa pun Bagas mau lakukan.
Sedangkan di rumah milik Krisna, untuk pertama kalinya Dila melihat sang suami pulang pagi dengan keadaan yang begitu mencemaskan.
"Astaga, ada apa ini? Kenapa dengan suami saya?" tanya Dila menatap dua pria yang tak lain adalah anak buah Iwan.
Mereka mengantarkan Krisna dan Bagas pulang setelah mendapatkan perintah dari sang bos. Dila meminta bantuan untuk mengantarkan ke kamar mereka.
"Maaf Bu, Pak Krisna kebanyakan minum alkohol dengan Tuan Bagas." jawab mereka.
__ADS_1
Mendengar itu tentu saja Dila kesal, meski tak sepenuhnya ia mencintai sang suami tentu saja sebagai istri ia tak suka jika suaminya pulang dalam keadaan mabuk seperti ini.
"Sejak awal memang pria itu aneh. Dan sekarang malah bawa dampak buruk ke suamiku." gerutunya melihat Krisna yang terlelap di atas tempat tidur.
Perasaan kesal semakin ia rasakan pada sosok Bagas. Tanpa ia tahu jika semua itu Bagas lakukan demi dirinya. Dila merawat sang suami dengan baik. Ia meminta bantuan asisten untuk melucuti pakaian suami dan menyeka tubuhnya. Salah satu pelayan laki-laki di rumah itu yang membantu Dila membersihkan tubuh sang suami bagian inti. Dan hal itu tentu saja membuat beberapa pelayan nampak bingung melihatnya. Bukankah mereka adalah suami istri? Lalu mengapa Dila harus meminta bantuan orang lain untuk menyentuh sang suami.
Krisna dan Bagas terus mulai memuntahkan isi perutnya beberapa kali. Keduanya tak ada yang bisa tidur tenang ketika hari sudah menjelang siang. Bagas yang begitu menyedihkan ketika dirinya di rawat oleh sang ibu. Sedangkan Krisna begitu beruntung ia di rawat oleh sang istri.
"Feli...Feli, aku merindukanmu." gumaman Bagas nampak membuat Irma berkaca-kaca melihat sang anak.
Di saat yang bersamaan kedua anaknya justru menangis. "Bagas, lihat anak-anakmu. Mereka sedih papahnya seperti ini." tutur Irma.
Pelayan yang ia panggil pun dengan sigap membantu merawat Bagas. Sebab Irma tahu jika sang anak tidak suka kedua putrinya di rawat orang lain maka Irma yang berinisiatif merawat sang cucu.
"Mamah, bagaimana hasilnya? Di mana Papah?" Belum saja Bagas mendapatkan jawaban dari sang mamah kini pria itu sudah berlari ke kamar mandi kembali membersihkan mulut yang memuntahkan sisa makanan di perutnya.
Irma sampai geleng-geleng kepala melihat keadaan sang anak. "Gas...kamu menyiksa tubuh kamu sendiri. Apa harus dengan cara seperti itu?" tanyanya kala sang anak keluar kamar mandi dengan tubuh yang lemas sekali rasanya.
"Demi istriku, mah. Apa pun akan aku lakukan." ujarnya.
Irma pun terdiam sejenak mendengar ucapan anaknya. Sungguh ia tak bisa bicara apa pun saat membayangkan jika Bagas tahu hasil temuan sang papah yang tak ada sama sekali tentang istri Krisna itu.
"Papahmu masih ada urusan di luar. Nanti kita dengar tunggu dia pulang ke hotel bagaimana hasilnya." jawab Irma memilih bungkam di hadapan sang anak.
__ADS_1
Mendengar hal itu tentu saja Bagas mengangguk pasrah, ia pun menghampiri kedua anaknya. Berusaha kuat demi kedua putri cantiknya ini. Bagas berharap banyak jika Feli secepatnya akan segera kembali.
"Mamah kalian sudah Papah temukan. Kita akan bawa Mamah kembali...Tapi, kenapa mamah kalian bersama pria itu?" lirih Bagas berucap di akhir kalimatnya.
Irma mendekati sang anak sembari menggendong satu cucunya. "Di dunia ini ada beberapa orang yang memang begitu sangat mirip, jangan terlalu berharap banyak, Gas. Bahkan tak ada satu pun orang yang selamat dalam insiden kapal itu. Pikirkan tentang anak-anakmu. Mereka butuh papahnya kuat."
Bagas hanya diam mendengar ucapan sang mamah tanpa berniat menjawab. Ia dalam hati terus bertekad jika Dila adalah istrinya. Dan mungkin Dila sedang ingin memberikan kejutan padanya dan juga sang anak atau ada hal lain yang Bagas tidak ketahui.
***
"Ayo di makan dulu, aku suapin." Dila menyodorkan sendok bubur ke mulut sang suami.
Krisna bahkan sampai tak bisa bangun dari tidurnya. Ia benar-benar lemas lantaran terus muntah. Seharian Dila mengurus sang suami dengan begitu sabar dan perhatian.
"Dil, kepalaku sakit sekali. Aku tidak bisa makan rasanya benar-benar tak enak." ujar Krisna memohon untuk tidak di paksa makan.
"Baiklah, kalau begitu aku pijat saja kepalanya yah?" tutur Dila memberikan tawaran dan Krisna pun setuju.
"Sejak bertemu pertama kali aku sudah merasa aneh dengan Pak Bagas itu. Buktinya benar kan, baru satu malam kalian bertemu dia sudah membuat suamiku seperti ini. Lain kali tidak usah lagi bertemu pria itu. Dia membawa dampak buruk." ujar Dila yang tak mendapatkan sahutan apa pun dari Krisna.
Saat ini ia hanya ingin menikmati pijatan tanpa berbicara apa pun. Sebab terlalu pusing rasanya jika ia melakukan sesuatu.
Pria itu berbaring di pangkuan sang istri, ia memejamkan mata menikmati pijatan lembut tangan Dila. Sungguh nyaman rasanya hingga tak sadar mata Krisna terasa kian berat dan akhirnya ia terpejam kembali. Cukup lama Dila memijat kepalanya.
__ADS_1