Bukan Duda

Bukan Duda
Ucapan Terimakasih


__ADS_3

Dua anak kecil yang sudah tak suka lagi duduk di pangkuan nampak gusar. Fia dan Cia mulai meminta untuk di turunkan ke lantai. Usia satu tahun membuat mereka sangat suka melangkah dengan memegang dinding rumah atau memegang tangan sang nenek. Keadaan yang sedang tegang membuat mereka terpaksa harus memanggil pelayan dari rumah untuk datang ke sana menemani dua cucunya bermain. Bahkan Bagas pun sudah tak bisa lagi mengajak bermain sang anak. Pikirannya sudah benar-benar kacau saat ini. Ia terus beberapa kali memperhatikan jam di tangannya.


Di depan sana Iwan sedang berbicara banyak hal bersama teman semasa remaja itu. Digo memanglah teman dekat Iwan dan itu sebabnya urusan Krisna begitu mudah untuk Bagas hadapi.


"Gas, kendalikan emosimu. Seperti yang kamu katakan, Feli mengalami hilang ingatan. Mamah rasa keadaan kepalanya pasti tidak baik-baik saja hingga saat ini meski pun itu kejadiannya sudah lama." tutur Irma yang mendekati sang anak memberikan pengertian.


Bagas mengangguk tanpa bisa berkata apa pun lagi. Ia paham akan kekhawatiran sang mamah. Terlebih melihat bagaimana anaknya sejak tadi hanya diam menahan amarah. Jelas Irma tidak ingin Bagas sampai lepas kendali.


"Iya, Mah. Mamah tenang saja." tuturnya mengiyakan.


Hingga tak berselang lama suara seseorang dari arah luar nampak masuk ke ruangan milik Digo yng luas itu.


"Mohon ijin komandan. Komandan Krisna sudah datang di depan bersama Ibu Dila." jawabnya memberi tahu.


"Bawa mereka menghadap ke sini" pintah Digo tegas.


Jelas ia sangat marah pada Krisna. Selain merugikan keluarga sahabatnya, Krisna juga sudah mencoreng nama baik kantor mereka. Di mana seharusnya mereka yang menjadi anggota mensejahterakan masyarakan justru Krisna berbuat hal yang di luar nalar. Menikahi istri orang lain di saat ia lupa ingatan bahkan sampai memalsukan data sang istri. Sama saja jika Krisna telah mempermainkan lembaga mereka.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian akhirnya pintu di buka dari luar.


"Mohon ijin komandan, anda memanggil saya?" Krisna datang menggandeng tangan Dila kemudian di saat yang bersamaan Dila melepas tangan sang suami.


Tentu saja hal itu menjadi pusat perhatian seluruh keluarga yang ada di ruangan tersebut. Tak terkecuali oleh Bagas, sang suami. Tatapan pria itu menjadi sendu melihat sang istri yang berbeda menatap nya. Jika dulu Feli selalu menatap Bagas penuh cinta, kini tatapan itu berubah menjadi tatapan asing yang begitu sulit di artikan oleh Bagas sendiri.


Plak!! Sebuah tamparan keras seketika melayang di wajah Krisna. Hal itu sangat mengejutkan semuanya termasuk Dila. Ia sampai tersentak kaget tak kuasa melihat pria yang selama ini baik padanya justru di sakiti seperti itu.


Namun, sebagai istri perwira ia tak bisa melakukan apa pun. Digo adalah atasan yang harus di patuhi oleh sang suami. Bahkan hukuman apa pun harus bisa Krisna hadapi tanpa bisa membela dirinya.


"Kamu sudah mencoreng seragam kamu, Krisna!" marah Digo kembali menampar wajah Krisna.


Melihat kemarahan di wajah Digo, Iwan bisa paham bagaimana lingkungan mereka. Namun, sekali lagi di sini ada anggota keluarganya yang tak pantas melihat itu semu. Pada akhirnya ia pun meminta Digo menghentikan hukumannya.


Yah, hanya seorang sahabat yang bisa seenaknya seperti Iwan pasti. Digo pun langsung meminta Krisna duduk berhadapan dengan semua anggota keluarga Dila.


"Feli...ini ibu, Sayang. Apa kamu lupa dengan ibu dan ayah? Lihat ayahmu sudah sembuh. Dia tidak pakai kursi roda lagi, Nak." tutur Laras mendekati Dila dan memeluknya. Wanita paruh baya itu menangis sedih tak menyangka anaknya masih hidup selama satu tahun tak ia lihat.

__ADS_1


"Ayah sudah sembuh. Kamu dulu sangat ingin ayah sembuh dan berjalan agar bisa main bersama Fia dan Cia. Apa kamu lupa itu, Feli?" kini Dimas pun ikut angkat suara. Ia turut memeluk tubuh sang anak.


Namun, Dila hanya bisa membalas pelukan itu dengan wajah datar. Ingatan yang belum pulih membuatnya tak merasakan apa pun saat ini. Pandangannya sedari tadi hanya fokus menatap Bagas yang tak bicara apa pun padanya. Entah apa yang membuat pria itu hanya diam. Yang jelas Feli menangkap kedua mata Bagas nampak berkaca-kaca.


"Maaf, aku masih belum mengingatnya." ujar Feli pelan.


Hal itu membuat semuanya sangat sedih. Tak lama suara Bagas pun terdengar.


"Gendonglah anak-anakmu, Feli. Mereka begitu rindu denganmu." tuturnya yang membuat Feli patuh.


Segera ia berdiri meraih kedua anaknya bergantian. Melihat hal itu Krisna menjatuhkan air mata putus asa. Kini ia sadar tak ada yang bisa di dapatkan dengan bahagia ketika menempuhnya pun dengan cara yang salah. Sekali pun itu sebuah pernikahan tidak akan ada artinya jika memulai dengan cara yang salah. Ia berpikir selama ini pernikahan yang sudah ia lakukan tentu akan sangat kuat jika sewaktu-waktu Feli ingin kembali pada keluarganya. Sayang, semua itu hanya hayalan. Surat pernikahan mereka pun di nyatakan tidak sah oleh kantor ketika mengetahui jika data diri Feli tidak sah.


Bahkan saat ini ada anak yang sudah mengikat Feli lebih kuat dengan pernikahan pertamanya dengan Bagas.


"Pak, tolong jangan sakiti dia. Dia sudah begitu baik dengan saya dan menyelamatkan saya. Tolong jangan beri hukuman apa pun yang menyakitinya. Jika bukan dia, saya bisa tidak bernyawa dan tidak bisa melihat anak saya sebesar ini." Feli menggendong anaknya mendekati sosok Krisna.


"Aku berterimakasih denganmu begitu besar. Jasamu untuk nyawaku sangat berarti. Meski di akhir aku benar-benar kecewa sebab sebuah kebenaran kau tutupi dariku. Tak masalah, aku tidak akan marah. Sekarang aku sudah memaafkanmu maka hiduplah dengan baik, biarkan aku tenang bersama keluargaku." Setelah mengatakan itu air mata Krisna tiba-tiba jatuh.

__ADS_1


Ia benar-benar tak sanggup lagi berkata apa pun pada Feli. Sedangkan Bagas sedari tadi terus saja diam memperhatikan apa yang sang istri lakukan.


"Terimakasih sudah menjagaku demi suamiku. Meski saat ini aku masih belum mengingat apa pun. Tapi aku yakin mereka lah sesungguhnya rumahku kembali."


__ADS_2