Bukan Duda

Bukan Duda
Kegelisahan Bagas


__ADS_3

Waktu yang terus berjalan tak terasa kini sudah menginjak satu minggu kebersamaan Feli dan Bagas. Sebagai seorang istri yang baik Feli merasa tak keberatan untuk melayani semua kebutuhan sang suami termasuk menyiapkan pakaian kantor.  Bagas begitu merasa tenang bisa bekerja tanpa memikirkan kedua anaknya lagi. Meski pun ia tetap membawa Cia dan Fia ke kantor, namun di siang hari Feli akan datang ke kantor menjaga mereka dengan bantuan Bagas. Seperti sebelumnya Feli yang masih kurang paham menghadapi kedua anaknya terus belajar dengan memperhatikan sang suami yang sabar menjaga anak-anaknya.


Pagi ini Bagas berangkat ke kantor bersama baby siter yang membantu menjaga sementara di ruangan kerjanya.


"Sayang, kamu ke dokter di antar Mamah dan Ibu yah? Aku tunggu di kantor secepatnya. Jangan kemana-mana setelah dari rumah sakit." tutur Bagas mengecup kening Feli di depan rumah.


Feli memang sedang menjalani therapi di rumah sakit untuk memulihkan daya ingatnya lebih cepat. Bagas yang harus kembali fokus bekerja terpaksa meminta bantuan dua wanita berhati malaikat itu untuk menjaga sang istri. Ia tak akan memberi izin lagi pada sang istri pergi seorang diri.


"Iya, aku akan segera ke kantor setelah therapi. Ya sudah kami berangkat duluan yah?" Feli mencium punggung tangan sang suami seperti yang Bagas perintahkan sebelum-sebelumnya.


Meski pun sang istri belum bisa mengingat apa pun, ia tak ingin kehilangan moment pernikahan mereka. Bagas meminta Feli melakukan apa yang seorang istri lakukan biasa pada suaminya. Keduanya pun berangkat dengan kendaraan yang berbeda. Hingga saat tiba di kantor, seperti biasa baby siter yang ia bawa akan mulai sibuk mengatasi kelincahan Fia dan Cia yang memberontak ingin turun dari stroller. Usia mereka yang satu tahun lebih tentu saja menginjak masa lincah-lincahnya ingin kesana kembari mengunjungi semua yang ia lihat sangat menarik.


"Cia, Fia, jangan nakal seperti itu, Nak." ujar Bagas menghampiri kedua anaknya yang menangis.

__ADS_1


Mereka berdua benar-benar keras kepala jika tak di turuti keinginannya. Namun, Bagas sebagai sang ayah yang tahu cara membuat mereka diam tak ingin serta merta menuruti permintaan sang anak.


"Bawa mereka ke ruangan segera," pintah Bagas.


Kedua anak kembar itu langsung menaiki lift menuju ruang kerja Bagas. Jika di ruangan itu mereka tak akan lagi menangis sebab berbagai permainan sudah sang papah siapkan untuknya.


Berbeda halnya dengan keadaan di rumah sakit. Feli yang nampak berbicara semua hal yang ia rasakan pada dokter membuat wanita berjas putih itu mengangguk paham. Terkadang bahkan Feli mengeluhkan sakit di kepala saat sedang berbicara.


"Apa sakit itu mulai lebih sering terasa?" tanya sang dokter lagi.


"Baik, saya tidak akan memberikan obat. Sebab itu hanya respon dari daya ingat yang berangsung kembali. Hanya saja saya menyarankan untuk pergi ke sini. Di tempat ini ada berbagai macam aroma yang di jual dan ini termasuk produk herbal. Mungkin sedikit lebih merilekskan pikiran." Feli pun menerima sebuah resep yang di berikan sang dokter.


Selesai dengan urusan dokter, Feli langsung memberi tahu kedua wanita yang mendampinginya untuk membeli barang yang dokter katakan barusan. Mereka pun menuju ke alamat yang Feli sebutkan dan segera membeli aroma therapi khusus untuk Feli.

__ADS_1


"Sekarang kita langsung ke perusahaan yah? Suami kamu pasti akan cemas kalau kita lambat sampainya." ujar Laras memperingati sang anak dan Feli pun patuh pada ibunya.


Di detik berikutnya tanpa mereka duga jika Bagas justru sudah menelponnya.


"Mah, dimana? Kok belum sampai juga? Apa Feli baik-baik saja?" pertanyaan cemas dari pria tampan itu sontak membuat ketiga wanita yang berada di jalan saat ini tersenyum geleng-geleng kepala.


Baru saja mereka menyebut nama Bagas, ternyata sang pemilik nama justru sudah menghubunginya.


"Ini lagi di jalan. Kamu kok bucin sekali sih, Gas?" tanya Irma mengejek sang anak.


Feli yang mendengar ucapan mama mertua mendadak malu ia menundukkan kepala saja tanpa berkata apa pun.


"Suami kamu benar-benar cinta mati sama kamu, Fel. Kamu pergi aja dia setia nunggu kamu sambil jaga Cia dan Fia. Ibu benar-benar senang anak ibu beruntung memiliki suami seperti Bagas." bisik Laras pada sang anak.

__ADS_1


"Sudah yah, nanti ngobrolnya kalau mau tanya-tanya Feli. Ngomong sama orangnya langsung. Jangan tanya ke mamah." Irma pun sontak mengakhiri panggilan telepon itu tanpa menunggu sang anak menjawab iya atau tidak.


Bagas yang gelisah di ruang kerjanya pun bisa kembali tenang saat mendengar ucapan sang mamah yang mengatakan jika mereka sudah hampir sampai di kantor.


__ADS_2