
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah hari pertama bagi Bagas untuk meninggalkan ibu kota demi sebuah pekerjaan. Usahanya selama ini memantau dari jauh sebuah bangunan mall yang ia dirikan di sebuah kota kecil akhirnya telah selesai dan saatnya untuk meresmikan acara pembukaan.
Langkah lebar kedua kakinya kala melangkah turun dari mobil begitu menghipnotis banyak pasang mata. Mendorong dua stroller tak mengurangi kadar ketampanannya sama sekali. Bagas begitu banyak mendapatkan sambutan dari beberapa kolega bisnis. Ia hanya bisa mengangguk sebagai tanda terimakasih. Kedua anaknya begitu pintar hanya duduk di stroller tampak sangat menggemaskan.
"Titip Fia dan Cia yah, Mah." ujar Bagas pada sang mamah.
Irma ia bawa khusus hari ini sebab ia tidak mungkin menaikkan kedua anaknya di depan podium untuk menemani dirinya mengatakan kata sambutan sebagai pemilik tunggal mall tersebut.
"Terimakasih atas kehadirannya semua dan terimakasih untuk semua kerja sama rekan-rekan dengan perusahaan. Saya sebagai pemilik tunggal mall ini mengharapkan kerja sama dari kita semua untuk terus memajukan bisnis ini yang bertujuan memudahkan semua masyarakat mencari kebutuhan di sini. Meski sebenarnya kota ini begitu jauh dari pantauan saya tapi tidak masalah. Sebab ini semua saya usahakan atas keinginan mendiang istri saya. Saya sangat tahu dia begitu bermimpi untuk memiliki sebuah mall yang berisikan segala perlengkapan rumah tangga dengan kualitas baik dan harga yang terjangkau. Impiannya adalah untuk membangun istana istri, dan saya sudah mewujudkan impiannya meski pun hari ini dia sudah tidak ada di sini. Tapi besar harapan saya semua ini masih dapat ia lihat..." Begitu banyak ucapan yang Bagas katakan jauh dari kata sambutan peresmian.
Hari ini entah mengapa ia begitu ingin mengungkapkan seluruh isi hatinya untuk sang istri yang sudah tak ada lagi di dunia ini. Ia ingin seluruh dunia tahu jika sampai saat ini sosok Feli masih begitu kuat memiliki hati pria dua anak ini.
Beberapa orang bahkan sampai menjatuhkan air mata melihat bagaimana rapuhnya Bagas ketika kehilangan sang istri tercinta.
Berbagai kata-kata yang terucap begitu saja akhirnya selesai. Bagas mendapat beberapa bunga dari para tamu undangan. Rasanya begitu lega jika hari ini ia lalui dengan baik. Setidaknya hal yang sudah ia persiapkan untuk masa depan sang anak kini sudah terlaksana dengan baik.
Riuh tepukan tangan terdengar sangat ramai saat Bagas turun dari podium. Ia tampak datar tak ada ekspresi apa pun. Di pikirannya saat ini hanyalah sosok mendiang istri yang sangat ia harapkan bisa hadir memberikan sebuah bunga untuk ucapan selamat.
Satu persatu ia lihat dengan tatapan nanar. "Seharusnya kamu ada di sini, Feli. Seharusnya orang yang memberikan bunga terindah untukku adalah kamu, Sayang." gumam Bagas dalam hatinya sebelum tubuhnya bergerak hendak turun.
__ADS_1
"Selamat atas peresmian mall ini, Pak. Maaf saya terlambat." suara yang begitu mengejutkan bagi Bagas saat suara lembut itu menyapa indera pendengarannya.
Segera Bagas memutar tubuh dan melihat siapa sosok wanita itu. Saat yang bersamaan ia melihat wajah cantik tersenyum lebar. Bagas menegang, tubuhnya membeku sekejap. Matanya bahkan berkaca-kaca.
"Feli..." tuturnya lirih hendak mendekat.
Sebuah name tag yang bertuliskan Ny. Dila Mahesa sontak saja membuat Bagas mengerutkan kening heran. Tak lupa ia memperhatikan pakaian berwarna pink serta sosok pria yang datang menyusul mengulurkan tangan. Pakaian penuh dengan lambang yang entah Bagas sendiri tidak tahu apa saja arti lambang tersebut.
"Pak Bagas selamat atas peresmian mall ini. Perkenalkan ini Dila istri saya." tuturnya dengan wajah tersenyum lebar.
"Mungkin kita belum saling mengenal. Namun, saya di sini sebagai pemegang kota bunga ini berharap jika bangunan yang Pak Bagas buka akan sangat bermanfaat bagi seluruh warga di kota kecil kami ini, Pak." tutur Krisna masih tak paham dengan wajah sedih bingung yang sudah bercampur di wajah Bagas.
Lirih Bagas menggelengkan kepala. Matanya begitu kesulitan menahan air mata saat ini. Sumpah demi apa pun Bagas ingin sekali memeluk wanita di depannya ini. Meski dengan tampilan yang begitu beda tapi Bagas sangat yakin jika wanita ini adalah Feli.
Di samping podium mata Irma tampak berkaca-kaca bahkan tak banyak juga orang yang membicarakan kejadian di depan sana.
"Bagas, kamu tidak boleh gegabah, Nak. Ayo tenangkan pikiranmu..." ujar Irma memohon dalam hati.
Jangan sampai sang anak bertindak konyol dengan ribut di depan umum yang bisa merusak citranya sebagai pengusaha sukses dan terhormat. Setidaknya hal itu tak membuat Dila ketakutan dengan sosok Bagas. Ternyata benar, setelah cukup lama Bagas diam mematung kini pria itu akhirnya berbicara dengan Krisna dan Dila.
__ADS_1
"Oh terimakasih Pak Krisna atas kehadirannya." kedua mata Bagas melihat name tag di baju Krisna. Untuk saat ini Bagas harus bisa memakai otak untuk melakukan apa pun.
"Boleh saya meminta nomor ponsel anda jika mungkin ke depannya saya akan membutuhkan anda, Pak Krisna untuk undangan makan malam dan lain sebagainya sebagai tanda terimakasih atas kehadiran anda hari ini?" tutur Bagas basa basi.
Tanpa berpikir sedikit pun Krisna langsung dengan sigap memberikan nomor ponselnya. Sementara Dila tak lagi mau menatap wajah Bagas. Ia begitu merasa tidak nyaman sebab Bagas menatapnya begitu dalam dan itu tentu saja sangat mengganggu.
"Sayang, ayo." ajak Krisna menggandeng tangan Dila saat Bagas mempersilahkan pria itu untuk duduk.
Bagas pun akhirnya juga turut turun dari podium dengan membawa semua bunga di tangannya dan ia berikan pada staf pelaksana acara untuk di simpan di beberapa tempat khusus untuk bunga. Hari itu acara berlangsung sangat meriah namun Bagas justru semakin rapuh.
Ia melangkah turun dengan kedua kaki yang terasa lemas. Bayangan akan kata sayang yang Krisna sematkan pada istrinya sungguh membuat Bagas sangat sakit. Kedatangannya di sambut cepat oleh papah dan mamahnya. Irma memeluk tubuh sang anak mengusap bahu Bagas dengan lembut. Bahkan wanita paruh baya itu turut menjatuhkan air mata saat menyaksikan bagaimana Dila bergandengan tangan meninggalkan Bagas ke kursi bersama sang suami lengkap dengan pakaian kantor Krisna dan istrinya.
"Sabar, Nak. Kamu kuat untuk saat ini saja. Jangan perlihatkan semuanya, kita harus cari tahu dulu." bisik Irma memeluk kian erat tubuh sang anak.
Bagas hanya bisa mengangguk lalu melihat kedua anaknya yang tersenyum padanya. Sejenak ia berjongkok menatap anak-anaknya. "Harapan papah benar terkabul, Fia, Cia. Mamah kalian benar-benar datang. Tapi apa yang terjadi hari ini? Papah benar-benar tidak mengerti." curhat Bagas pada sang anak yang tidak tahu sebenarnya terjadi.
Beberapa orang memandang Dila dengan tatapan aneh, untuk pertama kalinya Dila tampil di depan umum dengan pakaian pink seperti ini. Wanita cantik itu tertunduk malu. Krisna yang duduk di sampingnya pun mengerutkan dahi heran.
"Sayang, ada apa?" tanyanya pada sang istri.
__ADS_1
Dila menoleh dan mengatakan, "Aku malu. Semua orang menatapku aneh. Apa aku boleh pulang duluan saja?" Ia begitu merasa tak nyaman mendapatkan tatapan seperti itu.
Krisna pun menggeser kursinya lebih dekat dengan sang istri. Kemudian ia menggenggam tangan Dila yang ia bawa ke atas pahanya. "Kamu istri perwira, harus bersikap tegas dan berani. Kita tidak sopan jika pulang duluan sebelum semua selesai. Tadi kita datangnya terlambat." bisik Krisna memberikan pengertian pada sang istri. Berharap Dila akan mudah beradaptasi dengan kedudukan suaminya saat ini yang sangat menjaga kehormatan mereka.