
Bergegas keluar dari halaman rumah Krisna, Bagas langsung mengerahkan semua anak buahnya untuk berpencar mencari keberadaan Dila dan Krisna. Kini perasaannya mulai merasa tak tenang. Feli sudah semakin jauh darinya. Bagas bahkan sampai beberapa kali menggaruk kasar kepalanya.
“Kemana dia membawa istriku? Kemana!” Hanya bisa menjerit dalam hati. Sungguh saat ini Bagas benar-benar merasa lemas. Dirinya begitu tak berdaya lagi. Menjadi seorang ayah dari dua anak membuatnya sulit bergerak.
Ia tak bisa percaya pada siapa pun untuk menjaga anaknya. Bahkan pada mertua dan orangtua sendiri Bagas masih berat menyerahkan anaknya. Rasa takut kehilangan kedua kali membuatnya tak ingin mengambil resiko. Sudah cukup ia merasakan sakitnya kehilangan Feli.
“Kamu tenang dulu. Ingat kita harus bisa berpikir saat ini. Ibu juga merasa ada sesuatu kali ini.” Irma pun turut menyuarakan isi hatinya.
Keadaan yang begitu cepat dari pergerakan suami Dila justru menimbulkan kecurigaan di hati mereka.
“Aku semakin yakin, Mah Feli adalah Dila. Sekarang bahkan Feli di bawa pergi menjauh entah kemana dengan pria itu. Ini tidak bisa di biarkan.” ujar Bagas resah saat itu.
Segera ia pun membawa mobil kembali menuju hotel. Bagas buru-buru membawa kedua anaknya bersama sang mamah. Kemudian pria itu menghubungi beberapa orang yang ia percaya kali ini bisa membantunya.
__ADS_1
Tidak hanya satu, lebih dari lima orang-orang yang ia kenal dengan baik memiliki kemampuan ahli dalam IT di panggil segera datang ke kota tersebut. Tak ada lagi waktu untuk Bagas mengulur waktunya.
Sedangakan di sebuah pulau kecil, di sinilah saat ini Dila dan Krisna tiba. Keduanya turun dari satu buah helikopter. Pemandangan indah yang pertama kali Dila lihat sungguh memanjakan matanya. Ia berbinar bahagia.
“Kau suka?” tanya Krisna tersenyum.
Ia melihat sang istri yang menganggukkan kepala senang. “Aku sangat suka ini. Kita akan tinggal di sini?” tanyanya pada sang suami.
Bagas mengangguk. “Sementara kita di sini untuk mengawasi tempat ini. Apa kau tidak masalah?” tanyanya lagi dan Dila hanya tersenyum tanpa protes.
“Semoga tempat ini aman untukmu, Dila. Maafkan aku. Aku tidak rela melepaskanmu saat ini.” gumam Krisna menatap nanar wanita yang tengah berjalan menikmati angin kencang di tepi pantai itu.
Tanpa ia tahu jika di sini Dila mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Entah kilatan apa yang ada di pikirannya saat ini. Air laut dan sebuah teriakan-teriakan begitu mengganggu pikirannya.
__ADS_1
“Air laut…kepalaku sakit. Aduh kenapa ribut sekali.” Dila terus mengerjapkan mata kesakitan di bagian kepala. Ia tidak tahu apa yang terjadi.
Beberapa kali wanita itu menjambak rambutnya yang terasa sakit seperti ingin pecah.
“Sakit!” Ia berteriak lagi.
Tubuhnya yang merasa tak kuat akhirnya ia jatuhkan di pasir pantai itu. Dila berteriak semakin kencang kesakitan hingga Krisna yang baru mendengar pun segera berlari.
“Dila!” Teriaknya meraih tubuh sang istri. Di pangkuannya Dila terus menggeliat kesakitan bagian kepala.
Segera Krisna membawa sang istri masuk ke dalam rumah dengan menggendongnya berlari cepat.
Kini ia sadar jika sakit di kepala sang istri tentu adalah efek dari hilang ingatan yang mulai bermunculan kembali.
__ADS_1
“Tidak. Aku tidak mau ini semua terjadi. Aku sangat mencintai Dila. Dila adalah istriku. Dia Nyonya Dila Mahesa.” Krisna menggelengkan kepala seolah menolak semua yang akan terjadi pada kemungkinan terburuknya.